- Manajemen Volkswagen menghadapi pemungutan suara restrukturisasi pada 4 September akibat krisis internal perusahaan.
- Volkswagen berencana menutup empat pabrik di Jerman serta memangkas total 100 ribu tenaga kerja global.
- Saham Volkswagen resmi didepak dari indeks bergengsi Euro Stoxx 50 dan digantikan oleh Nokia.
Suara.com - Krisis internal Volkswagen (VW) semakin panas dan berpotensi berubah menjadi pertarungan besar di ruang rapat.
Manajemen VW dilaporkan akan menghadapi pemungutan suara krusial pada 4 September terkait rencana restrukturisasi.
Jika kembali gagal, pertarungan bisa langsung dibawa ke pemegang saham dalam rapat umum luar biasa.
Menurut laporan Carscoops, kabar buruk lain menimpa VW: saham perusahaan ini resmi didepak dari Euro Stoxx 50, indeks saham paling bergengsi di kawasan euro. Posisi VW digantikan oleh Nokia mulai 21 September.
Dengan begitu, hanya BMW, Mercedes-Benz, dan Ferrari yang tersisa sebagai wakil industri otomotif di indeks tersebut.
VW sebelumnya sudah mengumumkan rencana menutup empat pabrik besar di Jerman dalam dekade mendatang.
Pabrik Emden dan Zwickau diproyeksikan tutup pada 2031, Hanover pada 2032, dan fasilitas Audi Neckarsulm pada 2034.
Keempat pabrik itu saat ini mempekerjakan puluhan ribu orang. Namun, menutup pabrik bukan perkara mudah.
Rencana tersebut sempat ditolak dalam rapat dewan pengawas pada Juli lalu, terutama oleh 10 perwakilan karyawan dan pemerintah negara bagian Lower Saxony yang memiliki 20 persen hak suara di VW.
Selain ancaman penutupan pabrik, VW juga menghadapi isu pemangkasan tenaga kerja besar-besaran. CEO Oliver Blume dilaporkan mengatakan kepada karyawan pada Agustus bahwa 25 ribu posisi di Jerman harus dihapus, ditambah 25 ribu di luar negeri.
Jika digabung dengan rencana sebelumnya, total pemangkasan bisa mencapai 100 ribu karyawan di seluruh grup VW, Audi, dan Porsche.
Manajemen VW juga ingin menyesuaikan kapasitas produksi tahunan dari 12 juta unit menjadi 9 juta unit, sesuai dengan realisasi produksi saat ini. Selain itu, jumlah varian model akan dikurangi.

Langkah ini dianggap perlu karena VW menghadapi tekanan dari berbagai arah:
- Pelemahan pasar China yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan.
- Persaingan ketat dari produsen China yang masuk ke pasar Eropa dengan harga lebih agresif.
- Tarif impor dari Amerika Serikat yang menekan daya saing produk VW di pasar global.
Dikeluarkannya VW dari Euro Stoxx 50 memang bukan masalah terbesar, karena Stellantis juga pernah mengalami hal serupa tahun lalu. Namun, secara simbolis, hal ini menjadi pukulan telak bagi reputasi VW.
Saham VW memang terus melemah akibat kombinasi masalah restrukturisasi, transisi ke kendaraan listrik, dan kompetisi brutal dari produsen China.
Kehilangan status di indeks bergengsi menambah tekanan psikologis bagi investor dan karyawan.
Krisis VW mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri otomotif Jerman secara keseluruhan.
Biaya energi tinggi, transisi ke kendaraan listrik yang lambat, serta persaingan global yang semakin ketat membuat perusahaan-perusahaan besar harus mengambil langkah ekstrem.
Jika VW benar-benar menutup pabrik dan memangkas 100 ribu pekerja, dampaknya tidak hanya pada perusahaan, tetapi juga pada ekonomi Jerman yang selama ini bergantung pada sektor otomotif sebagai salah satu penopang utama.