Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

14.000 Pekerja Dirumahkan, Pemerintah Diminta Lindungi Industri Padat Karya dan Pertanian

Achmad Fauzi | Suara.com

Rabu, 07 Mei 2025 | 16:16 WIB
14.000 Pekerja Dirumahkan, Pemerintah Diminta Lindungi Industri Padat Karya dan Pertanian
Ilustrasi PHK

Suara.com - Di tengah tekanan ekonomi global dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang kian meresahkan, sorotan tajam tertuju pada dua sektor vital yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional: industri padat karya dan sektor pertanian.

Kedua sektor ini tak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, tetapi juga berperan besar dalam menyerap jutaan tenaga kerja di seluruh penjuru Tanah Air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri padat karya menyumbang 18,9% terhadap PDB dan menyerap 13,8% dari total tenaga kerja Indonesia. Sementara sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 11,31% terhadap PDB nasional pada 2024.

Beberapa subsektor padat karya yang menjadi tulang punggung ekonomi dan lapangan kerja antara lain industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta industri hasil tembakau. Perlindungan terhadap sektor-sektor ini dinilai bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga persoalan sosial yang menyentuh langsung kesejahteraan rakyat.

Ketua Umum Komite Ekonomi Rakyat Indonesia (KERIS), Ali Mahsun Atmo, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lalai dalam melindungi para pekerja dan petani di tengah situasi ekonomi yang kian menantang. “Kebijakan khusus seperti pelatihan hingga penciptaan lapangan kerja baru yang seluas-luasnya sangat diperlukan, mengingat gelombang PHK juga sangat masif akhir-akhir ini,” ungkap Ali.

Tak berhenti di sana, Ali juga menyoroti pentingnya kehadiran pemerintah ketika krisis PHK terjadi, terlebih menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idulfitri. “Diharapkan pemerintah turun tangan, memberikan solusi, agar pekerja yang terkena PHK bisa mendapatkan hak-haknya. Pemerintah juga perlu memberikan bantalan sosial berupa bansos,” tukasnya.

Ali pun mendorong kebijakan pembiayaan yang lebih cepat dan ramah bagi korban PHK yang ingin bangkit melalui jalur wirausaha. “Agar yang di-PHK bisa kembali pulih untuk berwirausaha, jangan dipersulit,” tambah dia.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Alifudin, turut menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap lonjakan PHK yang terjadi akibat penutupan sejumlah pabrik besar. Sejumlah perusahaan dilaporkan telah merumahkan total lebih dari 14.000 pekerja. Di antaranya adalah PT Sanken Indonesia, PT Yamaha Music Product Asia, PT Tokai Kagu, PT Danbi Internasional Garut, dan PT Bapintri. Bahkan, PT Sritex melakukan PHK massal terhadap 10.969 pekerjanya setelah menutup pabrik pada 1 Maret 2025.

“Ini adalah masalah besar yang mempengaruhi tidak hanya pekerja yang dirumahkan, tetapi juga ekonomi lokal dan nasional. Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa hak-hak pekerja yang terkena PHK bisa terlindungi dengan baik,” tegas Alifudin dalam keterangan tertulisnya.

Lebih jauh, ia menekankan dampak luas dari PHK massal yang bukan hanya menghantam dapur keluarga pekerja, tapi juga membebani perekonomian nasional. “Jika tidak segera ditangani dengan serius, kondisi ini bisa memicu penurunan daya beli masyarakat dan merugikan perekonomian dalam jangka panjang. Pemerintah harus mampu menciptakan iklim industri yang stabil dan ramah bagi dunia usaha agar tidak terjadi PHK massal yang lebih meluas,” ujarnya.

Sementara untuk sektor pertanian, Ali Mahsun menilai bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mengambil langkah positif dalam perlindungan petani, salah satunya melalui kebijakan pembelian gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram oleh pemerintah.

Namun, Ali tetap mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama soal birokrasi distribusi pupuk yang rumit. “Ke depan diharapkan, petani-petani di Indonesia ini diikutsertakan BPJS Kesehatan dan BP Jamsostek jadi kalau ada kecelakaan kerja petani bisa dilindungi. Saya yakin pemerintah mampu memberikan secara gratis untuk itu. Sehingga swasembada pangan tercapai dan para petani dan keluarga sejahtera,” jelasnya.

Tak dapat dimungkiri, industri padat karya dan sektor pertanian membawa efek berganda yang luar biasa terhadap konsumsi masyarakat dan roda ekonomi lokal maupun nasional. Ketika dua sektor ini stabil, bukan hanya rumah tangga pekerja yang terlindungi, namun juga keberlanjutan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pakai Dana Hibah Rp82,56 Miliar, Bill Gates Bakal Naikan Pendapatan Petani Hingga Pupuk Murah

Pakai Dana Hibah Rp82,56 Miliar, Bill Gates Bakal Naikan Pendapatan Petani Hingga Pupuk Murah

Bisnis | Rabu, 07 Mei 2025 | 15:39 WIB

Gelombang PHK Merajalela, BI: Ekonomi Bisa Merosot

Gelombang PHK Merajalela, BI: Ekonomi Bisa Merosot

Bisnis | Rabu, 07 Mei 2025 | 15:04 WIB

24 Ribu Orang Sudah jadi Korban, PHK era Prabowo Makin Ngeri

24 Ribu Orang Sudah jadi Korban, PHK era Prabowo Makin Ngeri

Bisnis | Selasa, 06 Mei 2025 | 14:46 WIB

Terkini

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:14 WIB

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:11 WIB

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:44 WIB

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:34 WIB

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB

Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap

Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:29 WIB

Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok

Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:22 WIB

Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur

Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:21 WIB

Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo

Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:17 WIB

Rupiah Tembus Rp17.645, Garuda Indonesia Kian Berat Menanggung Utang Dolar

Rupiah Tembus Rp17.645, Garuda Indonesia Kian Berat Menanggung Utang Dolar

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:05 WIB