Forextime: Brexit Jadi Mimpi Buruk Bagi Bank Sentral Jepang

Adhitya Himawan | Suara.com

Selasa, 28 Juni 2016 | 12:30 WIB
Forextime: Brexit Jadi Mimpi Buruk Bagi Bank Sentral Jepang
Bendera Inggris dan Uni Eropa di bursa saham Tokyo. (Reuters)

Rupiah kembali melemah di pertengahan pekan perdagangan ini. Alasan sederhana dari penurunan ini adalah aksi menghindari risiko setelah hasil referendum Uni Eropa akhir pekan lalu sangat mengejutkan pasar. Pasar global amat sangat tidak siap menghadapi hasil "Keluar" dari Inggris dan benar-benar terpukul. Karena kejutan tersebut, selera risiko begitu terhantam dan ini bukan berita gembira bagi pasar berkembang. Apabila selera risiko rendah, investor akan menjauhi aset berisiko tinggi yaitu saham.

"Celakanya, pasar berkembang dianggap sebagai salah satu jalur investasi paling berisiko dan selera risiko di atmosfer pasar ini kemungkinan akan sangat rendah selama beberapa waktu. Pasar saham akan tertekan dan kecil kemungkinan Rupiah dapat menguat selama periode mendatang," kata Jameel Ahmad, VP of Market Research Forextime dalam keterangan resmi, Selasa (28/6/2016).  

Sebelum sesi Eropa dibuka hari ini dan perhatian terarah pada anjloknya saham perbankan, pasar sangat memantau perkembangan Asia, terutama Bank of Japan (BoJ) dan People's Bank of China (PBoC).  Salah satu alasan mengapa perhatian investor kepada BoJ tiba-tiba meningkat adalah karena hasil referendum Inggris adalah sebuah mimpi buruk bagi sebuah bank sentral yang sudah sangat kesulitan menghadapi peningkatan JPY yang dramatis dan tidak diinginkan sepanjang tahun 2016. "Internal BoJ pasti sedang mengalami waktu yang sulit saat ini karena mereka sepenuhnya paham bahwa kejutan dari referendum ini menghasilkan ancaman serius akan terjadinya periode penghindaran risiko berkepanjangan di pasar. Ini berarti tidak banyak yang dapat dilakukan BoJ untuk mencegah JPY menguat lebih tinggi lagi," jelas Jameel.

Ia menambahkan dirinya sudah begitu sering menyaksikan dan ini sudah tertanam di benak investor di seluruh dunia bahwa di saat yang penuh ketidakpastian, Yen Jepang menawarkan daya tarik safe haven bagi setiap investor. JPY telah mengalami pemulihan yang luar biasa dan dramatis pada enam bulan terakhir dan periode ketidakpastian hebat yang mengancam pasar selama jangka waktu yang cukup panjang mengatakan bahwa tren ini akan terus berlanjut. Dapatkan BoJ mengintervensi untuk mencegahnya? Tentu saja, namun tidak ada gunanya mengintervensi selama periode ketidakpastian ini masih berlanjut, dan sayangnya periode ini sepertinya akan terus berlangsung selama beberapa bulan mendatang. "Selain itu, begitu BoJ mengintervensi, permainan "kucing dan tikus" dengan investor akan dimulai. Dalam situasi yang serba tidak pasti seperti saat ini, mencoba membantu Yen hanya akan membuang-buang cadangan devisa," tambah Jameel.

Ia memprediksi BoJ akan terus memantau peningkatan permintaan Yen dan akan terus ada spekulasi tentang kapan BoJ akan mengintervensi pasar. Namun demikian, bank sentral ini disarankan untuk menunggu rapat G7/G20 berikutnya sebelum melakukan intervensi besar agar BoJ dapat menyatakan kesulitannya karena peningkatan permintaan JPY yang begitu hebat. Pemikiran yang ada di BoJ adalah begitu rapat G7/G20 mendatang digelar, diharapkan sudah ada rencana darurat yang dapat mengatasi kekacauan tak terduga saat ini dan juga dapat menenangkan periode ketidakpastian investor.

Bukan hanya BoJ yang terpukul dengan risiko periode penghindaran risiko berkepanjangan, namun perkembangan situasi dewasa ini juga menjadi berita buruk bagi pasar berkembang. Hasil dari referendum Uni Eropa dan potensi rusaknya selera risiko bukan hanya memengaruhi saham global, namun juga akan memaksa investor untuk menghindari pasar berkembang. Pasar berkembang selalu sangat terpengaruh oleh penghindaran risiko di pasar dan ini adalah ancaman dari referendum Uni Eropa. Dampak tidak langsung dari hasil yang mengejutkan akan membuat investor beralih dari aset berisiko seperti saham, dan tidak ada aset investasi yang lebih berisiko dibandingkan di pasar berkembang. Melemahnya mata uang China yang disampaikan PBoC pagi ini juga tidak mengejutkan. Penghindaran risiko juga memengaruhi China dan PBoC kini harus terus memantau dan mengintervensi untuk mencegah mata uang ini merosot lebih rendah lagi. Masalah utama melemahnya Yuan adalah pelemahan ini menimbulkan lagi ancaman arus keluar modal dan PBoC harus kembali menggelontorkan cadangan devisa.

Sebagian pihak mungkin bertanya apakah reaksi keseluruhan terhadap hasil referendum ini terlalu berlebihan. Sayangnya, pasar finansial amat sangat kurang memperhitungkan kemungkinan hasil "Keluar" dari Inggris. Kenaifan investor yang sejak awal tidak sedikit pun memperhitungkan potensi hasil "Keluar" telah menyebabkan seluruh investor dilanda kepanikan hebat. Trader kini bereaksi terhadap berita ini, dan sekarang memperhitungkan konsekuensi ketidakpastian yang menerjang seluruh ekonomi global. Saya benar-benar tidak mengerti mengapa investor tidak memperhitungkan konsekuensi hasil "Keluar" sejak dini, setidaknya untuk saham perbankan Inggris. Reaksi saat ini terhadap GBP masuk akal karena pasar saat itu terlalu tidak peduli dengan melakukan pemulihan mata uang ini di momen akhir sebelum referendum, dan kemudian terpukul oleh kejutan besar.

Beberapa menit lalu, GBPUSD anjlok ke level terendah selama 30 tahun di bawah 1.32 dan saya pribadi setuju dengan mereka yang menduga bahwa GBPUSD akan merosot hingga setidaknya ke 1.20 di tahun 2016. Begitu banyak ketidakpastian dalam ekonomi Inggris di masa mendatang. Anda pasti seorang pengambil risiko besar apabila saat ini berani memperkirakan pemulihan GBP dalam jangka menengah hingga panjang. Isu ini tidak lagi semata sebuah ekonomi besar memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Ini adalah isu di mana Inggris Raya jelas tidak memiliki rencana dan tidak memiliki Perdana Menteri selama beberapa bulan mendatang. Selain itu, sepertinya referendum Skotlandia pun tak terhindarkan. Bahkan apabila ada situasi luar biasa yang membatalkan hasil referendum Inggris, kita harus mengakui bahwa kerusakan reputasi dalam ekonomi Inggris sudah terlanjur terjadi. Seluruh dunia kini gelisah menyaksikan perguliran peristiwa di Inggris Raya, dan sayangnya semua peristiwa ini adalah berita negatif.

Gubernur Bank of England (BoE) Mark Carney mungkin sedang menghadapi tugas paling pelik di dunia finansial. Walau BoE jelas telah mengadakan banyak proses penilaian risiko sebelum hasil yang mengejutkan ini, penilaian hanyalah teori semata dan kita tidak tahu pasti bagaimana konsekuensi sebuah peristiwa bersejarah seperti ini sebelum benar-benar terjadi. 

"Ada satu elemen penting dari peristiwa tak terduga ini yang belum diperhitungkan dalam pasar finansial, yaitu apa dampaknya terhadap Federal Reserve Amerika Serikat? Federal Reserve jelas tidak mungkin melanjutkan rencananya untuk meningkatkan suku bunga AS. Selain itu ada spekulasi di akhir pekan bahwa Fed bahkan mungkin perlu berbalik arah secara drastis dan memotong suku bunga. Pepatah lama mengatakan bahwa "tidak ada hal yang pasti", dan pesan ini sangat tepat dalam situasi ketidakpastian yang menyelimuti pasar finansial global saat ini," tutur Jameel. 

"Kita harus mengakui bahwa ekspektasi peningkatan suku bunga AS yang jelas harus kembali ditunda belum benar-benar tergambarkan di harga USD saat ini, artinya USD berisiko mengalami depresiasi tajam di masa mendatang," pungkas Jameel.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Menkeu AS Pastikan Tak Ada Indikasi Krisis Pasca Brexit

Menkeu AS Pastikan Tak Ada Indikasi Krisis Pasca Brexit

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 12:00 WIB

Lembaga Pemeringkat Ramai-ramai Turunkan Peringkat Utang Inggris

Lembaga Pemeringkat Ramai-ramai Turunkan Peringkat Utang Inggris

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 11:17 WIB

Sentimen Negatif Brexit Masih Menerpa Bursa Saham AS dan Eropa

Sentimen Negatif Brexit Masih Menerpa Bursa Saham AS dan Eropa

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 10:32 WIB

Usai Brexit Ekonomi Inggris Bakal Alami Resesi

Usai Brexit Ekonomi Inggris Bakal Alami Resesi

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 08:29 WIB

Dolar AS Terus Menguat Usai Inggris Pisah dari UE

Dolar AS Terus Menguat Usai Inggris Pisah dari UE

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 07:50 WIB

AS: Peran Inggris di Kancah Global Berubah PascaBrexit

AS: Peran Inggris di Kancah Global Berubah PascaBrexit

News | Selasa, 28 Juni 2016 | 07:42 WIB

Jerman Sebut Keputusan Inggris Tinggalkan UE Bersifat Tetap

Jerman Sebut Keputusan Inggris Tinggalkan UE Bersifat Tetap

News | Selasa, 28 Juni 2016 | 07:16 WIB

Harga Minyak Mentah Anjlok Akibat Brexit

Harga Minyak Mentah Anjlok Akibat Brexit

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 07:07 WIB

30 Bank Sentral Dunia Siap Jaga Stabilitas Keuangan Pascabrexit

30 Bank Sentral Dunia Siap Jaga Stabilitas Keuangan Pascabrexit

Bisnis | Senin, 27 Juni 2016 | 15:29 WIB

Brexit Diprediksi Bikin IHSG Alami Tekanan Jangka Pendek

Brexit Diprediksi Bikin IHSG Alami Tekanan Jangka Pendek

Bisnis | Senin, 27 Juni 2016 | 10:27 WIB

Terkini

Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang

Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 19:29 WIB

Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko

Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 19:20 WIB

Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia

Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 19:16 WIB

Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam

Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 19:09 WIB

RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea

RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 19:04 WIB

Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun

Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 18:59 WIB

Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina

Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 18:58 WIB

Dinilai Wajar Naik, Perbandingan Harga BBM RI dengan Negara Tetanga

Dinilai Wajar Naik, Perbandingan Harga BBM RI dengan Negara Tetanga

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 18:56 WIB

DJP Hapus Sanksi Administratif Jika Lapor SPT Pajak Telat Lewati 31 Maret 2026

DJP Hapus Sanksi Administratif Jika Lapor SPT Pajak Telat Lewati 31 Maret 2026

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 17:35 WIB

IHSG Masih Merosot Hari Ini, Saham-saham Energi Membara

IHSG Masih Merosot Hari Ini, Saham-saham Energi Membara

Bisnis | Senin, 30 Maret 2026 | 17:15 WIB