Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

Tarif Impor AS untuk Produk RI Dipangkas Drastis, Konsentrat Tembaga Bahkan Jadi 0%!

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 01 Agustus 2025 | 17:29 WIB
Tarif Impor AS untuk Produk RI Dipangkas Drastis, Konsentrat Tembaga Bahkan Jadi 0%!
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa AS memberikan perlakuan khusus untuk sejumlah komoditas yang sangat mereka butuhkan. Produk-produk ini akan dikenakan tarif lebih rendah, bahkan nol persen!

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa Indonesia akan dikenakan tarif resiprokal sebesar 19% untuk barang-barang yang masuk ke AS, mulai berlaku efektif pada 7 Agustus 2025.

Angka ini menjadi kemenangan diplomasi ekonomi bagi Indonesia, mengingat sebelumnya Presiden Donald Trump sempat mengumumkan tarif setinggi 32%. Namun, yang lebih menggembirakan, tak semua komoditas Indonesia akan dikenakan tarif 19%.

Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa AS memberikan perlakuan khusus untuk sejumlah komoditas yang sangat mereka butuhkan. Produk-produk ini akan dikenakan tarif lebih rendah, bahkan nol persen! Salah satu yang paling menonjol adalah produk olahan dari tembaga.

"Beberapa komoditas kita yang memang AS tidak produksi kan diberi tarif lebih rendah, bahkan untuk copper concentrate (konsentrat tembaga), copper cathode (katoda tembaga) di nol kan," kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Keputusan ini sejalan dengan komitmen kuat Indonesia untuk tidak lagi mengekspor mineral kritis dalam bentuk bahan mentah (ore), termasuk ke AS. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi yang gencar digalakkan pemerintah berhasil memberikan nilai tawar yang kuat dalam perundingan dagang internasional.

Airlangga menyebut produk-produk olahan ini sebagai industrial commodities atau komoditas industri. Artinya, produk tersebut telah melalui proses sekunder setelah dari bijih mentah (ore).

"Jadi itu yang Indonesia sebut industrial commodities, jadi secondary process sesudah ore. Jadi sudah sejalan dengan apa yang kemarin diumumkan juga oleh secretary commerce (AS) dan dari White House," ucapnya.

Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia. Sebuah fakta yang kontras dengan polemik tarif impor yang belakangan ini mewarnai hubungan bilateral kedua negara.

Indoensia sendiri kini dikenakan tarif impor 19 persen oleh AS dan mulai berlaku pada 7 Agustus 2025 mendatang.

baca juga

Dalam konferensi pers, Jumat (1/8/2025), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, membeberkan data neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2025. "Untuk neraca perdagangan total, yaitu migas dan non-migas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar USD8,57 miliar, kemudian India sebesar USD6,59 miliar, dan Filipina sebesar USD4,40 miliar," kata Pudji.

Posisi AS yang kokoh di puncak daftar ini menjadi bukti betapa kuatnya permintaan pasar AS terhadap produk-produk Indonesia, meskipun pemerintah Trump sempat mengancam dengan kebijakan tarif yang tinggi.

Di sisi lain, Pudji juga menyampaikan daftar negara-negara yang menjadi sumber defisit terdalam bagi neraca perdagangan Indonesia. "Negara penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia terdalam adalah China minus USD9,73 miliar, Singapura minus USD3,09 miliar, kemudian Australia minus USD2,66 miliar," ungkapnya.

Data ini semakin menegaskan bahwa meskipun China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dalam hal volume ekspor, defisit impor dari Tiongkok tetap menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.

Ketika dipecah per kelompok, data non-migas juga menunjukkan dominasi AS sebagai penyumbang surplus. AS menyumbang surplus non-migas sebesar USD9,92 miliar, diikuti India sebesar USD6,64 miliar, dan Filipina sebesar USD4,36 miliar.

Pudji merinci, sepanjang Januari hingga Juni 2025, AS menduduki posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor Indonesia, setelah China dan di atas India. "Nilai ekspor non-migas ke Amerika Serikat tercatat sebesar USD14,79 miliar yang utamanya terdiri atas mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya atau rajutan," jelasnya.

Data ini menunjukkan bahwa produk manufaktur Indonesia, khususnya di sektor alas kaki dan tekstil, memiliki daya saing kuat di pasar AS. Ini menjadi alasan utama mengapa pemangkasan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen yang baru-baru ini diumumkan oleh Presiden Trump sangat krusial bagi keberlanjutan sektor-sektor tersebut.

Ekspor non-migas ke Tiongkok sendiri tercatat sebesar USD29,31 miliar, didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta nikel. Sementara itu, ekspor ke India sebesar USD8,97 miliar, mayoritas terdiri dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukti Daya Saing Selang dan Tali Industri Lokal Tinggi

Bukti Daya Saing Selang dan Tali Industri Lokal Tinggi

Bisnis | Jum'at, 01 Agustus 2025 | 17:05 WIB

Melihat Jeroan Neraca Perdagangan RI yang Surplus 62 Bulan Beruntun

Melihat Jeroan Neraca Perdagangan RI yang Surplus 62 Bulan Beruntun

Bisnis | Jum'at, 01 Agustus 2025 | 15:33 WIB

Tarif Trump 19% Berlaku 7 Agustus, RI & Thailand Kena 'Diskon' Sama, Singapura Paling Murah!

Tarif Trump 19% Berlaku 7 Agustus, RI & Thailand Kena 'Diskon' Sama, Singapura Paling Murah!

Bisnis | Jum'at, 01 Agustus 2025 | 14:59 WIB

Terkini

Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan

Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 20:23 WIB

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:42 WIB

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:37 WIB

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:53 WIB

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:48 WIB

Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis

Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:39 WIB

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:26 WIB

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:24 WIB