McDonald's Kewalahan Imbas Aksi Boikot, Penjualannya di Negara Muslim Hancur

Kamis, 02 Mei 2024 | 12:18 WIB
McDonald's Kewalahan Imbas Aksi Boikot, Penjualannya di Negara Muslim Hancur
Restoran makanan cepat saji McDonald's (Instagram/mcdonalds)

Suara.com - McDonald’s mengaku boikot sangat membebani penjualan mereka dalam beberapa waktu terakhir. Walau mendapatkan peningkatan laba pada kuartal I 2024, sulit untuk mereka membuat penjualan kembali normal jikalau Israel masih melakukan agresi ke Palestina.

Hal ini disampaikan Chief Executive McDonald's, Chris Kempczinski. Ia berujar bahwa boikot yang diberlakukan di Timur Tengah dan negara muslim lainnya telah menurunkan penjualan di kelompok negara tersebut hingga 0,2%.

"Kami memperkirakan tidak akan ada perbaikan yang berarti dalam dampaknya sampai perang selesai," ucapnya dikutip AFP.

Penjualan McDonald’s anjlok pasca waralabanya di Israel Oktober tahun lalu mengumumkan telah memberi ribuan makanan gratis kepada tentara Israel. Langkah tersebut memicu amarah dan tindakan boikot terhadap brand waralaba itu di Timur Tengah.

Tak berhenti di sana, boikot turut terjadi di negara-negara muslim seperti Malaysia dan Indonesia dan juga di wilayah eropa, khususnya Prancis, yang populasi muslimnya tinggi.

Pihak McDonald’s menerangkan bahwa mayoritas restoran mereka di Timur Tengah beroperasi di bawah kesepakatan waralaba yang tidak mendapatkan investasi apa pun dari perusahaan induknya.

Hal ini dapat dilihat dari perbedaan sikap yang dilakukan oleh cabang McDonald’s lain di Kuwait dan Qatar yang berjanji untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Kedua cabang tersebut dikelola terpisah dari cabang di Israel.

"Sebagian besar restoran McDonald's di Timur Tengah dioperasikan berdasarkan perjanjian waralaba di mana induk perusahaan tidak menginvestasikan modalnya," tulis McDonald's dalam laporan sekuritasnya.

Selain karena boikot, penjualan McDonald’s turut terpengaruh karena adanya inflasi. Kempczinski menyebut inflasi membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Baca Juga: Imbas Boikot Produk Pendukung Israel, KFC Malaysia Tutup Sementara Lebih dari 100 Gerai

"Konsumen semakin melakukan diskriminasi terhadap setiap dolar yang mereka belanjakan karena mereka menghadapi kenaikan harga dalam belanja sehari-hari, yang memberikan tekanan pada industri," jelasnya.

Pernyataan senada turut disampaikan Chief Financial Officer, McDonald's Ian Borden. Ia mengatakan penjualan di Amerika Serikat negara lainnya tidak akan begitu kuat jikalau masih terjadi inflasi yang tinggi.

"Keterjangkauan jelas merupakan area dimana ekspektasi konsumen meningkat. Jelas (konsumen) terkena dampak inflasi terhadap seluruh barang dan jasa mereka," tutur Borden.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Nge-fans Kamu dengan Lisa BLACKPINK?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Direkrut Ajax Amsterdam
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Seberapa Tahu Kamu tentang Layvin Kurzawa? Pemain Baru Persib Bandung Eks PSG
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI