- Data Reasense mencatat anak Indonesia menghabiskan 7,5 jam sehari menggunakan kecerdasan buatan pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Jakarta.
- Rita Amaliani menyatakan dalam acara Technologue Awards 2026 bahwa kecerdasan buatan merupakan alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir manusia.
- Didit Putra Erlangga menyatakan orang tua harus mengajarkan tiga pilar utama yaitu tujuan, proses, dan keputusan dalam penggunaan kecerdasan buatan.
Satu hal yang tidak dimiliki AI sehebat apa pun inovasinya adalah emosi yang kompleks dan tidak terprediksi. Founder Klinik Rainbow Castle, Dr. Adilla Hikma Zakiati, mengingatkan bahwa AI cenderung selalu memberikan respons cepat dan menyenangkan penggunanya.
![Diskusi Parenting in AI Era di Jakarta, Kamis (13/8/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/14/47314-parenting-in-ai-era.jpg)
Hal ini berisiko membuat anak gagap dalam interaksi sosial nyata yang penuh konflik dan kompromi.
"Dalam kehidupan nyata, anak perlu belajar bahwa ekspresi manusia tidak selalu mudah ditebak. Interaksi langsung dibutuhkan untuk melatih kemampuan membaca bahasa tubuh dan empati," kata dr. Adilla.
Teknologi AI tidak akan mundur. Justru, literasi digital dan kecerdasan emosional menjadi skill yang paling mahal di masa depan.
Tantangan bagi orang tua saat ini bukan lagi menjadi "polisi gadget", melainkan menjadi mentor yang memastikan anak-anak mereka tetap memegang kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.
Inovasi teknologi harus dibarengi dengan inovasi cara berpikir.
Jika anak dibekali kemampuan critical thinking, AI tidak akan membuat mereka malas, melainkan justru menjadi batu loncatan untuk menciptakan hal-hal baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.