Array

Gaji Jurnalis Media Online Tidak Tinggi, Inilah Versi AJI Jakarta

Adhitya Himawan Suara.Com
Kamis, 01 Februari 2018 | 15:34 WIB
Gaji Jurnalis Media Online Tidak Tinggi, Inilah Versi AJI Jakarta
Ketua AJI Jakarta, Ahmad Nurhasim. [Suara.com/Adhitya Himawan]

Suara.com - Ketua AJI Jakarta, Ahmad Nurhasim, mengatakan bahwa dunia kini menghadapi era disrupsi. Yaitu situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

"Disrupsi ini juga terjadi industri media," kata Hasim dalam diskusi publik di Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Hasim menyebut sebetulnya sudah banyak perusahaan media yang memiliki platformm cetak dan online sekaligus. Namun perusahaan yang memiliki keduanya, menurutnya sedang menggali liang kuburnya sendiri.

"Karena mereka menukar keuntungan dari yang semula berbayar menjadi gratis," ujarnya.

Disisi lain, kue pendapatan iklan yang masuk ke industri media online yang tumbuh dengan pesat ternyata masih sedikit. Masih sedikit jumlah media online yang sudah mampu meraih untung dalam jumlah besar. "Seperti Detik.com. Pertanyannya, kemana larinya uang iklan tersebut?," ujarnya.

Hasim menengarai kue pendapatan iklan yang seharusnya masuk ke media online justru masuk ke media sosial. Menurutnya, ini terlihat dari pendapatan iklan google yang terus menerus naik sejak tahun 2003 hingga 2013. Sebaliknya, iklan di surat kabar menunjukkan penurunan.

"Duit itu sebetulnya dari dulu tidak pernah berkurang. Masalahnya sekarang duit itu masuk ke kantung siapa," jelasnya.

Hasim mengakui biaya produksi yang dibutuhkan dari industri media online sebetulnya lebih murah dari media cetak. Media online tidak harus keluar biaya cetak dan sebagainya. "Tetapi gaji jurnalis media online juga tidak tinggi dalam survey AJI Jakarta. Kenapa? Karena pendapatan industri media online tidak besar, seperti yang tadi saya jelaskan," ujarnya.

Masalah ini, menurut AJI Jakarta, semakin diperparah dengan banyaknya perusahaan media yang tidak terbuka soal kondisi keuangan perusahaanya terhadap para pekerja. Kecuali perusahan-perusahaan media yang telah menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia.

Baca Juga: AJI Jakarta: Ada Empat Kasus PHK Perusahaan Media Tahun 2017

"Ini sangat ironis mengingat media adalah agen demokrasi yang sering menerikaan keterbukaan kepada pemerintah," tuturnya.

Dalam situasi seperti ini, Hasim menegaskan industri media yang bisa beradaptasi pada akhirnya akan mampu bertahan hidup. Begitu juga dengan jurnalisnya, dituntut harus bisa beradaptasi.

"Masalahnya banyak pekerja media cetak susah untuk diajak beradaptasi dengan kultur di media online. Ketika kita tidak bisa beradaptasi, misal fanati sebagai jurnalis media cetak. Sulit bersaing dalam pasar ketenagakerjaan industri media saat ini," imbuhnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI