Panjat Tebing Bisa Jadi Tambang Medali Indonesia di Olimpiade

Syaiful Rachman

Sabtu, 07 Agustus 2021 | 16:41 WIB
Panjat Tebing Bisa Jadi Tambang Medali Indonesia di Olimpiade
Atlet panjat tebing Indonesia Kiromal Katibin (kiri) dan rekannya Veddriq Leonardo (kanan) melakukan selebrasi setelah mencatat waktu tercepat dalam kejuaraan Piala Dunia Panjat Tebing 2021, di Salt Lake City, Utah, Ametika Serikat, Jumat (28/5/2021). [ANTARA FOTO/ Reuters-Jeffrey Swinger-USA TODAY Sports]

Suara.com - Ada dua nama orang Indonesia yang tercatat di laman resmi Olimpiade sebagai pemegang rekor dunia, yaitu Eko Yuli Irawan dan Veddriq Leonardo.

Eko Yuli Irawan adalah lifter kebanggaan Indonesia yang mempersembahkan medali perak dari angkat besi pada Olimpiade Tokyo 2020.

Selain menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mengoleksi empat medali dari empat Olimpiade, Eko juga menggenggam rekor dunia clean & jerk yang hingga Tokyo 2020 pun belum terpecahkan.

 Lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan. (Dok: Kemenpora)
Lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan. (Dok: Kemenpora)

Eko memegang rekor dunia angkatan clean and jerk kelas 61kg putra pada 174 kg yang dia ciptakan dalam kejuaraan dunia angkat besi di Ashgabat, Turkmenistan, pada 3 November 2018.

Sedangkan Veddriq Leonardo adalah pemegang rekor dunia nomor speed panjat tebing yang baru dimainkan dalam Olimpiade pada Olimpiade Tokyo ini. Rekor dunia Veddriq adalah 5,20 detik.

Sayang, tak ada satu pun wakil Indonesia, termasuk Veddriq, yang lolos Olimpiade Tokyo, lebih karena panjat tebing di Tokyo 2020 hanya melombakan satu nomor yang merupakan gabungan tiga disiplin panjat tebing, termasuk speed yang rekor dunianya dipegang Veddriq.

Hanya dua medali emas panjat tebing yang diperebutkan di Tokyo, masing-masing satu putra dan satu putri.

Padahal kalau tiga disiplin itu dimainkan terpisah, cerita Indonesia dalam Olimpiade Tokyo bisa lain, mendapatkan medali dari selain angkat besi dan bulu tangkis.

Pada kejuaraan dunia panjat tebing 2021 di Salt Lake City, Amerika Serikat, Veddriq dan atlet Indonesia lainnya, Kiromal Katibin, bergantian mencetak rekor dunia.

baca juga
Atlit panjat tebing Indonesia Kiromal Katibin (kiri) dan rekannya Veddriq Leonardo (kanan) melakukan selebrasi setelah mencatat waktu tercepat dalam  kejuaraan Piala Dunia Panjat Tebing 2021, di  Salt Lake City, Utah, Ametika Serikat, Jumat (28/5/2021). [ANTARA FOTO/ Reuters-Jeffrey Swinger-USA TODAY Sports]
Atlit panjat tebing Indonesia Kiromal Katibin (kiri) dan rekannya Veddriq Leonardo (kanan) melakukan selebrasi setelah mencatat waktu tercepat dalam kejuaraan Piala Dunia Panjat Tebing 2021, di Salt Lake City, Utah, Ametika Serikat, Jumat (28/5/2021). [ANTARA FOTO/ Reuters-Jeffrey Swinger-USA TODAY Sports]

Waktu 5,208 detik yang digenggam Veddriq adalah pemecahan rekor yang sebelumnya diciptakan Kiromal pada babak kualifikasi kejuaraan dunia itu, yakni 5,258.

Indonesia kurang beruntung di Tokyo 2020 karena nomor spesialisasi Veddriq dan Kiromal tak dipertandingkan terpisah. Tapi bisa berbalik beruntung pada Olimpiade Paris 2024 ketika tiga disiplin panjat tebing dilombakan terpisah.

Jika Veddriq, Kiromal, dan atlet panjat tebing lainnya, konsisten dalam level terbaik selama tiga tahun ke depan, Indonesia bisa mendapatkan ladang baru medali selain bulu tangkis dan angkat besi.

