Tempe dari Kedelai Hasil Rekayasa Genetika Amerika Marak di Indonesia

Liberty Jemadu | Suara.com

Jum'at, 11 September 2020 | 05:15 WIB
Tempe dari Kedelai Hasil Rekayasa Genetika Amerika Marak di Indonesia
Mayoritas tempe di Indonesia terbuat dari kedelai hasil rekayasa genetika yang diimpor dari Amerika Serikat. (Shutterstock)

Suara.com - Pemanfaatan metode rekayasa genetika pada proses produksi makanan seperti kedelai, buah-buahan dan sayuran melahirkan dua kelompok besar yang berseberangan secara global.

Kelompok investor industri pangan dan sebagian peneliti mendukung genetically modified organism (GMO) dan produk rekayasa genetika (PRG) sebagai solusi ketahanan pangan dan pemeliharaan sumber daya lingkungan dari serangan hama.

Di sisi lain, peneliti independen, pengamat lingkungan, dan konsumen mengkhawatirkan risiko baru dari pangan PRG seperti alergi makanan, kenaikan resistansi antibiotik, dan dampak kesehatan manusia yang tidak diinginkan lainnya. Lalu bagaimana sebenarnya persepsi masyarakat Indonesia terhadap produk rekayasa genetika?

Riset terbaru kami, yang dilakukan pada 21 Mei 2020 hingga 15 Juni 2020 pada 276 responden berusia 16 hingga 57 tahun, menunjukkan mayoritas responden ragu-ragu untuk membeli pangan PRG (71,3%). Bahkan, ada responden yang tidak akan membeli jika tahu produk itu adalah pangan hasil rekayasa genetika (7,9%).

Namun kenyataannya tempe dan tahu yang diproduksi di Indonesia mayoritas (lebih dari 70%) menggunakan kedelai impor PRG dari Amerika. Dari dua jenis responden tersebut, semuanya mengkonsumsi tempe dan tahu. Namun, 90% responden tersebut tidak menyadari mengkonsumsi tempe dan tahu yang kemungkinan besar adalah pangan PRG.

Sebagai contoh pada 2016, lebih dari 2 juta ton kedelai yang merupakan hasil rekayasa genetika yang diimpor dari Amerika Serikat untuk kebutuhan konsumsi serta produksi tahu dan tempe. Ini artinya sebagian besar tempe dan tahu yang beredar di pasar Indonesia berbahan kedelai yang telah direkayasa gennya karena produksi kedelai dalam negeri hanya 860 ribu ton.

Rekayasa genetika

GMO adalah organisme, baik hewan, tanaman, maupun mikroorganisme yang telah diubah material genetiknya (DNA) secara sengaja, bukan secara alamiah. Sementara PRG merupakan produk yang diproduksi dari atau menggunakan GMO.

Sebenarnya, nenek moyang kita telah merekayasa genetika secara sederhana yaitu mengawinkan silang tanaman untuk mendapatkan ciri yang diinginkan. Sebagai contoh, dulu jagung hanya merupakan rumput liar bernama teosinte yang berbiji kecil dan tidak banyak isinya. Namun, nenek moyang kita telah berusaha untuk mendapatkan jagung yang sekarang kita kenal.

Di Indonesia, keamanan pangan PRG telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 21 Tahun 2005. Namun, payung hukum untuk komersialisasi PRG belum tersedia karena Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian belum menyelesaikan Pedoman Pengawasan dan Pengendalian PRG sebagai payung hukum pengawasan sesuai amanat PP No. 21/2005. Sehingga, para petani belum bisa menanam tanaman bioteknologi ini, sementara masyarakat masih mengkonsumsi PRG impor.

Sejauh ini, PRG di Indonesia masih dalam tahap pengembangan antara lain padi tahan kekeringan, padi tahan garam, padi produktivitas tinggi, tomat tahan virus, dan tomat berbiji sedikit.

PRG ini dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Kementerian Pertanian atau Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD). Banyak produk lainnya seperti pepaya, tebu gula serta singkong yang juga dimodifikasi oleh institusi lainnya.
Pandangan masyarakat terhadap pangan PRG

Riset kami menggunakan kuesioner online untuk mendapatkan gambaran umum dan preferensi konsumen terhadap produk rekayasa genetika. Walau pangan PRG telah biasa dikonsumsi, survei kami menunjukkan masyarakat cenderung menjadi ragu untuk mengonsumsi suatu produk saat mengetahui bahwa produk tersebut adalah PRG.

