alexametrics

BRIN dan Universitas Kyoto Akan Bangun Radar EMU di Agam

Liberty Jemadu
BRIN dan Universitas Kyoto Akan Bangun Radar EMU di Agam
Logo baru BRIN yang diperkenalkan bersamaan dengan momen Harteknas ke-26. [Antara]

Radar EMU akan dibangun di Kototabang, Agam, Sumatera Barat untuk melengkapi radar EAR yang beroperasi sejak 2001.

Suara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto di Jepang berencana memasang Equatorial Middle and Upper Atmosphere (EMU) Radar di Kototabang, Agam, Sumatera Barat.

"BRIN dan RISH berencana memasang EMU Radar yang bertujuan untuk mempelajari dan menangkap aliran energi dan material yang terjadi di semua rentang ketinggian atmosfer khatulistiwa atau dikenal sebagai air mancur khatulistiwa," kata Pelaksana tugas Kepala Kantor Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Didi Satiadi di Jakarta, Senin (20/9/2021).

Berbicara dalam Simposium Internasional Lapan BRIN - Universitas Kyoto tentang Atmosfer Khatulistiwa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Equatorial Atmosphere Radar, ia mengatakan bahwa EMU Radar merupakan radar atmosfer khatulistiwa yang lebih canggih dari Radar Atmosfer Khatulistiwa atau Equatorial Atmosphere Radar (EAR) yang sudah dibangun dan beroperasi sejak 2001 di wilayah yang sama.

EMU Radar akan dipasang berdekatan dengan EAR yang telah dibangun RISH Universitas Kyoto di Observatorium Atmosfer Khatulistiwa di Kototabang.

Baca Juga: BRIN: Radar Atmosfer Khatulistiwa Penting untuk untuk Perkuat Mitigasi Bencana

Pengoperasian EAR didasarkan pada nota kesepahaman antara RISH dan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, yang sebelumnya bernama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Pada kesempatan itu, Vice Director RISH Universitas Kyoto Mamoru Yamamoto mengatakan pihaknya ingin meneliti air mancur khatulistiwa (equatorial fountain).

Saat ini, RISH sedang mempromosikan proyek penelitian besar, yakni study of the coupling processes in the solar-terrestrial system.

Salah satu proses dominan energi matahari adalah radiasi matahari yang maksimum di daerah khatulistiwa. Oleh karena itu, RISH akan mempelajari respons terhadap input energi matahari di magnetosfer, ionosfer, atmosfer tengah, dan troposfer.

"Kami ingin melakukan studi terhadap atmosfer khatulistiwa dengan menggunakan instrumen yang jauh lebih baik. Karenanya, kami mengajukan Equatorial MU Radar," tutur Mamoru.

Baca Juga: BRIN Akan Tingkatkan Kontribusi Swasta dalam Riset

Mamoru menuturkan EMU Radar bersifat lebih sensitif dibanding EAR yang sudah ada. Antena pada EMU Radar juga lebih luas dan sensitif dibanding pada EAR.

"Kita bisa mendapatkan sinyal dari ketinggian yang jauh lebih tinggi dan juga kita dapat memperoleh lebih banyak data dengan resolusi yang lebih tinggi," ujarnya.

RISH sedang menunggu untuk mendapat pendanaan pemasangan EMU Radar tersebut. EMU Radar akan dioperasikan di bawah kolaborasi BRIN dan RISH sebagaimana kedua pihak telah sukses dan terus berkolaborasi pada pengoperasian dan penggunaan EAR. [Antara]

Komentar