BUMN Dituntut Berperan Atasi Kemiskinan di Indonesia

Adhitya Himawan

Kamis, 18 Agustus 2016 | 07:07 WIB
BUMN Dituntut Berperan Atasi Kemiskinan di Indonesia
Gedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu (12/3/2016). [Suara.com/Adhitya Himawan]

Di antara keprihatinan Presiden RI Joko Widodo saat memperingati 71 tahun Indonesia merdeka, di Istana Merdeka, Jakarta, adalah belum tuntasnya janji negara untuk hadir mengatasi kemiskinan, pengangguran dan kian tingginya kesenjangan sosial, mengingat sebagian besar rakyat masih berada di bawah ambang garis kemiskinan.

Masalah tersebut, kata Presiden Joko Widodo, sudah menjadi prioritas kerja sejak Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahhman Wahid, Megawati, hinggga Susilo Bambang Yudhoyono. Namun semua kerja keras setiap presiden tampaknya belum optimal diwujudkan, khususnya menurunkan tingkat kesenjangan sosial di masyarakat.

Oleh karenanya, pekerjaaan besar bangsa Indonesia kini dan masa depan, menuntaskan pengurangan kemiskinan hingga tidak terjadi jurang yang terus menganga antara si miskin dan kelompok berada. Padahal para pendiri kemerdekaan telah berpesan seperti tertuang dalam Pasal 34 UUD 1945, "fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara".

Dimuatnya pasal itu dikarenakan para pendiri sadar, kemiskinan dan pengangguran itu pasti akan terjadi di masyarakat. Oleh karenanya, negara wajib hadir mengentaskan mereka dari kemiskinan, jangan sebaliknya, membiarkan atau membuat kebijakan hingga memiskinkan orang seperti penggusuran yang dilakukan semena-mena atas nama negara.

Biro Pusat Statistik (BPS) dalam laporan terbaru Maret 2016 menyebutkan, jumlah penduduk miskin, dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 28,01 juta jiwa atau sebesar 10,86 persen dari total jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa.

Jumlah penduduk miskin lebih banyak tingggal di perdesaan, per Maret tahun ini mengalami kenaikan 0,02 persen menjadi 14,11 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Lonjakan kemiskinan di daerah perdesaan disebabkan kian tergerusnya nilai tukar petani (NTP) jika dibanding dengan nilai tukar produk industri (NTPI), khususnya produk teknologi tinggi.

Di masa silam, satu ekor sapi sudah dapat ditukar, misalnya, dengan dua sepeda motor merek Honda. Sekarang, seorang petani yang punya lima ekor sapi, belum tentu bisa menukarnya dengan satu buah mobil Avanza. Harga produk petani terus tergerus, sementara produk industri terus naik menanjak. Itu yang menyebabkan mengapa semua Presiden RI tampak belum mampu bekerja secara optimal, khususnya dalam memerangi kemiskinan, pengangguran dan kesenjanagan sosial.

Presiden Joko Widodo seyogianya tidak perlu risau, karena hampir semua presiden tampaknya belum mampu menurunkan angka kemiskinan pada level di bawah 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sejak Orde Lama, Orde Baru hingga pascareformasi, jumlah kemiskinan relatif stabil permanen di digit ganda dari jumlah penduduk Indonesia.

Zaman Orde Baru, Presiden ke-2 RI Soeharto mencoba meningkatkan NTP petani lewat pengekangan impor produk pertanian dan melindungi produk lokal. Usaha itu ada hasilnya meskipun belum sepenuhnya berhasil lantaran pihak asing tidak suka dengan kebijakan presiden hingga dia dipaksa turun tahta, didahului dengan penandatangan Lembaga Keuangan Internasional/IMF dengan pemerintah Indonesia tentang larangan proteksi berbagai barang lokal.

Itu sebabnya, Presiden Joko Widodo dalam pidato politiknya, di hadapan MPR, DPR dan DPD, belum lama ini ingin memutus rantai kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial lewat optimalisasi peran badan usaha milik negara (BUMN). Lembaga itu diharapkan mampu berperan aktif dalam meningkatkan investasi, khususnya pembangunan di kawasan terluar, terpinggir atau perdesaan sebagai program unggulan dalam Nawacita pemerintah.

Membangun dari Pinggiran Program Nawacita Presiden Joko Widodo seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, di antaranya mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Maksud Joko Widodo, kemandirian ekonomi Indonesia tidak mungkin diserahkan kepada pihak swasta. Namun, peran BUMN-lah yang diharapkan mampu mengimplementasikan sembilan program Nawacita, antara lain membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam negara kesatuan.

Itu sebabnya, pidato kenegaraan itu secara khusus Joko Widodo menegaskan, pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, terutama pembangunan di wilayah marjinal.

Tahun 2016 ini, investasi BUMN ditargetkan sebesar Rp410,2 triliun, di dalamnya terdapat 62 proyek strategis dengan nilai proyek sebesar Rp347 triliun. Target nilai investasi BUMN akan dinaikkan setiap tahunnya, sehingga jumlah nilai investasi akan mencapai Rp764 triliun hingga akhir tahun 2019.

Presiden dalam kaitan ini mempercayakan Menteri Negara BUMN Rini Mariani Soemarno, mantan Wakil Presiden komisaris PT United Tractor dan Komisaris Bursa Efek Jakarta, untuk memenuhi target tersebut. Bagi Rini yang lahir di Maryland, Amerika Serikat, 9 Juni 1958 tidak terlalu sulit, mengingat jaringan dan pengalaman bisnis selama ini cukup lengkap.

Untuk membangun berbagai infrastruktur di daerah terluar, ia tidak hanya mengandalkan kemampuan dana BUMN dan APBN semata, tetapi juga menjaring para investor asing melakukan investasi di Indonesia. China dan Jepang, saat ini menjadi mitra baik dalam ikut mewujudkan Nawacita Presiden, karena dalam waktu tiga tahun terakhir, kedua negara sudah menginvestasikan sekitar Rp2,1 miliar. Di luar dua negara itu tentu diharapkan masih banyak lagi pihak asing berinvestasi ke Indonesia, tetapi masalahnya jangan sampai BUMN hanya jadi penonton saat korporasi asing melanglang buana ke wilayah Nusantara. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Rayakan HUT RI ke-71, BUMN Gelar Bedah Rumah Veteran

Rayakan HUT RI ke-71, BUMN Gelar Bedah Rumah Veteran

Press Release | Rabu, 17 Agustus 2016 | 13:34 WIB

Rayakan HUT RI, BRI Salurkan CSR BUMN Hadir Untuk Negeri

Rayakan HUT RI, BRI Salurkan CSR BUMN Hadir Untuk Negeri

Press Release | Rabu, 17 Agustus 2016 | 09:15 WIB

DPR Minta Sri Mulyani Cegah Potensi Hilangnya Pendapatan Negara

DPR Minta Sri Mulyani Cegah Potensi Hilangnya Pendapatan Negara

Bisnis | Rabu, 17 Agustus 2016 | 09:01 WIB

Heboh Kewarganegaraan Ganda, Menteri Rini Akui Lahir di Amerika

Heboh Kewarganegaraan Ganda, Menteri Rini Akui Lahir di Amerika

News | Selasa, 16 Agustus 2016 | 19:38 WIB

Mengapa Kemiskinan Susah Ditangani? Ini Solusinya

Mengapa Kemiskinan Susah Ditangani? Ini Solusinya

News | Selasa, 16 Agustus 2016 | 15:32 WIB

Bank Mandiri Terbitkan Efek Beragun Aset bentuk Surat Partisipasi

Bank Mandiri Terbitkan Efek Beragun Aset bentuk Surat Partisipasi

Bisnis | Selasa, 16 Agustus 2016 | 09:06 WIB

Turunnya Jumlah Penduduk Miskin Pedesaan Sangat Kecil

Turunnya Jumlah Penduduk Miskin Pedesaan Sangat Kecil

Bisnis | Selasa, 16 Agustus 2016 | 06:41 WIB

Laba Bersih BRI di Semester I 2016 Capai Rp12,04 Triliun

Laba Bersih BRI di Semester I 2016 Capai Rp12,04 Triliun

Bisnis | Senin, 15 Agustus 2016 | 13:03 WIB

Pertamina: Holding Migas Positif Untuk Ekonomi Nasional

Pertamina: Holding Migas Positif Untuk Ekonomi Nasional

Bisnis | Senin, 15 Agustus 2016 | 06:50 WIB

Pelindo IV Buka Jalur Ekspor Langsung dari Balikpapan

Pelindo IV Buka Jalur Ekspor Langsung dari Balikpapan

Bisnis | Minggu, 14 Agustus 2016 | 12:38 WIB

Terkini

Dari Garmin Run 2026, Gaya Hidup Aktif Bertemu Solusi Finansial

Dari Garmin Run 2026, Gaya Hidup Aktif Bertemu Solusi Finansial

Sport | Senin, 21 September 2026 | 21:24 WIB

Kondisi Doddy Katamsi Memprihatinkan Akibat Penyakit Jantung, Keluarga Meminta Doa

Kondisi Doddy Katamsi Memprihatinkan Akibat Penyakit Jantung, Keluarga Meminta Doa

Entertainment | Senin, 21 September 2026 | 21:21 WIB

Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, KIKA Beri Kritik Pedas ke Prabowo

Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, KIKA Beri Kritik Pedas ke Prabowo

News | Senin, 21 September 2026 | 21:13 WIB

Tuntutan 8,5 Tahun Bikin Suasana Sidang Sudewo Memanas, Pendukung Ricuh

Tuntutan 8,5 Tahun Bikin Suasana Sidang Sudewo Memanas, Pendukung Ricuh

Jawa Tengah | Senin, 21 September 2026 | 21:03 WIB

vivo X500 Series Resmi Meluncur, Bawa Kamera 17EV dan Video 4K 240fps

vivo X500 Series Resmi Meluncur, Bawa Kamera 17EV dan Video 4K 240fps

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 21:02 WIB

Target E50 di Depan Mata, Impor Bensin Bakal Dihentikan?

Target E50 di Depan Mata, Impor Bensin Bakal Dihentikan?

Video | Senin, 21 September 2026 | 21:00 WIB

Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026

Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026

News | Senin, 21 September 2026 | 20:57 WIB

Dipicu Sengkarut U-Turn, 5 Pelaku Tawuran Bersenjata Stik Golf di Saharjo Diringkus Polisi

Dipicu Sengkarut U-Turn, 5 Pelaku Tawuran Bersenjata Stik Golf di Saharjo Diringkus Polisi

News | Senin, 21 September 2026 | 20:55 WIB

Viral Diklaim Bersama Istri Muda di Sukabumi, Polisi Tegaskan ASN Bogor Masih Hilang

Viral Diklaim Bersama Istri Muda di Sukabumi, Polisi Tegaskan ASN Bogor Masih Hilang

Jabar | Senin, 21 September 2026 | 20:55 WIB

Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual

Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 20:55 WIB

×