TANTRUM - Seperti yang kita ketahui dalam ilmu agama Islam, ibadah puasa, baik puasa ramadhan ataupun puasa sunnah merupakan kegiatan yang banyak manfaatnya bagi kesehatan.
Keterangan itu dapat dilihat di kitab suci Al-Quran dan berbagai hadits (riwayat resmi).
Menurut Sumartini Dewi, Kepala Pusat Studi Imunologi Fakultas Kedokteran Universits Padjadjaran - Rumah Sakit Hasan Sadikin (UNPAD-RSHS) Bandung, puasa secara umum sangat berpengaruh pada kesehatan manusia, terutama bagi imunitas tubuh kita.
Dengan berpuasa sebut Dewi, imunitas tubuh akan bertambah kuat dan terproteksi dari berbagai penyakit.
"Saat puasa, kalori yang terbakar akan lebih banyak dari kalori yang dikonsumsi. Apalagi jika selagi berpuasa aktivitas tetap dilakukan seperti biasa. Setidaknya dalam delapan jam sehari, gula dan karbohidrat yang dikonsumsi pada hari itu terbakar habis. Setelah itu tubuh memanfaatkan lemak untuk mendapatkan energi," kata Dewi ditulis Bandung, Senin, 30 Mei 2022.
Namun lanjut Dewi, penting untuk diingat bahwa makanan yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka harus mengandung campuran protein, lemak dan karbohidrat secukupnya.
Lemak sebenarnya adalah sumber bahan bakar yang lebih baik dan lebih bersih daripada karbohidrat. Lemak tidak hanya dapat menghasilkan lebih banyak energi per gram dibandingkan karbohidrat tutur Dewi.
Tetapi sebenarnya lemak juga menghasilkan radikal bebas yang lebih sedikit, radikal bebas bertanggungjawab pada terbentuknya peradangan.
"Ketika sel mitokondria menggunakan karbohidrat untuk menghasilkan energi, ada limbah yang dihasilkan dalam bentuk radikal bebas," sebut Dewi.
Radikal bebas yang dilepaskan berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif pada tubuh. Yaitu proses oksidasi sel-sel normal menjadi semakin tinggi, sehingga akan menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh.
Stres oksidatif dianggap sebagai penyebab banyak penyakit kronis, termasuk diantaranya penyakit neurodegeneratif, seperti kanker, diabetes, stroke, Alzheimer, dan Parkinson.
"Berpuasa di bulan Ramadhan akan memaksa sel-sel otak menggunakan lemak (keton) daripada glukosa, yang merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih efisien untuk sel-sel otak. sehingga mengurangi pelepasan radikal bebas," ungkap Dewi.
Puasa dapat membantu mengurangi risiko terserang penyakit berbahaya sampai batas tertentu dengan mendetoksifikasi tubuh dan memproduksi senyawa anti-inflamasi, tanpa risiko kekurangan gizi.
Hasil penelitian tim Mindikoglua yang diterbitkan pada 2020, juga menyebutkan bahwa puasa yang dilakukan secara terus menerus, dari fajar hingga matahari terbenam selama 30 hari dapat meningkatkan regulasi protein yang melindungi tubuh terhadap kejadian obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik.
"Berpuasa telah terbukti membantu memperbaiki resistensi insulin," tukas Dewi.