Pengembangan Padi Hibrida Dinilai Bisa Memacu Produktivitas

Fabiola Febrinastri
Pengembangan Padi Hibrida Dinilai Bisa Memacu Produktivitas
Ilustrasi padi (Shutterstock).

Saat ini, penggunaan padi hibrida secara nasional masih di bawah satu persen.

Suara.com - Swasembada pangan tak lepas dari dua komoditas strategis, padi dan jagung. Padi, yang hasilnya berupa beras adalah pangan primer bagi masyarakat negeri ini, sementara jagung adalah unsur utama pakan unggas dan campuran konsentrat ternak potong  atau perah besar yang output-nya berupa daging dan susu.

Dalam perkembangannya, rerata produktivitas jagung melampaui padi. Pada 2009 - 2015, rata-rata kenaikan produktivitas (dalam ton / hektare) adalah 3,62 persen.

Pada tahun yang sama, padi sawah, irigasi produktivitasnya tidak beringsut dari angka 1,27 persen.

Data tersebut disampaikan Yuana Leksana, Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asbenindo (Asosiasi Perbenihan Indonesia). Ia mengatakan, tren kenaikan produksi jagung dan padi nasional lebih banyak disumbang oleh luas panen.

“Khusus padi, pada 2016 dan 2017, angka produktivitasnya negatif 2,0 persen dan dan negatif 1,5 persen, namun untuk jagung positif 2.4 persen pada 2016 dan negatif 1,5 persen pada 2017,” jelasnya, seperti dikutip dari Suara Petani Institute.

Jika dilihat dari penggunaan benih padi dewasa ini, sebanyak 30,44 persen petani di Indonesia masih menggunakan varietas Ciherang, yang sudah dilepas 18 tahun silam. Padahal pemerintah telah mendorong penggunaan benih bermutu dan varietas unggul melalui subsidi benih melalui bantuan benih pemerintah.

"Teknologi padi hibrida sejatinya dapat menjadi salah satu upaya pemerintah untuk dapat meningkatkan angka produktivitas yang terbukti berhasil di komoditas jagung, dengan program perluasan hibridisasinya," tambah Yuana.

Perkembangan padi hibrida dinilai tidak pesat, karena keterbatasan importasi tetua yang memang diperlukan untuk mendapatkan benih hibrid yang sesuai dengan agrolimat Indonesia.

“Industri benih, dalam satu ha hanya mendapatkan benih komersial paling banyak 1,5 ton. Bayangkan jika ada perminataan dari masyarakat tani Indonesia, pasti akan membutuhkan petani mitra penangkar benih yang jauh lebih banyak dan itu menguntungkan Indonesia,” jelas Yuana.

Saat ini, penggunaan padi hibrida secara nasional masih di bawah satu persen, sedangkan di banyak negara Asia, seperti Cina, India, Bangladesh dan Filipina, benih padi hibrida sudah menjadi pilihan utama untuk memacu produktivitas.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Suara Petani Institute, Tony Setiawan, menjelaskan, ada saatnya petani sulit mendapatkan benih padi hibrida.

“Pemerintah sepatutnya konsisten untuk memacu pengembangan industri benih padi hibrida tumbuh di Indonesia. Jika tidak, yang rugi kan petani juga, karena mereka tidak mendapatkan kepastian benih yang diproduksi industri, padahal sudah dilepas pemerintah,” katanya.

loading...
loading...
Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS