Suara.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang triwulan I tahun 2020 hanya sebesar 2,97 persen, target ini tentu di bawah ekspektasi pemerintah yang berharap bisa tumbuh hingga 4,5 persen.
Babak belurnya angka pertumbuhan ini dikarenakan sejumlah indikator pertumbuhan ekonomi nasional yang dibabat habis oleh Virus Corona atau Covid-19.
Menanggapi hal ini, Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, rendahnya pertumbuhan ekonomi dikarenakan konsumsi rumah tangga yang merosot ke angka 2,84 persen dan investasi yang hanya tumbuh 1,70 persen imbas Virus Corona.
"Merosotnya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh pembatasan sosial berskala besar (PSBB)," kata Febrio dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (5/5/2020).
Dia mengemukakan, peningkatan konsumsi kesehatan, pendidikan, perumahan, serta perlengkapan rumah tangga, ternyata tidak mampu mengimbangi penurunan konsumsi pakaian, alas kaki, jasa perawatan serta transportasi dan komunikasi.
"Dalam kondisi pembatasan aktivitas, masyarakat mengurangi konsumsi barang-barang kebutuhan nonpokok," ucapnya.
Sinyal pelemahan konsumsi ini juga terlihat pada menurunnya indeks keyakinan konsumen dan penjualan eceran pada Maret 2020 yang minus 5,4 persen year on year (yoy).
Sementara kinerja investasi tak bisa diharapkan terlalu banyak karena menurun cukup dalam, terutama pada komponen mesin, perlengkapan dan investasi bangunan.
"Penurunan kinerja investasi juga terlihat pada penjualan mobil niaga (kontraksi minus14,7 persen) serta kredit perbankan," ucapnya.
Febrio menyampaikan, pemerintah akan terus menyiapkan berbagai skenario dampak dari pandemi COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dikatakannya, setiap data baru akan digunakan untuk memutakhirkan asesmen Pemerintah terhadap kondisi perekonomian riil dan sosial masyarakat. Tujuannya agar pemerintah dapat memformulasikan langkah antisipasi secara cepat dan tepat.
Menurut Febrio, penurunan kinerja konsumsi yang tajam di kuartal pertama 2020 ini memperkuat urgensi percepatan penyaluran bantuan sosial di kuartal kedua.
Sementara di sisi produksi, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM menjadi sangat kritikal dan perlu dilaksanakan secepatnya.
"Dengan bantalan pada kedua sisi ini, Pemerintah berharap membantu meringankan tekanan terhadap rumah tangga dan pelaku usaha, terutama Ultra Mikro dan UMKM," katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan Indonesia sepanjang triwulan I 2020 sebesar 2,97 persen. Pertumbuhan ini jelas jauh melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,07 persen.