Indonesia Penghasil Nikel Terbesar Dunia, Harga EV Bisa Turun

Jum'at, 10 Mei 2024 | 15:07 WIB
Indonesia Penghasil Nikel Terbesar Dunia, Harga EV Bisa Turun
Presiden Joko Widodo meninjau pengolahan bijih nikel (nickel ore) di pabrik smelter Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara [Dok. BPMI Sekretariat Presiden]

Suara.com - PT Sumber Energi Surya Nusantara atau SESNA adalah perintis pengembang pembangkit listrik tenaga surya lokal di Indonesia yang bertekad berdiri di garis depan revolusi energi terbarukan.

Dikutip kantor berita Antara dari rilis resmi, dalam rekam jejaknya, SESNA berhasil menavigasi dan menaklukkan beragam sektor pasar dengan mengambil peran sebagai pengembang, investor, serta pemilik aset.

Selain itu, SESNA sudah melakukan instalasi lebih dari 17 megawatt peak (MWp) proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di hampir seluruh wilayah Indonesia, dan lebih dari 12,4 MWp proyek PLTS atap telah resmi berkontrak, serta sedang dalam masa pembangunan.

Kemudian, SESNA juga akan menghadirkan PLTS atau solar farm di Indonesia dengan kapasitas dihasilkan mencapai 255 MWp.

Kekinian, SESNA menyampaikan tentang pengembangan industri nikel berkelanjutan yang menghasilkan baterai secara langsung dapat mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia.

"Indonesia adalah the largest nickel producer di dunia dan the lowest in term of pricing (terendah dalam penetapan harga). Sehingga lucu bila nikel kita sudah the largest akan tetapi baterai EV mahal," ungkap Rico Syah Alam, Chief Executive Officer (CEO) SESNA di Jakarta, Jumat (10/5/2924).

Ia menilai sangat wajar apabila harga baterai kendaraan listrik di Indonesia masih mahal, karena baterai yang menjadi pemasok energi EV masih didapatkan melalui mekanisme impor, seperti dari Tiongkok.

Bila industri nikel di Indonesia mengusung prinsip keberlanjutan, hal ini turut mendukung keinginan pemerintah untuk menambah tingkat komponen lokal dalam kendaraan listrik.

"Dengan masuknya investasi dari luar mau pun kolaborasi dengan penanaman modal dalam negeri terkait penanaman modal di pabrik baterai, saya rasa akan menjadi salah satu faktor yang mendorong industri EV itu sendiri," jelas Rico Syah Alam.

Selain mendorong pengembangan industri nikel berkelanjutan dengan memberi berbagai keringanan pajak hingga insentif lainnya, langkah pemerintah melarang ekspor bijih nikel murni dan mewajibkan industri untuk mendirikan smelter adalah tepat.

Rico Syah Alam menuturkan, kebijakan yang baik ini bisa dibarengi dengan regulasi untuk melarang impor hasil dari smelter nikel, dan meminta industri membangun pabrik baterainya di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI