Industri asuransi di Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan yang positif dalam hal investasi. Tercatat, otal aset industri asuransi mencapai Rp 1.637 triliun pada Maret 2022 atau meningkat 12,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Aset tersebut meliputi investasi sebesar Rp1.345 triliun atau 82 persen dari total aset.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menuturkan selain asuransi, dana pensiun turut menunjukkan kemajuan yang pesat dengan mencatat total aset bersih senilai Rp 329 triliun atau tumbuh sekitar enam persen (yoy).
Aset tersebut terdiri dari Rp 321 triliun investasi atau 27,5 persen dari seluruh aset yang dimiliki dana pensiun.
Ia menilai pengembangan investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun sangat penting untuk memperdalam pasar keuangan Indonesia.
"Investor asuransi dan dana pensiun memiliki potensi besar untuk tabungan jangka panjang yang sangat cocok untuk investasi jangka panjang seperti pembiayaan infrastruktur," ujarnya.
Terlebih lagi, menurut dia, dana pensiun dan asuransi memungkinkan perekonomian mengelola risiko dengan lebih baik.
Namun demikian, pasar keuangan domestik Indonesia saat ini masih relatif dangkal, yang ditunjukkan oleh terbatasnya volume transaksi, instrumen, dan pelaku pasar.
"Untuk mencapai Indonesia sebagai negara berkembang, pasar keuangan yang dalam sangat diperlukan untuk memberikan stabilitas rupiah sebagai fundamental bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan dan memitigasi risiko sistemik," katanya.
Bank Indonesia (BI) melaporkan industri asuransi dan dana pensiun tercatat membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak Rp83,2 triliun sejak Januari hingga 19 Mei 2022 (year-to-date/ytd).
Pembelian agresif obligasi negara tersebut dilakukan di tengah modal asing yang keluar dari pasar SBN sebesar Rp105 triliun (ytd).
"Hal ini membantu meredakan tekanan pasar keuangan Indonesia dan meningkatkan kepercayaan pasar," katanya.