alexametrics

Harga Minyak Dunia Anjlok 2 Persen, Ini Penyebabnya

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Harga Minyak Dunia Anjlok 2 Persen, Ini Penyebabnya
Ilustrasi harga minyak dunia. [Shutterstock]

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot 1,42 dolar AS atau 1,9 persen menjadi 73,92 dolar AS per barel setelah tenggelam ke sesi terendah.

Suara.com - Harga minyak dunia anjlok 2 persen karena investor semakin menghindari risiko yang menekan pasar saham dan mendorong dolar AS.

Mengutip CNBC, Selasa (21/9/2021) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot 1,42 dolar AS atau 1,9 persen menjadi 73,92 dolar AS per barel setelah tenggelam ke sesi terendah 73,52 dolar AS.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 1,68 dolar AS atau 2,3 persen menjadi berakhir di 70,29 dolar AS per barel setelah jatuh serendahnya ke posisi 69,86 dolar AS.

Dolar, dilihat sebagai safe-haven, melesat karena kekhawatiran tentang solvabilitas pengembang properti China, Evergrande, menakuti pasar ekuitas dan investor bersiap menghadapi Federal Reserve yang akan mengambil langkah lain menuju tapering minggu ini.

Baca Juga: Kilang Meksiko Beroperasi Penuh, Harga Minyak Dunia Anjlok

"Karena dolar AS biasanya merupakan safe-haven, nilai tukarnya terhadap mata uang lain menguat, suatu perkembangan yang melengkapi lingkungan penghindaran risiko dan mempengaruhi harga komoditas, terutama minyak," kata analis Rystad Energy, Nishant Bhushan.

Namun, minyak mendapat dukungan dari tanda-tanda bahwa beberapa produksi Teluk Amerika akan tetap offline selama berbulan-bulan karena kerusakan akibat terjangan badai.

Brent melambung 43 persen sepanjang tahun ini, didukung pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, dan beberapa pemulihan permintaan setelah kehancuran akibat pandemi tahun lalu.

Kejatuhan pada sesi Senin relatif terbatas karena penutupan pasokan di Teluk Meksiko AS gara-gara hantaman dua badai baru-baru ini. Perusahaan migas mencatat 23 persen produksi minyak mentah masih offline, atau 422.078 barel per hari.

Minyak mentah memangkas penurunan pada sesi Senin setelah Royal Dutch Shell mengatakan pihaknya memperkirakan instalasi di Teluk Meksiko akan offline untuk perbaikan hingga akhir 2021 karena kerusakan akibat Badai Ida.

Baca Juga: Ancaman Badai Nicholas Mereda, Harga Minyak Dunia Berangsur Stabil

Fasilitas tersebut berfungsi sebagai stasiun transfer bagi semua output dari aset perusahaan itu di koridor Mars area Mississippi Canyon ke terminal minyak mentah onshore.

Komentar