Suara.com - Viral di media sosial, kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Surakarta mendadak muncul dengan julukan “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps.
Nama tak biasa itu langsung memicu perbincangan luas publik.
Menanggapi fenomena ini, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Aria Bima menyebutnya sebagai bagian dari ekspresi publik dalam demokrasi.
Namun ia mengingatkan, viralnya sesuatu di media sosial belum tentu jelas tujuannya, bisa jadi bentuk dukungan, tapi bisa juga mengarah pada opini negatif.
Di sisi lain, ajudan pribadi AKBP Syarif Fitriansyah menegaskan pihak internal tidak merasa tersinggung dengan penamaan tersebut.
Lalu, apakah ini sekadar tren digital atau gambaran perubahan cara publik memandang pemimpin?
Simak penjelasan lengkapnya di video ini.
Creative/Video Editor: Nura/Leo