Jeli melihat potensi

Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid bahkan optimistis Indonesia merebut medali emas Olimpiade Paris 2024 dari panjat tebing.

"Indonesia diakui, dihormati, dan dianggap lawan yang berat di mata dunia untuk kategori speed," kata Yenny dalam keterangan pers belum lama ini.

Yenny sendiri sudah ancang-ancang membawa atlet-atlet panjat tebing Indonesia mencapai level tertinggi di Paris dengan bersiap matang selama tiga tahun ke depan.

Seorang siswa sekolah panjat tebing merah putih menjalani sesi kelas panjat tebing di Tebing Batu Templek, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2020). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi]
Seorang siswa sekolah panjat tebing merah putih menjalani sesi kelas panjat tebing di Tebing Batu Templek, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2020). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi]

FPTI sudah menyusun langkah strategis, termasuk membina secara intensif bakat-bakat muda panjat tebing yang diyakini bisa berbuat banyak di Paris 2024.

Salah satunya Rahmad Adi Mulyono yang baru berusia 19 tahun dan bersinar dalam IFSC Connected Speed Knockout pada 2 Agustus 2020. Juga ada Desak Made Rita Kusuma Dewi. Dan banyak lagi.

FPTI sedang menyiapkan lini dua dan lini tiga sehingga ketika Olimpiade 2024 tiba, Indonesia tak kekurangan stok atlet yang bisa mempersembahkan yang terbaik dalam kompetisi level tertinggi.

Mereka bahkan mulai dipantau sejak kejuaraan junior dari usia 13 sampai 15 tahun. Yenny berjanji melihat semua potensi itu dengan jeli.

Semoga saja begitu. Namun yang tengah diupayakan Yenny itu adalah yang juga dilakukan negara-negara yang berjaya dalam Olimpiade.

Pembinaan sejak dini dan dukungan ekstensif semua kalangan, tak semata organisasi pengelola cabang olahraga, adalah kunci sukses atlet di tingkat dunia, termasuk Olimpiade.

Contohnya perenang-perenang Australia, terutama putri. Mereka lahir dari pantauan sejak dini, lalu masuk sistem kompetisi yang ketat untuk kemudian intensif mengikuti turnamen-turnamen. Semua pihak terlibat atau dilibatkan, sampai perenang-perenang itu merajai kolam renang Olimpiade.

Kaum perempuan Australia bahkan aktif mendorong anak-anak mereka berenang guna mencapai level tertinggi sampai Olimpiade, sementara pemerintah pada berbagai tingkatan aktif memfasilitasi keluarga-keluarga Australia yang 12 persen di antaranya memiliki kolam renang itu. Seluruh anak Australia diajari renang sejak dini karena renang sudah merupakan filosofi negara benua yang juga menyadari diri sebagai negara maritim itu.

Pun dengan Jamaika. Negeri yang jauh lebih miskin dibandingkan Indonesia ini lebih realistis lagi dengan hanya fokus mengejar medali nomor-nomor yang sangat mereka kuasai, khususnya lari jarak pendek.

Jamaika juga melakukannya sejak dini. Mereka bahkan memiliki kejuaraan tingkat SMA yang bergengsi dan sudah berdiri sejak 1910 untuk menghasilkan para raja dan ratu sprint dunia seperti Marlene Ottey, Usain Bolt, dan Elaine Thompson-Herah.

Jamaika memelihara dan memuliakan kompetisi lari tingkat SMA yang disebut Inter-Secondary Schools Boys and Girls Championships yang menjadi kawah candradimuka pelari-pelari Jamaika untuk menguasai arena-arena sprint dunia.

Swasta mesti aktif

Swasta mereka pun aktif, karena mereka tahu atlet berprestasi adalah juga menyangkut citra produk, jasa dan profil mereka. Mereka menyadari keterlibatan dalam meninggikan dunia olah raga adalah bagian dari bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat yang menjadi konsumennya dan bahkan sumber vital sistem produksi mereka.

Indonesia juga tak kekurangan swasta-swasta berpola pikir seperti itu. Salah satunya adalah Djarum yang turut aktif membesarkan bulu tangkis Indonesia hingga konstan menjadi salah satu kekuatan dominan dalam bulu tangkis global.

Peran serta swasta yang aktif juga terjadi di Korea Selatan, bahkan salah satunya menjadi faktor di balik panahan mereka merajai Olimpiade dan dunia.

Menjelang Olimpiade Seoul 1988, Presiden Chun Doo-hwan memerintahkan kalangan bisnis mensponsori federasi-federasi olahraga guna memastikan atlet mencetak prestasi tinggi.

Produsen mobil Hyundai Group kebagian tugas membesarkan panahan yang dalam tiga puluh tahun terakhir telah memompakan sedikitnya 40 juta dolar AS (Rp579 miliar) untuk panahan.

Indonesia bisa melakukan apa yang sudah dan tengah dilakukan Australia, Jamaika dan Korea Selatan itu atau negara-negara lain yang sukses besar dalam Olimpiade, termasuk untuk membesarkan panjat tebing.

Panjat tebing sendiri memiliki potensi medali Olimpiade yang nyata karena apa yang ada pada tingkat dini dalam panjat tebing Indonesia terlihat seperti mirip dengan memasyarakatnya skateboard di Brazil, lari jarak pendek di Jamaika atau renang di Australia.

Coba saja lihat hampir semua kompleks sekolah menengah atas dan kampus-kampus di seluruh Indonesia, memiliki dinding panjat tebing.

Ini bekal besar dalam membantu pengembangan panjat tebing dan mencari bakat-bakat hebat, apalagi jika dibarengi oleh hadirnya turnamen-turnamen panjat tebing pada segala tingkat.

Berbeda dengan bola voli, basket atau renang di mana postur tubuh bisa sangat menentukan dalam kompetisi-kompetisi seperti Olimpiade, panjat tebing tak terlalu memerlukan postur tinggi untuk bisa mencapai level prestasi tertinggi.

Ini salah satu keunggulan panjat tebing yang juga dimiliki skateboard.

Dua cabang olah raga baru Olimpiade ini sangat layak dikembangkan oleh Indonesia dengan jauh lebih serius lagi, sejak usia dini dan dikelola seperti kita mengelola bulu tangkis atau seperti negara-negara bertradisi emas Olimpiade semacam Australia, Jamaika dan Korea Selatan mengelola cabang-cabang andalannya.

Jika pun prestasi tertinggi belum tercapai. Paling tidak ini semua mendorong anak-anak Indonesia sehat fisik karena sehat fisik bakal mencipta jiwa yang sehat, dan jiwa yang sehat bisa melahirkan ide, pemikiran dan inovasi cemerlang yang bisa membuat Indonesia jaya.

Mens sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

OJK Ungkap Kelanjutan Kasus Gagal Bayar DSI

OJK Ungkap Kelanjutan Kasus Gagal Bayar DSI

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 18:16 WIB

Nova Arianto Ungkap Alasan Pilih Yordania dan USA Jadi Lawan Uji Coba Timnas Indonesia U-20

Nova Arianto Ungkap Alasan Pilih Yordania dan USA Jadi Lawan Uji Coba Timnas Indonesia U-20

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 17:36 WIB

Shayne Pattynama Bingung Tak Kunjung Dimainkan Shin Tae-yong di Persija Jakarta

Shayne Pattynama Bingung Tak Kunjung Dimainkan Shin Tae-yong di Persija Jakarta

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 17:30 WIB

Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru

Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:00 WIB

SUGBK Masih Diragukan Dipakai Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Maret 2027

SUGBK Masih Diragukan Dipakai Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Maret 2027

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:49 WIB

Hashim: Indonesia Gelap Karena Dibebani Utang Itu Bohong

Hashim: Indonesia Gelap Karena Dibebani Utang Itu Bohong

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:38 WIB

Layanan Premium Makin Diperluas, Jangkau TV Micro RGB evo hingga WashTower

Layanan Premium Makin Diperluas, Jangkau TV Micro RGB evo hingga WashTower

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Bahasa Indonesia Kalah Populer di Negeri Sendiri, Mengapa?

Bahasa Indonesia Kalah Populer di Negeri Sendiri, Mengapa?

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Pekerja Migran Indonesia di Singapura Dipenjara 3 Tahun usai Pukuli Anak Berkebutuhan Khusus 23 Kali

Pekerja Migran Indonesia di Singapura Dipenjara 3 Tahun usai Pukuli Anak Berkebutuhan Khusus 23 Kali

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Terkini

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:07 WIB

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:59 WIB

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Otomotif | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Sport | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Surakarta | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:37 WIB

×