Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor

Pebriansyah Ariefana
Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor
Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo menilai kapitalis juga perlu diajak kerjasama.

Suara.com - Di pesisir Provinsi Yogyakarta sebelah selatan ada kota kecil yang hampir tidak terlihat di peta, yaitu Kabupaten Kulon Progo . Namun, siapa sangka kota ini saat ini menjadi kota yang paling mandiri di Indonesia.

“Mandiri”, bukan kata kiasan semata. Sejak 2012, kota ini memproduksi dan menciptakan produk asli daerah. Mulai dari makanan sampai pakaian. Di balik inovasi kota itu, ada nama Hasto Wardoyo sebagai bupati.

Seorang dokter kandungan itu membuat ide cemerlang untuk mewujudkan seruan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, berdikari atau berdiri di kaki sendiri. Selama 5 tahun di bawah kepemimpinan hasto, Kulon Progo berhasil memproduksi secara mandiri air minum, beras, gula aren, kopi, teh, batik, dan juga conblok batu andesit.

Kemandirian itu dicanangkan dengan wujud program ‘Bela Beli Kulon Progo’. Masyarakat diajarkan untuk tidak ketergantungan dengan produk luar daerah untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga uang masyarakat mengalir hilir mudik hanya di dalam daerah.

Tak hayal, Hasto sering menerima banyak penghargaan, baik dari pemerintahan, LSM dan juga pihak swasta.

Lebih ‘gila’nya lagi, dia mempunyai ambisi untuk membangun mini market yang menjual produk buatan Kulon Progo dan dapat memenuhi kebutuhan manusia sia dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Bagaimana bisa Hasto mewujudkan ambisinya? Sejauhmana capaian yang sudah dihasilkan?

Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Hasto Wardoyo di Jakarta pekan lalu:

Masa jabatan Anda sebagai Bupati sudah hampir habis, dan Anda mencalonkan diri kembali. Sejak 2011, apa yang paling sulit dari kepemimpinan Anda?

Yang paling sulit mengubah pola pikir warga untuk mandiri dan tidak tergantung dengan produk asing. Selain itu membutuhkan satu inovasi tidak gampang, membuat terobosan baru yang bisa diterapkan dengan baik. Sejak tahun 2012, setahun setelah saya terpilih menjadi bupati, saya mempunyai terobosan agar daerah yang saya pimpin menjadi mandiri dari sisi pemenuhan pangan.

Masyarakat diminta untuk membeli produk lokal di program “Bela dan Beli Kulon Progo”. Dari mana inspirasi Anda mencetuskan program ini?

Tahun 2012, gerakan Beli Indonesia datang ke saya. Saat itu saya baru dilantik. Setelah mendengarkan paparan pemimpin gerakan itu, Heppy Trenggono, saya tertarik. Inti gerakan itu, bagaimana membuat uang masyarakat daerah tidak mengalir ke luar. Caranya dengan membuat produk-produk lokal yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal sendiri.

Dari ide gerakan itu untuk diaplikasikan di Kulon Progo, saya modifikasi namanya menjadi ‘Bela Kulon Progo’. Kalau hanya ‘Beli Kulon Progo’, takutnya warganya hanya beli-beli saja. Harus ada patriotismenya.

Sejak itu di Kulon Progo ada gerakan ‘Bela Beli Kulon Progo’. Sebab sejak menjadi bupati visi kami ‘terwujudnya Kabupaten Kulonprogo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa’. Intinya kemandirian.

Bagaimana Anda bisa menjalankan program itu?

Di program ‘Bela Beli Kulon Progo’ itu kita mempunyai slogan-slogan lokal. Di antaranya “Madhep Mantep Mangan Pangane Dewe”, “Madhep Mantep Ngombe Banyunu Dewe”, dan “Madhep Mantep Nganggo Barange Dewe”. Artinya setia mati makan makanan sendiri, setia mati minum minuman sendiri, dan setia mati pakai baju sendiri.

Produk apa saja yang sudah dibuat sampai kini? Sejauhmana keberhasilannya?

Saya berpikir senderhana saja, kalau hari ini tidak bisa membuat laptop dan ponsel, kenapa yang sederhana tidak kita kerjakan? Apa itu? Membuat air putih. Sekarang ketersediaan air putih di Indonesia dipasok oleh Prancis.

Maka kemudian Kulon Progo mulai dengan membuat AirKU. Sistem pembuatan air minum ini PDAM. Penyediaan air minum kemasan untuk kebutuhan lokal, PDAM Tirta Binangun meluncurkan  produk industri air mineral kemasan. Lolos sertifikasi SNI: 01-3553-2006, standar mutu ISO 9001:2008 , dan kapasitas produksi 2.400 gelas perjam. Saat ini sudah memproduksi galon dengan kapasitas 30 galon perjam dan sudah membuat prototype kemasan botol 600 ml. Pemasaran secara komersil baru dilakukan pada tahun 2014 setelah mendapat pengakuan SNI dan ijin edar.

Air KU berarti air saya, bukan air asing.

Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor - 1

Saya pernah ditanya, bagaimana rasanya air ini. Saya bilang, rasanya ideologis. Karena butuh pengorbanan untuk membuat air ini. Kalau mau cari air ini, jalan sedikit jauh tidak apa-apa. Saya melakukan itu, tidak membeli air merk asing. Saya harus jalan dulu agak jauh baru bertemu dengan yang jual air ini.

Kulon Progo juga memproduksi beras sendiri. Latarbelakangnya karena berat miskin yang dipasok ke daerah ternyata beras dari Vietnam dan India. Saya sakit hati. Kenapa sumber beras miskin tidak dari petani Kulon Progo?

Akhirnya kami MoU dengan Bulog pada 30 Desember 2013, jangan lagi datangkan beras asing. Bawa uang saja dan beli beras petani. Akhirnya beras dibeli dari pertani, dan namanya  bukan beras raskin, tapi rasda (beras daerah). Kemudian kami mewajibkan PNS untuk membeli beras itu sebanyak 10 kg sebulan. Setiap tahun PNS beli beras sebanyak 160 ribu kg lebih. Di Kulon Progo ada 8.000 PNS.

Saat ini tiap kali Bulog ke Kulon Progo membawa uang Rp4,5 miliar untuk beli beras petani. Alokasi beras pertahun 8.000 ron lebih dengan rata-rata perbulan 645 ton.

Bagaimana bisa Bulog akhirnya mau menyerap beras petani?

Saya merayu kepala Bulog hampir 1 tahun. Kami memberikan jaminan ketersediaan beras  dan gudang di setiap Gapoktan. Lalu keterdiaan sarana pengolahan di setiap Gapoktan, dan penguatan kelembagaan Gapoktan dan Kelompoktani.

Lalu kami melakukan redesain raskin ke rasda dengan menjadikan Gapoktan sebagai penyedia sekaligus distributor Raskin , lalu biaya operasional penjaminan mutu dikelola oleh Gapoktan, daerah diberi kewenangan melakukan verifikasi sasaran Raskin, dan jumlah alokasi per RTS disesuaikan dengan jumlah anggota RTS.

Konsep rasda ini sudah dibuatkan sistemnya. Jadi kalau Bupati berganti, program ini akan jalan terus. Salah satunya pembelian beras dari pertani ini menambah pendapatan daerah, begitu juga penjualan berasnya. Kalau program ini dihentikan, pendapatan daerah akan berkurang.

Lalu Kulon Progo juga mempunyaii teh sendiri, Teh Wangi Suroloyo. Ada 140 hektar kebun teh, dulu hanya menjual pucuk teh denga harga Rp1.500 perkilogram. Kami juga membuat kopi Suroloyo.

Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor - 2

Selain itu Kulo Progo merancang dan membuat batik dengan ciri khas sendiri. Namanya Batik Gebleg Renteng. Hak cipta batik ini sudah dicatat di Menteri Hukum dan HAM 1 Agustus 2012. Kemudian sertifikasi Hak Desain Industri dari Menteri Hukum dan HAM pada 11 Desember 2013. Saya juga membuat surat edaran tentang pengguaan pakaian batik. Batik Gebleg Renteng digunakan sebagai pakaian seragam pegawai dan sekolah.

Saya mempunyai konsep, tidak harus keren tapi bisa membuat batik sendiri. Ciri batiknya ada angka 88. Pembuatan batik ini karena ada potensi 80 ribu siswa di Kulon Progo setiap tahun membeli 80 ribu seragam. Sayangnya, mereka membeli batik di Tanah Abang yang impor dari Cina.

Kulon Progo juga mempunyai gula merah, gula merah Jatirogo. Gula merah membuat kita bisa bersaing di Asia karena penjualannya tidak ada kartel perdagangan. Sebab gula aren hanya ada di Indonesia. Kalau kita hentikan pengiriman gula merah di Asia, maka mereka akan mengemis-ngemis untuk meminta pasokan.

Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor - 3

Kami juga membuat Perda toko-toko modern dari asing dilarang berdiri 1 km dari pasar-pasar. Alfamart dan Indomart yang berdiri kurang dari 1 km dari pasar rakyat kami tutup. Tapi ternyata rakyat juga butuh toko-toko itu, begitu juga orang miskin. Tapi yag kami ingin kepemilikannya jangan waralaba jejaring kapitalis, tapi kepemilikan rakyat.

Sehingga Alfamart dan Indomart ditutup dan dibeli oleh koperasi lokal. Kemudian kepemilikannya kami ganti, dan nama tokonya menjadi Tomira atau toko milik rakyat. KOPPANEKA mengambil alih Alfamart Dekso Kalibawang. KSU BMT Girimakmur mengambil alih Alfamart Bendungan Wates. KSU BIMA mengambil alih Alfamart Jombokan Pengasih.

Sampai saat ini ada 10 Timira di Kulon Progo. Perjuangan ini selama 1,5 tahun negosiasi dengan Alfamart dan Indomart.

Hasto Wardoyo: Lebih Baik Kelaparan daripada Makan Produk Impor - 4

Toko ini menjual produk-produk asli Kulon Progo. Menjual BerasKU, AirKU, dan sebagainya. Tetapi yang belum disediakan Kulon Progo, masih didatangkan dari luar. Saya menilai kapitalis juga perlu diajak kerjasama. Kami menargetkan 10 tahun kemudian isi barang dagangan Tomira ini mayoritas dari Kulon Progo.

Tapi, apakah Anda anti kapitalisme?

Ekonomi Pancasila itu berarti kerjasama, jadi kalau ada kapital  yang hebat dan orang miskin, mereka harus ditemukan. Sehingga kerjasama. Pernah ada yang mengatakan tidak perlu ada mall di Kulon Progi. Saya katakana boleh saja ada mall, tapi namanya Molira atau mall milik rakyat yang kepemilikannya milik rakyat, begitu juga isinya produknya. 

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS