SUARAPURWOKERTO. ID, BANYUMAS-Di tengah gempuran modernitas, kesenian Kuda Lumping (Ebeg)bukannya punah atau terpinggirkan. Kesenian itu malah berkembang dan tetap diminati masyarakat, bahkan generasi muda.
Ebeg memang punya daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Ebeg memadukan unsur seni dengan magis sehingga menarik untuk disaksikan. Di antara bagian atraksi seni yang paling ditunggu penonton adalah jantur alias "mendem".
Saat sesi itu dimulai, penari Ebeg tidak sadarkan diri. Ia kehilangan kendali seperti orang kesurupan.
Apa yang ada di hadapannya dimakan. Terkadang barang yang dimakan bukan yang biasa dimakan manusia, bahkan terbilang ekstrem, seperti pecahan kaca (beling).
Ebeg identik dengan jantur. Makanya kesenian ini sering disebut Janturan.
Jantur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ilmu sulap, ilmu sihir. Praktiknya memang Janturan bisa membuat orang tersihir seperti menyaksikan atraksi sulap.
“Ebeg harus ada mendeme (jantur). Kalau tidak ada, namanya hanya tarian,”kata Ketua Paguyuban Ebeg Purbalingga Pekubeling Teguh
Menurutnya, jantur bukannya tanpa makna. Dalam pertunjukan Ebeg, jantur tidak berdiri sendiri, namun terkait dengan atraksi lainnya. Sebelum penari ‘kesurupan’, ada beberapa tarian yang diperagakan.
Setiap tarian dengan iringan tembang Jawa menyiratkan makna yang dalam. Beberapa tarian menggambarkan kekuasaan, serta kehidupan raja yang gemerlap dan pencitraan yang sempurna.
Jantur adalah simbol penguasa yang lupa diri. Sehingga muncul sifat kebinatangan yang rakus memakan hasil bumi rakyat.
Karenanya tak heran, penari Ebeg biasanya kesurupan binatang seperti Kera yang memakan apapun di hadapannya.
Penguasa yang lupa harus diingatkan agar kembali ke jalan yang benar. Makanya muncul kemudian pawang khusus yang bertugas mengembalikan kesadaran penari sehingga kembali normal.
Penguasa itu lantas sadar atas perbuatan zalimnya kepada rakyat hingga kembali menjadi pemimpin yang baik.
"Setelah penguasa kalap, semuanya dimakan. Lalu dia disadarkan," katanya