Pengamat Beberkan Faktor yang Bikin Garuda Indonesia Alami Krisis

Adhitya Himawan, Dian Kusumo Hapsari

Jum'at, 16 Juni 2017 | 15:09 WIB
Pengamat Beberkan Faktor yang Bikin Garuda Indonesia Alami Krisis
Maskapai Garuda Indonesia terparkir di terminal II Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (12/12). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio mengatakan isu kebangkrutan Garuda Indonesia bukan lagi hal baru. Pasalnya lebih dari 10 tahun silam, maskapai penerbangan tertua di Indonesia ini juga pernah mengalami krisis finansial.

“Ini bukan berita baru. Garuda itu pernah untung kira- kira tahun 2014 karena dulu sebenarnya pernah untung besar setelah restrukturisasi kemudian beli pesawat baru dan seterusnya. Tahun depannya itu untungnya kecil lalu kemudian direvisi. Lalu lama- lama keuntungan besar itu habis karena setiap tahun direvisi,” papar Agus ketika menjadi narasumber di Forum Dialog HIPMI bertajuk “ Garuda Indonesia Ditengah Turbulensi” di Jakarta Selatan, Kamis, (15/6/2017).

Menurut Agus, krisis yang terjadi di Garuda Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dikatakannya bisnis penerbangan adalah jenis bisnis tunai dengan keuntungan kecil sekitar 1 sampai 5 persen saja.

“Bisnis penerbangan itu bisnis cash, bisnis tunai. Untungnya kecil hanya 1-5 persen. Jadi bahaya kalau Garuda tidak punya banyak cash. Kalau sekarang (Garuda Indonesia) untung 1 atau 2 persen saja sudah bagus,” jelas Agus.

Faktor kedua, sambungnya adalah masalah budaya perusahaan yang selalu menggunakan fasilitas premium dengan harga tinggi. Budaya seperti ini tidak pernah berubah dari waktu ke waktu meskipun perusahaan ini terancam pailit.

"Garuda punya culture yang hebat. Kalau tinggal di hotel, minimal harus hotel bintang lima. Pakai baju batik harus yang mahal, begitu terus wine nya juga yang kelas wide. Jadi memang sudah begitu budayanya dan itu susah diubah," kata Agus.

Kemudian, selain dari segi budaya perusahaan yang terkenal premium, masalah regulasi juga menjadi penghambat perkembangan Garuda Indonesia. Pasalnya, saat hendak membeli pesawat baru pemerintah melarang proses pembelian langsung melainkan harus melalui proses tender. Berbeda hal dengan paskapai penerbangan swasta lain seperti Lion Air yang bisa langsung mengirim pesawat dari Seatlle ke Jakarta.

“Regulasinya berat. Karena bisnis cash tadi dia kalau mau beli pesawat harus tender. Lion air mau beli pesawat tinggal datang saja. Saya pernah beberapa kali ikut mereka negosiasi maupun ambil pesawat baru,” kisahnya.

baca juga

Karena kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan pembelian pesawat secara langsung sering kali setelah proses tender selesai tren pesawat yang dibeli ternyata sudah turun dipasaran.

“Persoalannya ketika pesawat itu dibeli, itu kan ngantri nah kemudian ketika pesawat itu sudah jadi mungkin trennya sudah turun. Trend sekarang ini adalah 767 atau air bus 350. Yang 380 orang sudah tidak suka terlalu besar,” papar Agus.

Sayangnya, kata Agus tidak semua jenis pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia membawa keuntungan sementara biaya yang dibutuhkan untuk maintainance pesawat jumlahnya cukup besar.

"Dia terlalu banyak jenis pesawatnya sementara biaya maintenance mahal," cetusnya.

Adapun harga bahan bakar avtur juga mengalami lonjakan yang signifikan yakni 15 persen lebih mahal dikarenakan pemasok avtur hanya dari Pertamina, ditambah dengan pungutan dari BPH Migas.

“Costnya 15 persen lebih mahal karena supply nya cuma satu dari Pertamina, dihitung rata- rata harga costnya lalu ada pungutan dari BPH Migas. Banyak macam- macam lagi sehingga mahal. Karena itu 30-40 persen operasional itu dari avtur,” terang Agus.

Satu lagi yang dikritisi oleh Agus yakni mengenai rute penerbanganGaruda Indonesia yang juga menjadi rute penerbangan maskapai asing.

"Rute banyak, ada 33 rute internasional di Indonesia. Market Garuda dihabisi asing. Harusnya asing kasih saja izin terbang malam. Jadi, ini perlu pembenahan, tidak hanya dari internal Garuda tapi juga sistem regulasi harus direvisi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Garuda Indonesia Makin Kusut, Perlu Terobosan Pemerintah

Garuda Indonesia Makin Kusut, Perlu Terobosan Pemerintah

Bisnis | Jum'at, 16 Juni 2017 | 09:45 WIB

Rizal Ramli Sebut Pembelian Pesawat Garuda Ada Kongkalikong

Rizal Ramli Sebut Pembelian Pesawat Garuda Ada Kongkalikong

Bisnis | Kamis, 15 Juni 2017 | 20:16 WIB

Omset Garuda Indonesia Turun, DPR : BUMN Salah Kelola

Omset Garuda Indonesia Turun, DPR : BUMN Salah Kelola

Bisnis | Kamis, 15 Juni 2017 | 16:48 WIB

Alami Turbulensi, DPR Sebut Garuda Indonesia Salah Kelola

Alami Turbulensi, DPR Sebut Garuda Indonesia Salah Kelola

Bisnis | Minggu, 11 Juni 2017 | 00:14 WIB

Pelni Sediakan Tiket Mudik Murah Jakarta-Surabaya PP

Pelni Sediakan Tiket Mudik Murah Jakarta-Surabaya PP

Lifestyle | Jum'at, 09 Juni 2017 | 15:56 WIB

Antisipasi Lebaran, PT KAI Daop 1 Amankan 107 Stasiun

Antisipasi Lebaran, PT KAI Daop 1 Amankan 107 Stasiun

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 15:35 WIB

HIPMI Minta Kementerian BUMN Selamatkan Garuda Indonesia

HIPMI Minta Kementerian BUMN Selamatkan Garuda Indonesia

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:24 WIB

Terus Merugi, Garuda Indonesia Diminta Lakukan Efisiensi

Terus Merugi, Garuda Indonesia Diminta Lakukan Efisiensi

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:15 WIB

Garuda Indonesia Merugi, HIPMI Desak Pemerintah Untuk Ambil Alih

Garuda Indonesia Merugi, HIPMI Desak Pemerintah Untuk Ambil Alih

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:07 WIB

Tenang Saja, Garuda Siapkan 50 Ribu Kursi Tambahan Selama Lebaran

Tenang Saja, Garuda Siapkan 50 Ribu Kursi Tambahan Selama Lebaran

Bisnis | Kamis, 08 Juni 2017 | 13:27 WIB

Terkini

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla di Indonesia

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla di Indonesia

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:45 WIB

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:32 WIB

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:18 WIB

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Video | Minggu, 20 September 2026 | 21:01 WIB

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

Jabar | Minggu, 20 September 2026 | 20:58 WIB

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:51 WIB

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

Sulsel | Minggu, 20 September 2026 | 20:48 WIB

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

Jatim | Minggu, 20 September 2026 | 20:33 WIB

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:32 WIB

×