- Masyarakat memilih mobil bekas di bawah Rp100 juta untuk menjaga stabilitas finansial rumah tangga.
- Daihatsu Xenia generasi pertama dan kedua menjadi pilihan utama karena biaya perawatan murah serta durabilitas mesin bandel.
- Konsumen dapat memilih alternatif lain seperti Datsun Go+, Suzuki Ertiga, atau Toyota Calya sesuai kebutuhan dan anggaran.
Suara.com - Mencari mobil keluarga dengan dana terbatas sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan muda atau pekerja.
Di tengah tingginya biaya hidup, memiliki kendaraan yang mampu menampung banyak penumpang namun tetap ekonomis adalah sebuah keharusan.
Fenomena berburu mobil bekas di bawah harga 100 juta rupiah pun kian populer karena dianggap sebagai titik tengah antara kenyamanan mobilitas dan stabilitas finansial rumah tangga.
Anggaran ini menjadi primadona bagi mereka yang ingin beralih dari roda dua ke roda empat tanpa harus terjebak cicilan panjang yang memberatkan.
Salah satu pilihan yang paling sering muncul di radar pencarian adalah Daihatsu Xenia, yang sudah lama menyandang predikat mobil sejuta umat.
Kendaraan ini dianggap sangat ideal bagi pemula yang baru pertama kali ingin memelihara mobil.
Begini kata pengguna

Dalam sebuah ulasan di Denkus Channel, seorang pengguna, Om Rizki yang telah menggunakan unit ini selama sembilan tahun memberikan testimoni jujur mengenai alasan mengapa mobil ini sangat layak dipilih.
"Gua rasa untuk pemula-pemula ya yang mau beli mobil gitu... budgetnya di angka segitu yang tadi sebutin 70-80 ini worth it banget sih worth it banget yang pertama low maintenance," ungkap Om Rizki.
Ia menekankan bahwa biaya perawatan yang murah dan durabilitas mesin yang bandel adalah kunci utama kenyamanan memelihara Xenia dalam jangka panjang.
Xenia under Rp100 juta dapat unit tahun berapa?

Lantas, dengan budget di bawah 100 juta, tahun berapa saja yang bisa Anda dapatkan?
Berdasarkan data pasar saat ini, Anda bisa membidik unit dari dua generasi awal. Untuk generasi pertama yang diproduksi antara tahun 2004 hingga 2011, harganya sudah sangat terjangkau mulai dari kisaran 45 juta hingga 95 juta rupiah.
Sementara itu, untuk generasi kedua awal tahun 2011 hingga 2015, Anda masih bisa menemukan varian seperti Xenia 1.0 D, 1.0 M, hingga 1.3 X dengan taksiran harga di kisaran 70 juta hingga 98 juta rupiah.
Bahkan, beberapa unit varian 1.3 X tahun 2016-2017 masih bisa ditemukan dengan harga mepet di angka 100 juta rupiah tergantung pada kondisi fisiknya.

Secara spesifikasi, Xenia di kelas harga ini menawarkan pilihan mesin yang efisien.
Generasi pertama varian Mi dan Li menggunakan mesin 1.000 cc 3-silinder dengan tenaga 56-57 PS, sementara tipe Xi menggunakan mesin 1.300 cc yang lebih bertenaga.
Fitur pada tipe Xi sudah cukup lengkap untuk masanya, mencakup power steering, power windows, velg alloy, hingga sensor parkir.
Om Rizki juga mencatat bahwa meskipun mesinnya hanya 1.000 cc, torsi yang dihasilkan cukup besar untuk tarikan bawah, sehingga sangat enak digunakan untuk kondisi stop and go atau melibas tanjakan.
Salah satu keunggulan teknis lainnya adalah penggunaan penggerak roda belakang (RWD) yang membuat kaki-kaki depan terasa lebih awet karena tidak memikul beban penggerak mesin.
Alternatif mobil 7 seater dengan harga serupa
![Ilustrasi Suzuki Ertiga dan Nissan Grand Livina. [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/10/84897-suzuki-ertiga-dan-nissan-grand-livina.jpg)
Jika Anda masih ingin melihat opsi lain di segmen mobil 7 penumpang dengan budget serupa, ada beberapa alternatif menarik yang patut dipertimbangkan.
Anda bisa melirik Datsun Go+ Panca tahun 2015 yang dibanderol di kisaran 50 hingga 60 juta rupiah.
Selain itu, Nissan Grand Livina tahun 2012 atau Suzuki Ertiga tahun 2015 juga tersedia dengan taksiran harga mulai dari 75 juta hingga 115 juta rupiah.
Bagi yang menginginkan tahun lebih muda, Toyota Calya keluaran 2016 dengan mesin 1.200 cc yang sangat irit bensin bisa dipinang dengan harga berkisar antara 75 juta hingga 110 juta rupiah.
Pilihan-pilihan ini memberikan fleksibilitas bagi Anda untuk menyesuaikan antara kebutuhan fitur, tahun produksi, dan tentu saja ketersediaan dana cadangan untuk perawatan awal setelah pembelian.