Toko Ritel Banyak Berguguran, Kemendag Mau Ubah Aturan

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 07 Mei 2025 | 15:57 WIB
Toko Ritel Banyak Berguguran, Kemendag Mau Ubah Aturan
Warga memilih produk saat belanja di salah satu ritel di Jakarta, Rabu (9/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Gelombang penutupan gerai ritel besar yang melanda Indonesia memaksa Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah taktis.

Menyikapi fenomena mengkhawatirkan ini, Kemendag berencana melakukan evaluasi dan harmonisasi regulasi yang mengatur distribusi barang secara konvensional dan perdagangan melalui sistem elektronik (PSME). Langkah ini dipandang sebagai upaya krusial untuk memitigasi kerugian lebih lanjut yang dialami para pelaku usaha ritel di Tanah Air.

Direktur Bina Usaha Perdagangan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Septo Soepriyatno seperti menukil Antara di Jakarta, Rabu (7/5/2025), mengungkapkan keseriusan pihaknya dalam merespons dinamika pasar ritel yang berubah dengan cepat. "Dalam waktu dekat ini, kami tengah berupaya untuk melakukan beberapa langkah strategis, yakni evaluasi dan harmonisasi regulasi terkait distribusi barang secara konvensional dan perdagangan melalui sistem elektronik," tegas Septo.

Langkah harmonisasi ini menjadi krusial mengingat pergeseran perilaku konsumen yang semakin signifikan ke platform digital. Regulasi yang tidak sinkron antara toko fisik dan e-commerce dinilai menjadi salah satu faktor yang memperlebar jurang persaingan dan menyulitkan peritel konvensional untuk bertahan.

Selain penataan regulasi, Kemendag juga akan memperkuat kolaborasi erat antara pemerintah dan asosiasi peritel nasional. Septo menjelaskan bahwa dialog rutin akan terus digalakkan untuk membahas secara mendalam peluang dan tantangan bisnis ritel di era digital ini. Sinergi antara regulator dan pelaku usaha diharapkan dapat menghasilkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Kemendag tidak hanya fokus pada penataan regulasi. Pihaknya juga berkomitmen untuk memfasilitasi dan memberikan pendampingan berbasis data kepada para pelaku usaha ritel. Tujuannya jelas, agar para peritel, terutama yang berskala kecil dan menengah, lebih siap beradaptasi dengan ekosistem digital yang terus berkembang pesat. Pendampingan ini diharapkan dapat membantu mereka mengoptimalkan platform online, memahami perilaku konsumen digital, dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang efektif di era serba digital.

Sebagai upaya mitigasi tambahan, Kemendag juga akan terus menggalakkan promosi belanja lokal dan gerakan nasional untuk berbelanja di dalam negeri secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas konsumen terhadap produk lokal, sekaligus memberikan dukungan bagi keberlangsungan usaha ritel di berbagai skala.

Septo kemudian memaparkan beberapa faktor utama yang menjadi penyebab utama tumbangnya gerai-gerai besar modern di Indonesia. Faktor pertama dan paling signifikan adalah perubahan preferensi konsumen dalam berbelanja. Era belanja bulanan dalam jumlah besar di hipermarket kini mulai ditinggalkan.

"Menurut dia, konsumen sudah tidak lagi melakukan belanja bulanan dalam jumlah besar, seperti yang dahulu dilakukan pengunjung saat ke gerai besar modern. Saat ini, konsumen lebih memilih untuk belanja rutin harian di minimarket atau warung kelontong tradisional terdekat," jelas Septo. Faktor kemudahan akses dan kedekatan menjadi pertimbangan utama konsumen saat ini.

Selain itu, konsumen juga menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Prioritas kini bergeser pada pembelian barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar keinginan sesaat. Hal ini tentu berdampak pada omzet gerai besar yang mengandalkan volume penjualan produk yang beragam.

Faktor krusial lainnya adalah perilaku belanja generasi muda, terutama Generasi Z dan Milenial, yang lebih terhubung secara digital. Mereka cenderung memilih berbelanja kebutuhan rumah tangga secara daring karena dinilai lebih praktis, mudah, dan seringkali menawarkan harga yang lebih murah. Kemudahan berbelanja dari mana saja dan kapan saja menjadi daya tarik utama e-commerce bagi generasi digital native ini.

"Kondisi tersebut mengakibatkan toko swalayan dengan luas lantai penjualan yang besar seperti Hypermarket tidak dapat bersaing karena omzet menurun, yang pada akhirnya tidak dapat menutup biaya operasional," pungkas Septo. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dua Tersangka Buat Perusahaan Fiktif untuk Sulap Uang Panas Judol, Polisi Sita Rp530 M dan Mercy

Dua Tersangka Buat Perusahaan Fiktif untuk Sulap Uang Panas Judol, Polisi Sita Rp530 M dan Mercy

News | Rabu, 07 Mei 2025 | 15:14 WIB

Tangkap Dua Tersangka TPPU Judi Online, Bareskrim Sita Duit Setengah Triliun Lebih!

Tangkap Dua Tersangka TPPU Judi Online, Bareskrim Sita Duit Setengah Triliun Lebih!

News | Rabu, 07 Mei 2025 | 14:08 WIB

10 Pinjol Paling Banyak Dipakai Masyarakat Indonesia, Pinjaman Tunai Tanpa Agunan

10 Pinjol Paling Banyak Dipakai Masyarakat Indonesia, Pinjaman Tunai Tanpa Agunan

Bisnis | Rabu, 07 Mei 2025 | 07:50 WIB

Terkini

Pangkas Anggaran Besar-Besaran, Pemerintah Tetap Salurkan Bansos ke 22 Juta Keluarga

Pangkas Anggaran Besar-Besaran, Pemerintah Tetap Salurkan Bansos ke 22 Juta Keluarga

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 10:30 WIB

Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Ini Daftar Terbarunya

Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Ini Daftar Terbarunya

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 10:02 WIB

Emas Antam Tiba-tiba Mahal Lagi, Harganya Tembus Rp 2,9 Juta/Gram

Emas Antam Tiba-tiba Mahal Lagi, Harganya Tembus Rp 2,9 Juta/Gram

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:57 WIB

Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983

Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:53 WIB

APBN Mulai Ngos-ngosan! Anggaran Rapat Hotel dan Perjalanan Dinas PNS Mau di Hemat, MBG Gas Terus

APBN Mulai Ngos-ngosan! Anggaran Rapat Hotel dan Perjalanan Dinas PNS Mau di Hemat, MBG Gas Terus

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:52 WIB

Dikuasai Asing, Pemerintah Mulai Benahi Industri Gim Lokal

Dikuasai Asing, Pemerintah Mulai Benahi Industri Gim Lokal

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:52 WIB

Bidik Peluang ARA, IPO BSA Logistics (WBSA) Jadi Magnet Baru Investor Ritel

Bidik Peluang ARA, IPO BSA Logistics (WBSA) Jadi Magnet Baru Investor Ritel

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:44 WIB

HIPMI Perkirakan Harga Pertamax Capai Rp 13.500, Begini Hitungannya

HIPMI Perkirakan Harga Pertamax Capai Rp 13.500, Begini Hitungannya

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:43 WIB

IHSG Dibuka Menghijau 1,43%, Simak Saham-saham yang Naik Pagi Ini

IHSG Dibuka Menghijau 1,43%, Simak Saham-saham yang Naik Pagi Ini

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 09:17 WIB

BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah

BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 08:57 WIB