Dari survei online, kami temukan sebagian besar responden (70,1%) sudah mengetahui informasi mengenai PRG. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi rekayasa genetika sudah menjadi pengetahuan umum di masyarakat. Pada saat menemukan PRG, hanya sekitar 20,8% responden akan membeli produk tersebut dengan alasan utama mereka merasa kualitas PRG lebih baik dari segi rasa, warna, dan bau. Sebaliknya, hanya sebagian kecil responden (7,9%) menyatakan tidak akan membeli PRG dengan alasan utama pengetahuan mereka terhadap PRG.

Menariknya, mayoritas responden (71,3%) menjawab “ragu-ragu” untuk membeli produk rekayasa genetika. Hal ini menandakan bahwa mereka bimbang antara ingin membeli atau tidak, dan pola pemikiran ini utamanya didasari oleh adanya pengetahuan mereka terhadap PRG.

Permasalahan yang kemudian timbul adalah apakah pengetahuan yang diperoleh tersebut sudah tepat atau malah keliru?

Menangkal isu dampak negatif PRG

Walau PRG telah banyak dikonsumsi di Indonesia, ada berapa misinformasi terkait dampak produk ini yang perlu diluruskan.

Salah satunya adalah bahwa mengkonsumsi produk berbasis PRG akan menyebabkan efek alergi. Efek ini dapat disebabkan oleh perpindahan gen dari organisme penyebab alergi ke organisme yang tidak menyebabkan alergi. Oleh sebab itu, WHO tidak menyarankan untuk membuat PRG dari organisme penyebab alergi kecuali dapat dibuktikan tidak menyebabkan alergi. Namun hingga saat ini belum ada efek alergi yang ditemukan pada pangan rekayasa genetika yang dipasarkan.

Bahkan dengan adanya modifikasi, PRG dapat dihilangkan sifat penyebab alerginya. Salah satu contohnya adalah produk gandum bebas protein gluten.

Isu lainnya adalah bahwa mengkonsumsi produk PRG akan menyebabkan resistansi antibiotik.

Isu tersebut disebabkan oleh perpindahan gen dari PRG yang proses pembuatannya menggunakan gen resistansi antibiotik sebagai penanda selama proses modifikasi genetik. Para peneliti kemudian dapat menggunakan penanda untuk memilih gen baru dengan sifat yang diinginkan.. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan risiko resistansi antibiotik akibat mengonsumsi PRG sangat rendah.

Permasalahan lain yang juga gencar diperdebatkan adalah perpindahan silang tanaman PRG dengan tanaman non-PRG. Hal tersebut mengkhawatirkan karena secara tidak langsung dapat mempengaruhi keamanan dan ketahanan pangan, seperti tidak terkendalinya hasil persilangan dan menurunkan keanekaragaman tanaman. Kondisi ini berujung pada penurunan kesediaan pangan.

Namun, hasil riset menunjukkan transfer gen dari tanaman PRG sangat rendah. Terlebih lagi, tanaman PRG dapat meningkatkan kesediaan pangan.

Gen tanaman PRG dapat secara tidak sengaja tercampur dalam pakan juga merupakan salah satu keresahan dalam bidang peternakan. Gen PRG dikhawatirkan terkandung dalam produk peternakan (telur, susu, dan daging) yang dikonsumsi manusia. Kenyataannya, tidak terjadi perpindahan gen PRG dari pakan ke ternak, dan gen PRG tidak memengaruhi produk peternakan.

Untuk mengatasi isu-isu tersebut, beberapa negara (seperti Australia) memakai strategi mengurangi lahan campuran atau memisah lahan tanaman rekayasa dengan yang alami.

Salah satu penyakit kronis yang juga ditakuti masyarakat adalah kanker. Penyakit tersebut juga sering menjadi pertanyaan bila mengkonsumsi PRG dalam waktu yang lama. Hingga saat ini belum ada bukti jelas bahwa pangan rekayasa genetika dapat menyebabkan kanker.

Selain menelisik pada bahan pangan yang langsung dikonsumsi manusia, para peneliti juga berusaha mencari pengaruh pakan PRG terhadap kesehatan hewan yang akan menjadi gambaran terhadap kesehatan manusia. Dari beberapa hasil riset pada beberapa produk PRG (kentang, jagung, kedelai, beras, timun, tomat, paprika, kacang polong, dan canola) terhadap beberapa hewan pada jangka waktu lama, tidak ada risiko kesehatan signifikan dari produk PRG.

Ketahanan pangan

Tingginya permintaan bahan pangan, seperti kedelai, yang tidak diimbangi oleh laju produksi dan juga adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena COVID-19 di berbagai daerah menyebabkan melemahnya ketahanan pangan di Indonesia.

Kondisi tersebut juga meningkatkan harga pada rantai pasok pangan .

Jauh sebelum krisis kesehatan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas panen dan produksi padi pada 2019 menurun dibandingkan tahun sebelumnya masing-masing sebesar 6,15 dan 7,76%.

Menurunnya produktivitas ini berpeluang mendorong Indonesia untuk bergantung pada produk impor. Sementara, kebijakan impor tidak mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan sumber daya yang tersedia.

Alih-alih meningkatkan produksi, petani mengambil cara pintas demi mempertahankan produksinya dengan pemberian pestisida untuk menghilangkan hama dan penyakit, agar mereka dapat mengurangi kejadian gagal panen. Tapi cara ini dapat menurunkan kualitas hasil panen dan mencemari lingkungan.

Indonesia perlu melakukan sinergi antara bidang pertanian, bioteknologi, dan teknologi pangan.

Manipulasi sifat tanaman secara genetika dapat menjadi strategi ampuh untuk meningkatkan produktivitas dalam negeri. Tanaman hasil PRG memiliki kemampuan tahan terhadap hama, virus, dan pestisida.

Sebagai contoh dapat kita jumpai hasil PRG seperti kentang yang dirancang untuk menghasilkan lebih sedikit akrilamida (bahan kimia penyebab kanker yang dihasilkan ketika makanan dimasak dengan api besar), padi tahan hama penggerek batang, kedelai tahan pestisida, dan golden rice yang kaya beta-karoten.

Indonesia mau tidak mau harus mengurangi ketergantungannya terhadap produk impor, meningkatkan kualitas pangan, serta pengolahan lahan yang lebih optimal.

Karena itu, kita perlu lebih banyak riset yang memperjelas baik dan buruknya pangan PRG, serta memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap prosedur dalam produksi PRG di Indonesia. Hal-hal tersebut dapat membantu negara untuk merangkul teknologi PRG dalam negeri yang aman dikonsumsi masyarakat dan merancang dampak keberlanjutan pada sumber daya yang sudah tersedia.

Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berkat Prabowo, Harga Tahu-Tempe Bakal Makin Murah

Berkat Prabowo, Harga Tahu-Tempe Bakal Makin Murah

Bisnis | Jum'at, 20 Februari 2026 | 17:33 WIB

Rahasia Takjil Surabaya yang Bikin Nagih: Tempe Kriwang, Krispi, Gurih, Ngebawang!

Rahasia Takjil Surabaya yang Bikin Nagih: Tempe Kriwang, Krispi, Gurih, Ngebawang!

Lifestyle | Jum'at, 20 Februari 2026 | 08:30 WIB

Jadi Pemasok MBG, Perajin Tempe di Madiun Raup Omzet Jutaan Rupiah per Hari

Jadi Pemasok MBG, Perajin Tempe di Madiun Raup Omzet Jutaan Rupiah per Hari

News | Senin, 22 Desember 2025 | 20:35 WIB

Disarankan Profesor IPB: Ini Cara 'Melatih' Sistem Imun Anda dengan Makanan Fermentasi

Disarankan Profesor IPB: Ini Cara 'Melatih' Sistem Imun Anda dengan Makanan Fermentasi

Your Say | Jum'at, 21 November 2025 | 12:53 WIB

12 Resep Orek Tempe Pedas Manis yang Enak dan Gampang Dibuat

12 Resep Orek Tempe Pedas Manis yang Enak dan Gampang Dibuat

Lifestyle | Selasa, 11 November 2025 | 15:02 WIB

Mau Kulit Cerah? Ini Rekomendasi Skincare dengan Soybean yang Wajib Dicoba!

Mau Kulit Cerah? Ini Rekomendasi Skincare dengan Soybean yang Wajib Dicoba!

Your Say | Rabu, 05 November 2025 | 16:44 WIB

4 Pelembab Kandungan Kedelai Ampuh Jaga Elastisitas Kulit dan Lawan Kerutan

4 Pelembab Kandungan Kedelai Ampuh Jaga Elastisitas Kulit dan Lawan Kerutan

Your Say | Jum'at, 05 September 2025 | 07:54 WIB

4 Rekomendasi Toner Soybean untuk Jaga Kelembapan dan Perkuat Skin Barrier

4 Rekomendasi Toner Soybean untuk Jaga Kelembapan dan Perkuat Skin Barrier

Your Say | Rabu, 03 September 2025 | 10:08 WIB

Gibran Belanja Tempe ke Pasar, Pedagang Ngadu Minta Rekening Jangan Diblokir

Gibran Belanja Tempe ke Pasar, Pedagang Ngadu Minta Rekening Jangan Diblokir

News | Sabtu, 02 Agustus 2025 | 13:03 WIB

Tempe Dibagi Lima, Sambal Direbutin: Cerita di Balik Nasi Hangat Pesantren

Tempe Dibagi Lima, Sambal Direbutin: Cerita di Balik Nasi Hangat Pesantren

Your Say | Rabu, 18 Juni 2025 | 13:20 WIB

Terkini

26 Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Peluang Emas Dapat Scar Shadow Weapon Royale

26 Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Peluang Emas Dapat Scar Shadow Weapon Royale

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 19:30 WIB

28 Kode Redeem FC Mobile 3 April 2026: Temukan Telur Paskah Berhadiah Permata dan Draft Gratis

28 Kode Redeem FC Mobile 3 April 2026: Temukan Telur Paskah Berhadiah Permata dan Draft Gratis

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 19:15 WIB

Penemuan Canggih Ilmuwan China: Ubah Karbondioksida Jadi BBM Mirip Bensin

Penemuan Canggih Ilmuwan China: Ubah Karbondioksida Jadi BBM Mirip Bensin

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 18:05 WIB

Call Of Duty: Black Ops 7 Jadi Game Gratis Waktu Terbatas, Hadirkan Banyak Peta

Call Of Duty: Black Ops 7 Jadi Game Gratis Waktu Terbatas, Hadirkan Banyak Peta

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 17:27 WIB

iQOO 15 Apex Edition Resmi Debut: Tampil Menawan dengan Desain Holografik, Mewah bak Marmer!

iQOO 15 Apex Edition Resmi Debut: Tampil Menawan dengan Desain Holografik, Mewah bak Marmer!

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 16:38 WIB

Motorola Edge 70 Fusion Bersiap ke Indonesia, Bakal Tantang POCO X8 Pro

Motorola Edge 70 Fusion Bersiap ke Indonesia, Bakal Tantang POCO X8 Pro

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 16:10 WIB

BIZ Ultra 5G+ Punya Kecepatan hingga 500 Mbps dan Instant Roaming di Lebih dari 75 Negara

BIZ Ultra 5G+ Punya Kecepatan hingga 500 Mbps dan Instant Roaming di Lebih dari 75 Negara

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:40 WIB

Detik-Detik Rudal Iran Meledak di Pemukiman Israel: Pertahanan Jebol, Serangan Masif

Detik-Detik Rudal Iran Meledak di Pemukiman Israel: Pertahanan Jebol, Serangan Masif

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:22 WIB

58 Kode Redeem FF Max Terbaru 3 April 2026: Klaim Scythe, Skin Angelic, dan Diamond

58 Kode Redeem FF Max Terbaru 3 April 2026: Klaim Scythe, Skin Angelic, dan Diamond

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:19 WIB

PP Tunas 2026: Bahaya Algoritma Media Sosial untuk Anak, Ini Alasan Regulasi Jadi Penting

PP Tunas 2026: Bahaya Algoritma Media Sosial untuk Anak, Ini Alasan Regulasi Jadi Penting

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:12 WIB