Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Pengamat Beberkan Faktor yang Bikin Garuda Indonesia Alami Krisis

Adhitya Himawan, Dian Kusumo Hapsari

Jum'at, 16 Juni 2017 | 15:09 WIB
Pengamat Beberkan Faktor yang Bikin Garuda Indonesia Alami Krisis
Maskapai Garuda Indonesia terparkir di terminal II Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (12/12). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio mengatakan isu kebangkrutan Garuda Indonesia bukan lagi hal baru. Pasalnya lebih dari 10 tahun silam, maskapai penerbangan tertua di Indonesia ini juga pernah mengalami krisis finansial.

“Ini bukan berita baru. Garuda itu pernah untung kira- kira tahun 2014 karena dulu sebenarnya pernah untung besar setelah restrukturisasi kemudian beli pesawat baru dan seterusnya. Tahun depannya itu untungnya kecil lalu kemudian direvisi. Lalu lama- lama keuntungan besar itu habis karena setiap tahun direvisi,” papar Agus ketika menjadi narasumber di Forum Dialog HIPMI bertajuk “ Garuda Indonesia Ditengah Turbulensi” di Jakarta Selatan, Kamis, (15/6/2017).

Menurut Agus, krisis yang terjadi di Garuda Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dikatakannya bisnis penerbangan adalah jenis bisnis tunai dengan keuntungan kecil sekitar 1 sampai 5 persen saja.

“Bisnis penerbangan itu bisnis cash, bisnis tunai. Untungnya kecil hanya 1-5 persen. Jadi bahaya kalau Garuda tidak punya banyak cash. Kalau sekarang (Garuda Indonesia) untung 1 atau 2 persen saja sudah bagus,” jelas Agus.

Faktor kedua, sambungnya adalah masalah budaya perusahaan yang selalu menggunakan fasilitas premium dengan harga tinggi. Budaya seperti ini tidak pernah berubah dari waktu ke waktu meskipun perusahaan ini terancam pailit.

"Garuda punya culture yang hebat. Kalau tinggal di hotel, minimal harus hotel bintang lima. Pakai baju batik harus yang mahal, begitu terus wine nya juga yang kelas wide. Jadi memang sudah begitu budayanya dan itu susah diubah," kata Agus.

Kemudian, selain dari segi budaya perusahaan yang terkenal premium, masalah regulasi juga menjadi penghambat perkembangan Garuda Indonesia. Pasalnya, saat hendak membeli pesawat baru pemerintah melarang proses pembelian langsung melainkan harus melalui proses tender. Berbeda hal dengan paskapai penerbangan swasta lain seperti Lion Air yang bisa langsung mengirim pesawat dari Seatlle ke Jakarta.

“Regulasinya berat. Karena bisnis cash tadi dia kalau mau beli pesawat harus tender. Lion air mau beli pesawat tinggal datang saja. Saya pernah beberapa kali ikut mereka negosiasi maupun ambil pesawat baru,” kisahnya.

baca juga

Karena kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan pembelian pesawat secara langsung sering kali setelah proses tender selesai tren pesawat yang dibeli ternyata sudah turun dipasaran.

“Persoalannya ketika pesawat itu dibeli, itu kan ngantri nah kemudian ketika pesawat itu sudah jadi mungkin trennya sudah turun. Trend sekarang ini adalah 767 atau air bus 350. Yang 380 orang sudah tidak suka terlalu besar,” papar Agus.

Sayangnya, kata Agus tidak semua jenis pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia membawa keuntungan sementara biaya yang dibutuhkan untuk maintainance pesawat jumlahnya cukup besar.

"Dia terlalu banyak jenis pesawatnya sementara biaya maintenance mahal," cetusnya.

Adapun harga bahan bakar avtur juga mengalami lonjakan yang signifikan yakni 15 persen lebih mahal dikarenakan pemasok avtur hanya dari Pertamina, ditambah dengan pungutan dari BPH Migas.

“Costnya 15 persen lebih mahal karena supply nya cuma satu dari Pertamina, dihitung rata- rata harga costnya lalu ada pungutan dari BPH Migas. Banyak macam- macam lagi sehingga mahal. Karena itu 30-40 persen operasional itu dari avtur,” terang Agus.

Satu lagi yang dikritisi oleh Agus yakni mengenai rute penerbanganGaruda Indonesia yang juga menjadi rute penerbangan maskapai asing.

"Rute banyak, ada 33 rute internasional di Indonesia. Market Garuda dihabisi asing. Harusnya asing kasih saja izin terbang malam. Jadi, ini perlu pembenahan, tidak hanya dari internal Garuda tapi juga sistem regulasi harus direvisi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Garuda Indonesia Makin Kusut, Perlu Terobosan Pemerintah

Garuda Indonesia Makin Kusut, Perlu Terobosan Pemerintah

Bisnis | Jum'at, 16 Juni 2017 | 09:45 WIB

Rizal Ramli Sebut Pembelian Pesawat Garuda Ada Kongkalikong

Rizal Ramli Sebut Pembelian Pesawat Garuda Ada Kongkalikong

Bisnis | Kamis, 15 Juni 2017 | 20:16 WIB

Omset Garuda Indonesia Turun, DPR : BUMN Salah Kelola

Omset Garuda Indonesia Turun, DPR : BUMN Salah Kelola

Bisnis | Kamis, 15 Juni 2017 | 16:48 WIB

Alami Turbulensi, DPR Sebut Garuda Indonesia Salah Kelola

Alami Turbulensi, DPR Sebut Garuda Indonesia Salah Kelola

Bisnis | Minggu, 11 Juni 2017 | 00:14 WIB

Pelni Sediakan Tiket Mudik Murah Jakarta-Surabaya PP

Pelni Sediakan Tiket Mudik Murah Jakarta-Surabaya PP

Lifestyle | Jum'at, 09 Juni 2017 | 15:56 WIB

Antisipasi Lebaran, PT KAI Daop 1 Amankan 107 Stasiun

Antisipasi Lebaran, PT KAI Daop 1 Amankan 107 Stasiun

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 15:35 WIB

HIPMI Minta Kementerian BUMN Selamatkan Garuda Indonesia

HIPMI Minta Kementerian BUMN Selamatkan Garuda Indonesia

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:24 WIB

Terus Merugi, Garuda Indonesia Diminta Lakukan Efisiensi

Terus Merugi, Garuda Indonesia Diminta Lakukan Efisiensi

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:15 WIB

Garuda Indonesia Merugi, HIPMI Desak Pemerintah Untuk Ambil Alih

Garuda Indonesia Merugi, HIPMI Desak Pemerintah Untuk Ambil Alih

Bisnis | Jum'at, 09 Juni 2017 | 13:07 WIB

Tenang Saja, Garuda Siapkan 50 Ribu Kursi Tambahan Selama Lebaran

Tenang Saja, Garuda Siapkan 50 Ribu Kursi Tambahan Selama Lebaran

Bisnis | Kamis, 08 Juni 2017 | 13:27 WIB

Terkini

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:05 WIB

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:58 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Pasokan Aman, Bahlil Sebut Jangan Salahkan Batu Bara, Itu Teknis PLN

Pasokan Aman, Bahlil Sebut Jangan Salahkan Batu Bara, Itu Teknis PLN

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:47 WIB

Indonesia dan Italia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Kapal Angkatan Laut

Indonesia dan Italia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Kapal Angkatan Laut

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22 WIB

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:16 WIB

Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya

Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 11:45 WIB

Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan

Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:57 WIB

MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni

MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:53 WIB

Promosikan Platform Investasi Ilegal, Sejumlah Influencer Dijewer Satgas PASTI

Promosikan Platform Investasi Ilegal, Sejumlah Influencer Dijewer Satgas PASTI

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:48 WIB