Suara Sumatera - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menceritakan kehidupan Suharto setelah tidak lagi menjadi Presiden RI.
Yusril baru bertemu Suharto enam bulan kemudian sejak Pak Harto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998.
Saat itu pertemuan tidak begitu lama karena kondisi Suharto yang sudah sakit-sakitan. Yusril mengaku hanya ngobrol sebentar dengan Pak Harto.
Pertemuan antara Yusril dengan Suharto kembali terjadi ketika Yusril menjadi Menteri Kehakiman di era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Sejak itu Yusril sering menyambangi Suharto di rumahnya di Jalan Cendana. Pun ketika Yusril menjadi Mensesneg di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Yusril mengaku ada perasaan kasihan ketika melihat Suharto yang hanya duduk sendiri di kursi goyang tanpa ada yang menemani di rumah Cendana.
"Kadang-kadang ada perasaan kasihan saya. Orang tua ini saya pikir 30 tahun menguasai Republik ini tiba-tiba di rumahnya sendirian duduk di kursi goyang," kata Yusril dikutip dari Youtube Total Politik.
Pernah suatu hari, ajudan Suharto menelepon meminta Yusril datang. Kepada Yusril, Suharto meminta jatah rumah bagi orang yang pernah menjadi Presiden RI.
"Ril begini saya kan sakit-sakit, saya belum dikasih rumah saya sama Setneg. Saya perlu rumah untuk bikin rumah sakit jantung untuk melaksanakan maunya Ibu Tien," ucap Suharto ditirukan Yusril.
Baca Juga: Ngakak! Kylian Mbappe Tertawakan Ronaldo Memar Ditinju Keylor Navas sampai Muka Bengep
Suharto menginginkan sebuah rumah di ujung Jalan Teuku Umar. Namun harga rumah itu mencapai Rp74 miliar. Sedangkan anggaran rumah untuk Presiden RI yang tidak lagi menjabat hanya Rp20 miliar.
Suharto lalu membandingkan dengan Megawati yang mendapat rumah di Jalan Teuku Umar. Yusril menjelaskan bahwa rumah Megawati itu seharga Rp25 miliar.
"Ya saya bilang itu harganya Rp25 miliar, Ibu Meganya nambahin Rp5 miliar kalau Pak Harto mau itu nanti nombokin Mbak Tutut," cerita Yusril.
Sampai akhirnya Pak Harto meminta diberikan saja uang Rp20 miliar itu untuk memperbaiki rumahnya yang sudah mulai rusak.
"Dia (Suharto) bilang uda Ril kasih aja uang yang Rp20 miliar, ini rumah sudah bocor. Betul waktu saya datang hujan, banyak air. Rumah kan sederhana itu. Kelihatan bagus yang depan itu yang ada harimau. Sudah rusak rumahnya," kata Yusril.
Yusril lalu melapor ke Presiden SBY dan akhirnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluarkan cek senilai Rp20 miliar untuk Suharto.