Rupanya, Indonesia Pernah Dilanda Wabah Serupa Pandemi COVID-19 pada 1918

Dythia Novianty, Amelia Prisilia

Rabu, 01 April 2020 | 09:00 WIB
Rupanya, Indonesia Pernah Dilanda Wabah Serupa Pandemi COVID-19 pada 1918
Pandemi flu spanyol (YouTube/Live Science)

Suara.com - Akhir-akhir ini, seluruh negara di dunia mengalami satu kekhawatiran yang sama, yakni pandemi COVID-19. Rupanya, Indonesia pernah mengalami wabah serupa pandemi virus corona, yakni pandemi flu 1918 atau dikenal dengan sebutan Flu Spanyol.

Pandemi ini Flu Spanyol telah menelan banyak korban jiwa, termasuk di Indonesia. Berdasarkan sejarah, Flu Spanyol yang terjadi pada 1918 begitu dahsyat dan meneror sebagian besar masyarakat di dunia kala itu. Penyakit ini bahkan mendapat sebutan sebagai Great Influenza Pandemic.

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, Flu Spanyol terjadi pada 1918 hingga 1920 di seluruh dunia secara merata. Terjadi selama dua tahun, wabah Flu Spanyol ini setidaknya mengakibatkan meninggalnya 50 juta orang.

Terjadi di hampir sebagian besar dunia, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang terkena imbas Flu Spanyol pada 1918.

Hal yang mengejutkannya adalah Indonesia menempati urutan ketiga, sebagai negara dengan tingkat kematian terbesar di dunia akibat Flu Spanyol ini. Di urutan pertama ada India dan urutan kedua ditempati oleh Afrika Selatan.

Berdasarkan data dari Mortality From The Influenza Pandemic of 1918-19 in Indonesia, terungkap bahwa setidaknya ada 4,26 sampai 4,37 juta penduduk Indonesia yang menjadi korban Flu Spanyol ini.

Padahal, jumlah besar ini baru mencakup daerah Pulau Jawa dan Madura. Tidak diketahui jumlah korban jiwa di luar Jawa dan Madura kala itu.

Saat Flu Spanyol melanda, banyaknya korban jiwa di Indonesia diduga karena respon yang lambat dan sifat acuh tak acuh dari pemerintah atau warga setempat kala itu. Masyakarat Indonesia pada masanya percaya dengan banyak mitos yang dapat menangkal penyakit ini.

Selain itu, kehidupan masyarakat Indonesia yang jauh dari kata bersih dan sehat membuat Flu Spanyol semakin parah dan memakan banyak korban jiwa.

baca juga
Pandemi flu spanyol (YouTube/Live Science)
Pandemi flu spanyol (YouTube/Live Science)

Penderita Flu Spanyol memiliki gejala yang mirip dengan pneumonia atau radang paru-paru. Hal ini yang membuatnya tidak jauh berbeda dengan virus corona yang kini begitu mewabah.

Penanganan Flu Spanyol ini cukup lama hingga memakan korban yang cukup banyak di seluruh dunia bahkan Indonesia. Jika virus corona masih disepelehkan, tidak dapat dipungkiri jika nasib yang sama akan terjadi di kemudian hari.

Jika dulu, Indonesia bisa sukses melewati pandemi Flu Spanyol, tentu optimisme kita lebih tinggi dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Menarik di Balik Karantina dan Tindak Antisipasi Pandemi COVID-19

Kisah Menarik di Balik Karantina dan Tindak Antisipasi Pandemi COVID-19

Tekno | Rabu, 01 April 2020 | 07:00 WIB

Begini Panduan Belanja Selama Pandemi Covid-19

Begini Panduan Belanja Selama Pandemi Covid-19

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2020 | 18:51 WIB

Cuma di New York, Panic Buying Anak Ayam di Tengah Pandemi Covid-19

Cuma di New York, Panic Buying Anak Ayam di Tengah Pandemi Covid-19

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2020 | 14:08 WIB

Pandemi COVID-19 Lambungkan Pendapatan Pokemon Go

Pandemi COVID-19 Lambungkan Pendapatan Pokemon Go

Tekno | Selasa, 31 Maret 2020 | 10:30 WIB

Pernah Lewati 2 Pandemi, Pria 101 Tahun Ini Sembuh dari Corona Covid-19

Pernah Lewati 2 Pandemi, Pria 101 Tahun Ini Sembuh dari Corona Covid-19

Health | Minggu, 29 Maret 2020 | 13:50 WIB

Pandemi COVID-19, Trafik Penggunaan WhatsApp Melonjak

Pandemi COVID-19, Trafik Penggunaan WhatsApp Melonjak

Tekno | Minggu, 29 Maret 2020 | 06:34 WIB

Terkini

Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra

Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra

Sumut | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:29 WIB

Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil

Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil

Lifestyle | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:29 WIB

Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang

Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang

Jawa Tengah | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:28 WIB

Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026

Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:19 WIB

Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis

Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:05 WIB

Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026

Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026

Bola | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:05 WIB

Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru

Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru

Health | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:01 WIB

Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital

Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital

Your Say | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:00 WIB

DPR Sentil Pihak SPPG saat Rapat: 120 Juta Penerima Manfaat, Siapa yang Mau Diberi Makan?

DPR Sentil Pihak SPPG saat Rapat: 120 Juta Penerima Manfaat, Siapa yang Mau Diberi Makan?

Video | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:00 WIB

Liga Sepak Bola Kampung, Ikhtiar Jaga Anak Muda Menteng dari Bahaya Narkoba

Liga Sepak Bola Kampung, Ikhtiar Jaga Anak Muda Menteng dari Bahaya Narkoba

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 17:49 WIB

×