- Gunung Krakatau di Selat Sunda terkenal akibat letusan dahsyat pada tahun 1883 yang menghancurkan sebagian besar tubuhnya dan membentuk kaldera.
- Gunung Anak Krakatau mulai tumbuh di dalam kaldera tersebut pada akhir tahun 1927 dan terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang aktif.
- Badan Geologi mencatat status Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga setelah mengalami peningkatan erupsi pada September 2026.
Suara.com - Nama Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau kerap digunakan secara bergantian karena keduanya berada dalam satu kawasan vulkanik di Selat Sunda.
Padahal, Krakatau dan Anak Krakatau merujuk pada bagian yang berbeda dalam sejarah perkembangan kompleks gunung api tersebut.
Krakatau dikenal luas karena letusan dahsyat pada 1883 yang menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera.
Sementara itu, Anak Krakatau merupakan kerucut gunung api yang kemudian tumbuh di dalam kaldera tersebut dan hingga kini masih menunjukkan aktivitas erupsi.
Perbedaan Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau
1. Sejarah pembentukannya
Krakatau merupakan nama yang merujuk pada kompleks gunung api yang memiliki sejarah geologi panjang, jauh sebelum kemunculan Anak Krakatau.
Sebelum letusan besar 1883, kawasan tersebut memiliki beberapa kerucut, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan yang kemudian menyatu membentuk Pulau Krakatau.
Erupsi katastrofik pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan meninggalkan kaldera dengan Pulau Rakata sebagai salah satu bagian yang tersisa.
Anak Krakatau kemudian terbentuk setelah aktivitas vulkanik kembali muncul di dalam kaldera 1883. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat pembangunan kerucut Anak Krakatau dimulai pada akhir 1927 di dalam kaldera tersebut.
2. Waktu kemunculannya
Krakatau memiliki sejarah yang jauh lebih tua sehingga tidak dapat disamakan dengan Anak Krakatau yang baru tumbuh setelah peristiwa 1883.
Aktivitas pembentukan Anak Krakatau mulai teramati pada akhir 1927 dan berlangsung melalui sejumlah fase erupsi sebelum kerucutnya berkembang di atas permukaan laut.
Karena proses kemunculannya berlangsung bertahap, penyebutan tahun kelahiran Anak Krakatau dapat berbeda bergantung pada tahapan geologi yang digunakan.
Yang jelas, aktivitas pembentukan kerucut baru tersebut dimulai pada 1927 dan berlangsung di dalam kaldera Krakatau.
3. Letak dan bentuknya
Krakatau bukan sekadar satu kerucut gunung yang berdiri seperti gunung api pada umumnya, tetapi merupakan kompleks vulkanik di Selat Sunda yang terbentuk melalui beberapa episode pertumbuhan dan keruntuhan gunung api.
Struktur kaldera hasil letusan 1883 menjadi bagian penting dari lanskap kawasan tersebut.
Berbeda dengan Krakatau sebagai kompleks, Anak Krakatau merupakan kerucut vulkanik yang tumbuh di dalam kaldera 1883, tepatnya di antara lokasi bekas kerucut Danan dan Perbuwatan.
Pertumbuhan kerucut ini terjadi melalui akumulasi material hasil erupsi selama bertahun-tahun.
4. Aktivitas vulkanik
Perbedaan paling penting terlihat dari aktivitas vulkaniknya saat ini.
Anak Krakatau merupakan bagian yang masih aktif dan telah mengalami erupsi berulang sejak kemunculannya pada akhir 1920-an.
Aktivitas tersebut mencakup erupsi Strombolian, lontaran material pijar, abu vulkanik, hingga aliran lava.
Pada September 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat.
Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung sekitar 25 jam.
Setelah itu, aktivitas kembali ditandai erupsi Strombolian dan hingga 11 September 2026 tercatat 14 kali erupsi Strombolian.
Badan Geologi menyebut aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih terus dipantau karena data kegempaan yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam menunjukkan kecenderungan meningkat sebagai indikasi adanya suplai magma dari kedalaman.
Hingga evaluasi 11 September 2026, status Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga dengan rekomendasi tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Dengan demikian, Krakatau dan Anak Krakatau bukan dua gunung api yang berdiri terpisah jauh, melainkan bagian dari satu kompleks vulkanik yang memiliki sejarah pembentukan berbeda pada tiap tahapnya.
Krakatau berkaitan dengan kompleks dan struktur gunung api yang lebih tua, sedangkan Anak Krakatau merupakan kerucut baru yang tumbuh di dalam kaldera hasil letusan 1883 dan masih aktif hingga sekarang.