Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika

Pebriansyah Ariefana
Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika
Muhammad Syamsi Ali atau Imam Shamsi Ali. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Dakwah itu beresensi ajakan, bagaimana bisa membangun rasa percaya sehingga orang tidak takut?

Suara.com - Muhammad Syamsi Ali atau Shamsi Ali bukan ulama populer di Indonesia. Padahal dia ulama besar di Negara Adidaya, Amerika Serikat. Di sana, Shamsi dikenal dengan nama Imam Shamsi Ali.

Dia pernah menjadi Imam Besar Masjid terbesar di sana, Al-Hikmah di  96th Street dan 3rd AV Manhattan, New York, dan menjadi salah satu orang yang paling berjasa dalam menyebarkan Islam damai pasca serangan teroris 11 September 2001. Shamsi juga seorang Direktur Jamaica Muslim Center di Queens.

Sosok Shamsi dikenal sebagai ulama yang toleran dan cerdas. Dia salah satu ulama yang sering berdakwah di forum Islam dunia untuk menyerukan tentang perdamaian. Shamsi membangun kepercayaan dunia barat tentang persepsi buruk Islam yang dihubungkan dengan terorisme.

Shamsi aktif mengadakan dialog antaragama di sana. Termasuk mendekati kaum Yahudi di Amerika Serikat. Sementara dalam tradisi Islam, Yahudi adalah kaum yang dimusuhi.

Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika - 1

Saat ini, tensi kebencian masyarakat Muslim ke kelompok Yahudi tengah meninggi. Militer Israel melarang warga muslim Palestina mendekati dan masuk ke Masjid Al Aqsa, sebuah simbol terpenting peradaban umat Islam.

Masjid ini merupakan kiblat pertama umat Islam. Dalam kitab suci Muslim, Al Quran disebutkan Nabi Muhammad memulai perjalanan Miraj untuk menerima kewajiban salat sehari semalam 6 waktu bagi Muslim.

Kejadian terakhir, sedikitnya 100 warga Palestina terluka akibat diserang militer Israel memakai peluru gas air mata dan granat, Kamis (27/7/2017) malam. Ketika itu warga Palestina tengah berjalan menuju pintu masuk kompleks Masjid Al Aqsa untuk salat.

Suara.com berbincang saat Shamsi datang ke Jakarta beberapa waktu lalu. Shamsi sejak usia 18 tahun meninggalkan Indonesia, dia sekarang menetap di New York bersama istri dan 6 anak. Dalam perbincangan itu suara.com menggali pemikiran Shamsi tentang pemikiran Islam damai. Dia juga banyak cerita soal Islamophobia di Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun Shamsi menjadi pendakwah di Amerika Serikat, dia juga keliling dunia untuk memperbaiki citra Islam di mata masyarakat dunia. Shamsi pun tidak segan berceramah di gereja dan tempat ibadah Yahudi. Di sana Shamsi bertukar pikiran mengembangkan prinsip-prinsip toleransi antar umat Bergama.

Simak cerita Shamsi berikut ini, termasuk apa perbedaan berceramah di depan kaum non muslim di AS dan muslim Indonesia?

 Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika - 2

Bagaimana ceritanya hingga Anda bisa menjadi seorang imam masjid di New York?

Antara tahun 1994-1996 saya menjadi guru di Arab Saudi. Lalu di penghujung tahun 1996, saya bertemu duta besar Indonesia di PBB, Nugroho Wisnu. Saya diminta menjadi penceramah manasik haji di konsulat jenderal Jeddah. Setelah ceramah itu, beliau mengajak saya ke New York. Dia mengatakan Indonesia baru membangun masjid untuk masyarakat muslim di New York, diperlukan seseorang untuk memimpin masjid.

Saat itu langsung menerima karena saya sudah merasa berat bekerja di Arab Saudi. Bukan soal gaji atau kerjaan. Pekerjaa saya saat itu sangat baik di sana. Tapi saat itu warga negara Indonesia di Arab Saudi dianggap warga negara kelas dua. Dianggap sebagai sopir dan pekerja rumah tangga.

Sehingga apapun posisi pekerja orang Indonesia di Arab Saudi, sudah ada stigma jika orang Indonesia tidak terdidik dan miskin-miskin.

Ada juga anggapan, jika muslim Indonesia yang tidak bergaya Arab maka dianggap keislamannya kurang. Sehingg ada penilaian orang yang kuat imannya hanya orang Arab saja.

Maka secara batin, saya memang ingin pindah. 

Anda yang pertama menjadi imam masjid itu?

Iya. Namanya Masjid Al Hikmah. Masjid itu dibeli tahun 1995, diresmikan 17 Agustus oleh Menteri Agama Tarmizi Taher. Tahun 1996, saya diminta memimpin masjid itu. Letaknya di 31st Street dan 48th Avenue di Astoria, Long Island City, Queens.

Bagaimana persepsi Islam saat itu oleh masyarakat dunia?

Kesalahan pemahaman masyarakat Amerika terhadap Islam ini sudah cukup lama, islamophobia bukan hal baru. Tapi baru populer setelah teror di 11 September. Tapi Islamophobia sudah jadi praktek biasa di Amerika dan Eropa.

Definisi muslim di mata masyarakat Amerika Serikat saat itu adalah seseorang yang tinggi besar, pakai jubah, bersorban, berdiri di pinggir padang pasir, di samping onta dan membawa pedang. Orang Islam dinilai tidak mengenal science dan teknologi alias terbelakang.

Orang Islam dinilai tidak mengenal transportasi yang canggih, hanya di samping onta saja. Dengan membawa pedang itu, orang Islam dinilai keras dan suka berperang. Definisi seperti ini sudah lama berkembang di orang-orang Amerika Serikat.

Sehingga sehingga saya datang, tantangannya sangat besar.

Tapi di saat bersamaan, Islam di Amerika sudah berkembang dan banyak pendatang dari Timur Tengah, Afrika Selatan dan Afrika. Masjid pun sudah mulai berkembang.

Tapi yang menjadi dilema, Islam ketika itu terlalu biasa-biasa saja. Dalam arti, saat umat muslim selesai beribadah salat, mereka menganggap semua urusan sudah selesai. Padahal di satu sisi Islam digambarkan dengan menyeramkan di sana.

Warga muslim tidak pernah berkomunikasi dengan sesama orang di sana, sehingga menimbulkan kecurigaan dari warga Amerika.

Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika - 3

Bagaimana dengan Anda? Apakah yang Anda lakukan untuk membuat persepsi baik tentang Islam di sana saat itu?

Pertama kali saya sampai, langsung mengetuk pintu tetangga sekitar masjid itu untuk memperkenalkan diri, bukan perkenalkan Islam. Saya mengenalkan diri sebagai tetangga yang baik. Lalu saya ajak datang ke masjid untuk bersilahturahmi, memberikan makanan ringan dan minuman.

Ternyata itu memberikan dampak yang positif. Dengan sendirinya, masyarakat Amerika di sana mulai bertanya-tanya. Mulai dari identitas diri sampai masjid yang mereka kunjungi.

Saya katakana, “ini gerejanya umat Islam.” Kami menggunakan kata church untuk menyebut masjid kepada mereka. Karena kata moslem church tidak harus diterjemahkan ke arti “gereja muslim”, tapi rumah Ibadan umat Islam.

Mereka bingung setelah bergaul dengan kami, karena persepsi Islam yang mereka dapatkan adalah keras, bahaya dan membenci. Nah kami mengubah anggapan itu dengan praktik dengan langkah kecil.

Keramahan itu sampai saat terjadi 11 September itu, semua berubah 180 derajat.

Bagaimana keadaan masjid Anda saat serangan 11 September itu?

Apa yang kita bangun tentang Islam di kalangan masyarakat AS, runtuh seketika. Islam dianggap radikal. Banyak orang yang menganggap kejadian 11 September itu sebagai kuburan bagi orang Islam di Amerika, kebencian terhadap Islam sudah sangat luar biasa saat itu.

Saat itu banyak masjid yang dirusak, perempuan berjilbab dipukuli, jilbabnya ditarik, orang yang ditusuk, dua orang yang ditembak mati.

Saya masih ingat jelas, sore hari peristiwa itu, saya menjadi imam di salah satu masjid di Kota New York, ada yang menemui saya. Banyak yang mengusulkan masjid-masjid ditutup. Saya satu-satunya imam yang bertahan, tidak mau menutup masjid karena saya tidak salah.

Kejadian itu, di lakukan oleh orang yang tidak ada hubungannya dengan kami. Maka kami harus tetap hidup normal seperti biasa. Akhirnya masjid tetap dibuka, salat 5 waktu sampai jumatan terus berjalan.

Tapi saat itu kami ingatkan agar perempuan harus lebih berhati-hati saat berjalan.

Tapi setelah itu, Masjid Al Hikmah yang saya pimpin saat itu, banyak didatangi tetangga-tetangga yang membawa karangan bunga menawarkan bantuan. Mereka tahu, kami dalam keadaan ketakutan. Tapi masjid-masjid lain yang dirusak dan dicorat-coret rata-rata dulunya mereka tidak melakukan pendekatan terhadap tetangg-tetangga.

Shamsi Ali: Berdialog dengan Yahudi, Dakwah Damai di Amerika - 4

Anda sering mendatangi gereja dan bicara di mimbar. Apa yang Anda bicarakan?

Itu bagian dari dialog antar agama. Sebelum kejadian 11 September kami sudah menjalin kerjasama dengan gereja-gereja. Bentuk kerjasamanya melakukan hal-hal yang disepakati bersama, kebanyakan masalah sosial, bukan ritual.

Sebab kami tidak bisa ibadah bersama. Kami memberikan makan ke orang miskin bersama, memberi makan anak yatim bersama, sampai membersihkan jalan bersama. Jadi itu lah dialog.

Sehingga dialog itu bukan menggadaikan agama atau mengganti agama. Bahkan sejak kejadian 11 September kami melakukan dialog dengan Kristen, bahkan Yahudi. Ini kesempatan besar untuk mengenalkan Islam tanpa harus menakut-nakuti.

Sebab terkadang menjadi dilemma saat berdakwah, seorang ulama tidak memperhatikan peserta dakwah itu. Sehingga banyak ulama menggunakan bahasa ‘buldozer’ dalam berdakwah, artinya menggunakan bahasa yang keras yang sifatnya mengusir dan menakuti.

Dakwah itu beresensi ajakan, bagaimana bisa membangun rasa percaya sehingga orang tidak takut.

Kami diundang ke gereja dan komunitas Yahudi untuk menjelaskan Islam dan posisi Islam dalam perdamaian dunia, terorisme, dan hubungan antar agama.

Di Indonesia, Yahudi dipersepsi kan sebagai musuh…

Di sana teman, sebab kami dapatkan banyak di antara teman-teman Yahudi justru ingin kerjasama dalam dialog, tapi juga membela Islam. Dalam sejarah, tidak ada komunitas yang membela masyarakat Yahudi lebih dari masyarakat Islam.

Sejak Yahudi dibasmi di Eropa, justru Islam yang membela mereka saat itu. Selain itu, ketika masyarakat Yahudi lari dari Jerman dan Austria, sampai ke Kesultanan Utsmaniyah atau Khalifah Utsmaniyah (Turki), mereka singgah di salah satu negara di Eropa, Al Bania yang kebetulan masyarakat muslim.

Saat itu tidak ada negara-negara yang melindungi Yahudi di Eropa kecuali di Al Bania. Lalu setelah itu mereka diterima di negara-negara Khalifah Utsmaniyah di Turki dan Maroko.

Sehingga saat Islamophobia meninggi di Amerika Serikat, kami mendekatkan diri ke masyarakat Yahudi. Masyarakat Yahudi mengatakan, soal Islamophobia bukan maslah orang Islam, tapi masalah orang Yahudi. Makanya orang Yahudi harus bangkit malawan. Sebaliknya, masalah antiYahudi bukan masalah Yahudi, tapi masalah umat Islam, dan kami harus melawan.

Buktinya saat Donald Trump terpilih jadi Presiden Amerika Serikat, justru pihak yang banyak memperjuangkan hak-hak Islam di Amerika adalah masyarakat Yahudi.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS