facebook

6 Startup Indonesia yang Sudah Lakukan PHK Massal, dari LinkAja Hingga JD.ID

M Nurhadi
6 Startup Indonesia yang Sudah Lakukan PHK Massal, dari LinkAja Hingga JD.ID
ILUSTRASI-Persiapan JD.ID jelang Harbolnas 12.12. (Suara.com/Lilis Varwati)

Perusahaan rintisan di Indonesia ramai-ramai melakukan PHK massal. Penyesuaian bisnis menjadi alasan.

Suara.com - Daftar startup yang sudah melakukan PHK massal di Indonesia kian bertambah panjang. Perubahan model bisnis dan skema pasar membuat para perusahaan rintisan ini mesti menyesuaikan diri. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang berubah akibat pandemi Covid-19. 

Berikut ini adalah startup-stratup di Indonesia yang baru saja melakukan PHK massal. 

1. Zenius 

Startup di bidang edu-tech ini baru saja melakukan PHK terhadap 200 karyawan. Perubahan model bisnis dan dampak ekonomi menjadi alasan startup besutan Sabda PS ini melepas ratusan karyawannya. Namun, Zenius menyatakan karyawan yang terkena PHK akan diberi hak-hak mereka. Data pribadi akan disebarkan atas persetujuan agar para karyawan memperoleh kesempatan baru dalam bekerja. 

Baca Juga: Bisnis Startup LinkAja PHK Banyak Karyawan, Penyebabnya Karena Hal Ini

2. LinkAja

Start up pelat merah ini juga sudah melakukan PHK massal terhadap ratusan karyawan. Model bisnis yang berubah membuat startup tersebut harus melakukan reorganisasi karyawan. Manajemen menyatakan PHK harus dilakukan agar perusahaan tumbuh sehat, optimal, dan positif. 

3. Fabelio 

Jauh sebelum LinkAja dan Zenius, startup di bidang furniture Fabelio juga melakukan hal serupa. Startup ini bahkan memaksa puluhan karyawannya mengundurkan diri jika ingin memperoleh bayaran penuh. Namun, hingga para karyawan mengundurkan diri, kabarnya hak-hak mereka tak kunjung dipenuhi. 

4. Tanihub

Baca Juga: Makin Banyak Startup Lakukan PHK Massal Karyawan, Apa Penyebabnya?

Startup pertanian ini melakukan PHK massal setelah dua gerainya di Bandung dan Bali ditutup. Langkah PHK dilakukan karena startup ini menghentikan kegiatan Business to Consumer (B2C) dan fokus meningkatkan pertumbuhan Business to Business (B2B).

Komentar