Suara.com - Perdagangan aneka barang kerajinan berbahan baku bambu buatan masyarakat Bali ke pasaran eksor saat ini lesu dan kurang bergairah. Ini dikarenakan selain kondisi ekonomi global belum kondusif, juga bahan baku yang semakin langka.
"Cukup sepi pesanan aneka barang kerajinan berbahan baku bambu yang diterima dari konsumen luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat," tutur Made Sudanayasa, pengusaha dan pengrajin bambu di Gianyar Sabtu (10/10/2015).
Pengusaha luar negeri, lanjut dia, memang masih ada yang meminta aneka kerajinan bambu yang bentuknya sesuai gambar atau rancangan yang dibawa dari negaranya, tapi dalam jumlah terbatas dengan harga yang disepakati sebelumnya.
"Pesanan yang diterima seperti tempat tidur malas yang biasa dibuat menggunakan bahan kayu jati dan sejenisnya, kini bisa dibuat dengan bahan baku bambu," imbuh Made Sudanayasa.
Sementara bahan baku yang semakin terbatas di Bali disiasati dengan cara mendatangkan bambu dari Jawa dan lombok.
Soal ekspor kerajinan bambu dari Bali yang sedang lesu dibenarkan oleh Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Bali, Made Suastika. Ia mengatakan bahwa perolehan devisa dari perdagangan aneka barang kerajinan berbahan baku bambu berkurang drastis periode tahun 2015 antara lain akibat ekonomi global yang lesu.
Sesuai catatan yang ada perolehan devisa dari aneka perdagangan kerajinan berbahan baku bambu hanya 5,8 juta dolar AS selama Januari-Agustus 2015, hasil pengapalan sebanyak 4,3 juta pcs dengan tujuan utama ke Amerika Serikat, Jepang dan Australia.
Hasil perdagangan tersebut, menurut Made Suastika, melorot hingga 56,5 persen dalam perolehan devisanya jika dibandingkan perioda Januari-Agustus 2014 mencapai 13,5 juta dolar hasil pengapalan 5,3 juta pcs. Kerajinan bambu buatan Bali masih ada diekspor tetapi jumlahnya sedikit. (Antara)