Bukti Paling Awal Kehadiran Manusia di Amerika 30.000 Tahun Lalu

BBC | Suara.com

Senin, 27 Juli 2020 | 18:39 WIB
Bukti Paling Awal Kehadiran Manusia di Amerika 30.000 Tahun Lalu
[BBC].

Suara.com - Manusia menetap di Amerika jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, menurut temuan terbaru dari Meksiko.

Arkeolog menemukan, manusia menempati benua itu sejak 33.000 tahun lalu, atau dua kali lebih awal dari era yang selama ini diterima publik, sebagai waktu pertama kali manusia bermukim di benua Amerika.

Temuan ini merujuk pada penilitian di gua Chiquihuite, sebuah gua di pegunungan Meksiko tengah.

Para arkeolog menemukan hampir 2.000 peralatan dari batu, yang menunjukkan bahwa gua itu digunakan oleh manusia selama 20.000 tahun.

Selama paruh kedua abad ke-20, sebuah konsensus muncul di antara para arkeolog Amerika Utara, bahwa orang-orang Clovis adalah orang pertama yang mencapai Amerika, sekitar 11.500 tahun yang lalu.

Nenek moyang orang Clovis diperkirakan telah menyeberangi jembatan darat yang menghubungkan Siberia ke Alaska selama zaman es terakhir.

Jembatan darat ini - dikenal sebagai Beringia - kemudian menghilang di bawah air saat es mencair.

Dan para pemburu ini dianggap berkontribusi terhadap kepunahan megafauna - mamalia besar seperti mamut, mastodon, dan berbagai spesies beruang yang berkeliaran di wilayah itu hingga akhir zaman es terakhir.

Kerusakan

Ketika ide "Clovis First" mulai dipercayai banyak orang, laporan tentang pemukiman manusia sebelumnya dihentikan karena tidak dapat diandalkan, dan para arkeolog berhenti mencari tanda-tanda pendudukan sebelumnya.

Namun pada 1970-an, pandangan konvensional ini mulai ditantang.

Pada 1980-an, bukti kuat untuk kehadiran manusia berusia 14.500 tahun di Monte Verde, Chile, muncul.

Sejak 2000-an, pemukiman pra-Clovis telah banyak diterima oleh kalangan arkeolog - termasuk komplek pemukiman Butermilk Creek di Texas tengah.

Kini, Ciprian Adelean dari Universitas Autónoma de Zacatecas di Mexico dan Tom Higham dari Universitas Oxford bersama kolega mereka menemukan bukti bahwa kehidupan manusia di Amerika telah dimulai jauh sebelumnya, di situs Chiquihuite di pegunungan tengah Meksiko.

Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Nature.

"Ini adalah situs yang unik, kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya," ujar Profesor Higham kepada BBC News.

"Peralatan dari batu ini sangat, sangat menarik.

"Siapa pun dapat melihat bahwa ini adalah alat batu yang sengaja dibuat dan jumlahnya banyak."

Teknik penanggalan

Tim kemudian menggali gua sedalam tiga meter - sekuens lapisan tanah yang diatur sesuai dengan urutan endapannya - dan menemukan sekitar 1.900 artefak batu yang dibuat selama ribuan tahun.

Para peneliti berhasil memeriksa usia tulang, arang dan endapan yang terkait dengan alat-alat batu, menggunakan dua teknik penanggalan ilmiah.

Yang pertama, penanggalan radiokarbon, bergantung pada cara bentuk radioaktif dari unsur karbon (karbon-14) diketahui meluruh dari waktu ke waktu.

Yang kedua, pendaran optically stimulated (OSL), bekerja dengan mengukur sedimen terakhir kali terpapar cahaya.

Menggunakan dua teknik berbeda "menambah banyak kredibilitas dan kekuatan, terutama pada bagian kronologi yang lebih tua", kata Profesor Higham.

"Kita bisa melihat tanggal optik dan tanggal [radiokarbon] dalam kombinasi yang baik," katanya.

Dan temuan ini dapat mengarahkan para ilmuwan untuk melihat dengan pandangan baru terkait situs-situs pendudukan awal yang kontroversial di tempat lain di Amerika.

"Di Brasil, ada beberapa situs di mana Anda memiliki alat-alat batu yang terlihat kokoh dan bertanggal 26.000 - 30.000 tahun yang lalu, tanggal yang serupa dengan situs Chiquihuite," kata Prof Higham.

"Ini bisa menjadi penemuan penting yang dapat merangsang pekerjaan baru untuk menemukan situs lain di Amerika yang berasal dari periode ini."

Perspektif yang berbeda

Profesor David Meltze dari Southern Methodist University di Dallas, Texas, yang tidak terlibat dalam penelitian itu, mengatakan bahwa temuan tersebut "menarik".

Namun dia menjelaskan: "Tak cukup [bukti] untuk berargrumen bahwa spesimen batu ini merupakan artifak, kita harus menunjukkan bahwa mereka tidak alami." Proses alami dapat meniru beberapa jenis alat batu, kata Prof Meltzer.

Kedua, dia menjelaskan: "Dengan tradisi alat batu yang tahan lama, orang berharap itu akan jauh lebih luas di wilayah tersebut, menimbulkan pertanyaan mengapa teknologi itu belum terlihat di tempat lain,"

Dia juga menambahkan: "Mungkin lebih penting, dengan manusia modern, orang mengharapkan untuk melihat bukti perubahan teknologi dan budaya selama rentang waktu yang lama. "

Akhirnya, dia berkata, "gua itu 1.000 meter di atas dasar lembah, tetapi mengesampingkan masalah mengapa tidak bermukim lebih dekat ke dasar lembah, mengapa terus kembali ke tempat yang sama dengan 'dasar yang relatif konstan' dalam jangka waktu lama? Saya merasa penasaran. Tidak banyak situs memiliki jenis pekerjaan jangka panjang berulang, kecuali ada sesuatu yang cukup berguna/tersedia di tempat tersebut".

Pilihan perjalanan

Antara 26.000-19.000 tahun yang lalu, permukaan laut cukup rendah bagi orang untuk menyeberang dengan mudah dari Siberia ke Amerika melalui jembatan darat Beringia. Tetapi bagaimana dengan masa-masa sebelumnya?

"Sebelum 26.000 tahun yang lalu, data terbaru menunjukkan bahwa Beringia mungkin menjadi tempat yang agak tidak menarik bagi manusia. Tempat itu mungkin berawa dan sangat sulit dilintasi," kata Prof Higham.

"Kami masih berpikir skenario yang paling mungkin adalah orang-orang datang pada rute pantai, mungkin dengan semacam teknologi maritim."

Sementara orang tampaknya telah berada di Amerika sebelum 26.000 tahun yang lalu, mereka mungkin sangat sedikit jumlahnya. Baru kemudian, antara 14.000 dan 15.000 tahun yang lalu, populasi meningkat secara substansial.

Itu bertepatan dengan lonjakan suhu di akhir Zaman Es terakhir, ketika suhu naik sekitar 7 Celsius hanya dalam waktu singkat.

Penduduk asli Amerika

Para ilmuwan juga menggunakan teknik "DNA lingkungan" untuk mencari bahan genetik manusia di sedimen gua.

Tetapi mereka tidak dapat menemukan bukti yang cukup kuat.

Bukti DNA sebelumnya menunjukkan orang-orang Clovis memiliki banyak kesamaan dengan penduduk asli Amerika modern.

Dan para ilmuwan sekarang ingin memahami bagaimana populasi yang lebih tua ini berhubungan dengan kelompok manusia kemudian yang mendiami benua tersebut.

Dalam edisi yang sama di jurnal Nature, Prof Higham dan Lorena Becerra-Valdivia, juga dari Universitas Oxford, menggambarkan bagaimana mereka menggunakan temuan di 42 situs arkeologi di Amerika Utara dan Beringia untuk mengeksplorasi bagaimana manusia berkembang.

Hasilnya mengungkapkan sinyal kehadiran manusia yang membentang ribuan tahun sebelum orang-orang Clovis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

News | Senin, 18 Mei 2026 | 14:16 WIB

Babak Baru Kasus Jeffrey Epstein: 10 Korban Baru di Prancis dan Keterlibatan Agensi Model

Babak Baru Kasus Jeffrey Epstein: 10 Korban Baru di Prancis dan Keterlibatan Agensi Model

News | Senin, 18 Mei 2026 | 13:31 WIB

Horor Jelang Piala Dunia 2026, 10 Orang Tewas Ditembak Brutal di Meksiko

Horor Jelang Piala Dunia 2026, 10 Orang Tewas Ditembak Brutal di Meksiko

Bola | Senin, 18 Mei 2026 | 13:24 WIB

Gegara Upah Guru Meksiko Mengamuk Ancam Akan Ganggu Piala Dunia 2026

Gegara Upah Guru Meksiko Mengamuk Ancam Akan Ganggu Piala Dunia 2026

Bola | Senin, 18 Mei 2026 | 13:17 WIB

The Screwtape Letters: Saat Iblis Mengajari Cara Menyesatkan Manusia

The Screwtape Letters: Saat Iblis Mengajari Cara Menyesatkan Manusia

Your Say | Senin, 18 Mei 2026 | 13:20 WIB

Kronologis Dua Pesawat Tempur Amerika Serikat Tabrakan di Udara

Kronologis Dua Pesawat Tempur Amerika Serikat Tabrakan di Udara

News | Senin, 18 Mei 2026 | 09:27 WIB

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:25 WIB

Kecelakaan Jet Tempur AS, Dua E/A-18G Growler Tabrakan di Gunfighters Air Show

Kecelakaan Jet Tempur AS, Dua E/A-18G Growler Tabrakan di Gunfighters Air Show

News | Senin, 18 Mei 2026 | 07:57 WIB

Viral Manusia Silver Todong Pisau di Kuta, Polisi Tangkap Pria Asal Bandung

Viral Manusia Silver Todong Pisau di Kuta, Polisi Tangkap Pria Asal Bandung

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 16:01 WIB

Terkini

31 Kode Redeem FF Terbaru 19 Mei 2026: Ada Trik Dapat 100 Diamond Gratis dan Undersea Bundle

31 Kode Redeem FF Terbaru 19 Mei 2026: Ada Trik Dapat 100 Diamond Gratis dan Undersea Bundle

Tekno | Selasa, 19 Mei 2026 | 07:03 WIB

Terpopuler: 5 HP 5G Memori 512 GB Paling Murah, Pemilk The Economist yang Kritik Prabowo

Terpopuler: 5 HP 5G Memori 512 GB Paling Murah, Pemilk The Economist yang Kritik Prabowo

Tekno | Selasa, 19 Mei 2026 | 06:30 WIB

Oppo Reno 16 Series Debut di China 26 Mei 2026, Lanjut Masuk ke Pasar Global

Oppo Reno 16 Series Debut di China 26 Mei 2026, Lanjut Masuk ke Pasar Global

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 20:00 WIB

Pakai Chip Snapdragon X2, Laptop Lenovo IdeaPad 5 2-in-1 Terbaru Tahan 33 Jam

Pakai Chip Snapdragon X2, Laptop Lenovo IdeaPad 5 2-in-1 Terbaru Tahan 33 Jam

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 18:30 WIB

iQOO Z11 dan Z11 Lite Bersiap ke Indonesia: Kombinasikan Chip Snapdragon serta Dimensity

iQOO Z11 dan Z11 Lite Bersiap ke Indonesia: Kombinasikan Chip Snapdragon serta Dimensity

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 18:14 WIB

Tak Hanya Xiaomi 17 Max, Mobil Listrik Gahar Xiaomi YU7 GT Siap Debut Pekan Ini

Tak Hanya Xiaomi 17 Max, Mobil Listrik Gahar Xiaomi YU7 GT Siap Debut Pekan Ini

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 17:02 WIB

Moto Buds 2 Bersiap ke Pasar Asia, Bawa Baterai Tahan Lama dan Fitur ANC

Moto Buds 2 Bersiap ke Pasar Asia, Bawa Baterai Tahan Lama dan Fitur ANC

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 15:41 WIB

The Economist Milik Siapa? Kritik Keras Prabowo, Ada Grup Rothschild dan Agnelli

The Economist Milik Siapa? Kritik Keras Prabowo, Ada Grup Rothschild dan Agnelli

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 15:17 WIB

Tebus Kesalahan, Devil May Cry Season 2 Dapat Sambutan Positif di Netflix

Tebus Kesalahan, Devil May Cry Season 2 Dapat Sambutan Positif di Netflix

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 14:26 WIB

Sony Siapkan Headphone Premium: Pesaing AirPods Max, Harga Diprediksi Tembus Rp11 juta

Sony Siapkan Headphone Premium: Pesaing AirPods Max, Harga Diprediksi Tembus Rp11 juta

Tekno | Senin, 18 Mei 2026 | 13:30 WIB