Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Pengamat Minta Jokowi Tak Bermimpi Target Tinggi dalam APBNP-2016

Adhitya Himawan | Suara.com

Senin, 11 Juli 2016 | 13:24 WIB
Pengamat Minta Jokowi Tak Bermimpi Target Tinggi dalam APBNP-2016
Peneliti Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno Salamuddin Daeng. [Suara.com/Adhitya Himawan]

Peneliti Pusat kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno Salamuddin Daeng mengkritik target ekonomi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (ABNP-2016) yang sudah diketok palu.  Pemerintah dan DPR menetapkan Pendapatan Negara dan Hibah dalam APBN-P tahun 2016 sebesar Rp1.786,2 Triliun dan Belanja Negara ditetapkan sebesar Rp2.082,9 Triliun. Sementara target defisit anggaran dalam APBN–P tahun 2016 ditetapkan sebesar Rp296,7 Triliun (atau 2,35 persen terhadap PDB-).

"Perencanaan anggaran diatas sangatlah ambisius, tidak jauh berbeda sebelumnya," kata Salamudin dalam keterangan tertulis, Senin (11/7/2016). 

Ada tiga alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Pertama, target penerimaan negara ditetapkan sebesar Rp1.539,2 trilun. Target ini sudah pasti tidak akan tercapai. Mengingat realisasi penerimaan pajak pemerintah sepanjang  tahun 2015 hanya mencapai Rp1.055 triliun atau 81,5  persen dari target Rp1.294,25 triliun dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015.

"Jadi target kenaikan pajak pemerintahan Jokowi tahun 2016 itu mencapai 46  persen dibandingkan realisasi tahun 2015. Ini target yang kurang masuk akal atau kurang realistis," ujar Salamudin.

Kedua, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp245,1 triliun yang salah satunya bersumber dari penerimaan migas senilai  Rp68,7triliun.  Angka ini memang merupakan pnurunan yang sangat besar dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Sebagai contoh penerimaan migas tahun 2014 mencapai Rp216.9 triliun. Penerimaan negara bukan pajak secara keseluruhan mencapai Rp400 triliun.

"Jika kita mendasarkan penerimaan migas dan SDA sebagai indikator utama ekonomi Indonesia, penetapan target penerimaan negara Jokowi dalam APBNP 2016 Sebesar Rp1.786 triliun merupakan target yang  kurang masuk akal. Ini disebabkan kondisi ekonomi Indonesia tahun 2016 terus memburuk dibandingkan 2015," jelas Salamudin.

Ketiga, target utang pemerintah dalam APBNP 2016 sebesar Rp296,7  triliun mengalami peningkatan dari APBN 2016 Rp273,2 triliun atau meningkat sebesar 8,6  persen, selain akan menambah beban negara di masa mendatang, juga tidak akan menutup defisit anggaran pemerintahan Jokowi yang sangat besar. Untuk mengejar target belanja negara Rp2.082 triliun, pemerintahan Jokowi membutuhkan utang yang sangat besar.

"Melihat kondisi ekonomi sekarang dimana penerimaan negara dari pajak tidak akan lebih dari RP1100 triliun dan PNBP tidak lebih dari Rp100 triliun. maka untuk mengejar target belanja negara super besar tersebut, Pemerintahan Jokowi membutuhkan utang sebesar RP800 triliun atau sebesar 6,9  persen dari Gross Domestic Product (GDP). Semoga Pak Presiden Jokowi segera siuman, bangun dari mimpi panjang. Sudah dua tahun loh mimpinya," tutup Jokowi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

PDIP Tak Setuju Target Penerimaan Denda Pajak Masuk APBN-P 2016

PDIP Tak Setuju Target Penerimaan Denda Pajak Masuk APBN-P 2016

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 16:49 WIB

DPR Akhirnya Sahkan APBN-P 2016 Sebesar Rp2.082 Triliun

DPR Akhirnya Sahkan APBN-P 2016 Sebesar Rp2.082 Triliun

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 16:21 WIB

Usai Sahkan Tax Amnesty, DPR Bahas APBN-P 2016 di Rapat Paripurna

Usai Sahkan Tax Amnesty, DPR Bahas APBN-P 2016 di Rapat Paripurna

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 14:53 WIB

Sidang Paripurna DPR Soal Tax Amnesty Molor Sejam

Sidang Paripurna DPR Soal Tax Amnesty Molor Sejam

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 11:28 WIB

Ketua DPR Berharap RUU Tax Amnesty Mulus Disetujui

Ketua DPR Berharap RUU Tax Amnesty Mulus Disetujui

Bisnis | Selasa, 28 Juni 2016 | 10:50 WIB

Keuangan Negara Defisit, KPK Malah Minta Tambahan Anggaran Rp88 M

Keuangan Negara Defisit, KPK Malah Minta Tambahan Anggaran Rp88 M

News | Selasa, 14 Juni 2016 | 16:00 WIB

Bahas RAPBN Perubahan 2016, Empat Menko Kumpul di DPR

Bahas RAPBN Perubahan 2016, Empat Menko Kumpul di DPR

Bisnis | Senin, 13 Juni 2016 | 12:35 WIB

Anggaran Harus Dipangkas, Tapi Jangan Matikan Program Pro Rakyat

Anggaran Harus Dipangkas, Tapi Jangan Matikan Program Pro Rakyat

DPR | Senin, 13 Juni 2016 | 12:16 WIB

Pertumbuhan Ekonomi 5,1 Persen Dinilai Realistis

Pertumbuhan Ekonomi 5,1 Persen Dinilai Realistis

Bisnis | Sabtu, 11 Juni 2016 | 10:49 WIB

Belanja Pemerintah Sampai Mei 2016 Sebesar Rp357,4 Triliun

Belanja Pemerintah Sampai Mei 2016 Sebesar Rp357,4 Triliun

Bisnis | Sabtu, 11 Juni 2016 | 08:52 WIB

Terkini

MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya

MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 21:19 WIB

Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang

Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 17:33 WIB

Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?

Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 17:01 WIB

Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang

Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:30 WIB

Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024

Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:24 WIB

Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta

Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:45 WIB

Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang

Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:33 WIB

Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi

Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:03 WIB

Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste

Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 11:55 WIB

Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu

Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 11:47 WIB