- Kementerian Lingkungan Hidup sedang menyiapkan regulasi pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik untuk mengantisipasi potensi pencemaran lingkungan di masa depan.
- Menteri Jumhur Hidayat menyampaikan persiapan regulasi ini dilakukan di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026 sebagai langkah antisipasi.
- Pemerintah berupaya mengintegrasikan sistem pengelolaan limbah yang memadai serta memanfaatkan teknologi guna menekan emisi selama transisi energi berlangsung.
Suara.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mulai menyiapkan regulasi pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik sebagai langkah antisipasi meningkatnya penggunaan mobil listrik di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan aturan tersebut disiapkan agar limbah baterai kendaraan listrik tidak menimbulkan persoalan lingkungan ketika jumlah kendaraan listrik terus bertambah.
"Sekarang ini kita sedang mempersiapkan juga peraturan tentang bagaimana mengelola, karena ini kan baru akan kelihatan mungkin dua tiga tahun ke depan, soal waste dari baterai dan barang yang lain-lain. Nah ini sekarang kita persiapkan," kata Jumhur dalam diskusi di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Menurut Jumhur, pemerintah menyadari transisi dari energi fosil menuju kendaraan listrik harus dibarengi dengan sistem pengelolaan limbah yang memadai agar manfaat pengurangan emisi tidak memunculkan persoalan baru di kemudian hari.
Ia menjelaskan perkembangan teknologi juga membuka peluang agar baterai kendaraan listrik dapat dimanfaatkan kembali sebelum menjadi limbah.
"Sekarang ada yang mengatakan juga baterai itu bisa di-reuse, dengan teknologi tertentu akan jadi 80 persen, 90 persen.
"Tapi apapun yang ketika jadi waste, kita akan siapkan. No worry lah, itu akan ada jalan keluarnya," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Jumhur menyebut transisi energi tidak hanya dilakukan melalui peralihan dari bahan bakar fosil ke energi baru, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi yang mampu menekan emisi.
"Mengganti energi fosil, transisi energi itu satu hal. Tapi kalau ada teknologi yang bisa memastikan bahwa emisi itu bisa habis atau sangat ekstrem berkurang, maka itu juga harus kita apresiasi. Jadi, energi transisi melalui teknologi," ucapnya.