Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Dythia Novianty, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB
Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja
Ilustrasi Program Indonesia Pintar (PIP). (Kemdikdasmen)
baca 10 detik
  • Tingginya minat masyarakat terhadap Program Indonesia Pintar mencerminkan kekhawatiran rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi serta ancaman PHK massal.
  • Nailul Huda dari CELIOS menyatakan bahwa pemerintah perlu menjaga stabilitas industri dan mencegah PHK untuk mempertahankan daya beli.
  • Solusi utama bagi pemerintah adalah memastikan ketersediaan lapangan kerja berupah layak agar masyarakat mandiri membiayai kebutuhan pendidikan keluarganya.

Suara.com - Meningkatnya minat masyarakat terhadap program bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dinilai tidak bisa dipandang sekadar sebagai tingginya kebutuhan bantuan sosial.

Fenomena tersebut justru menjadi sinyal adanya kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi ekonomi, terutama di tengah ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih membayangi sektor industri.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) ,Nailul Huda, menilai pemerintah perlu melihat persoalan tersebut dari akar masalahnya.

Menurut dia, langkah paling efektif bukan hanya memperluas bantuan sosial, melainkan memastikan masyarakat tetap memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang memadai.

"Bagi saya pribadi, cara yang paling tepat bagi pemerintah adalah memberikan masyarakat pekerjaan dengan upah yang layak. Upah yang mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi sebuah keluarga," kata Huda kepada Suara.com, Jumat (19/6/2026).

Huda menjelaskan, selama masyarakat memiliki pekerjaan yang stabil, kebutuhan dasar hingga biaya pendidikan anak dapat dipenuhi secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah.

Ilustrasi upah kerja yang terbatas (Pexels/Ahsanjaya)
Ilustrasi upah kerja yang terbatas. (Pexels/Ahsanjaya)

Karena itu, ia menilai upaya menjaga industri tetap beroperasi dan menyerap tenaga kerja harus menjadi prioritas. Pemerintah diminta menyiapkan berbagai kebijakan yang dapat mencegah perusahaan melakukan PHK dalam jumlah besar.

"Maka, sebisa mungkin pemerintah menahan agar tidak terjadi PHK massal dengan memberikan berbagai program yang dapat meningkatkan industri," ujarnya.

Selain itu, Huda menekankan pentingnya menjaga permintaan masyarakat agar aktivitas produksi industri tetap berjalan. Jika konsumsi melemah, perusahaan berisiko mengurangi produksi yang pada akhirnya berdampak pada tenaga kerja.

baca juga

"Demand pun juga harus dijaga agar produksi industri tetap berlanjut," tuturnya.

Menurut Huda, meningkatnya pencarian informasi mengenai bantuan pendidikan dan bantuan sosial merupakan respons yang wajar ketika masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Rumah tangga akan berupaya menekan berbagai pengeluaran yang dianggap bisa dibantu oleh negara.

"Ketika seseorang terdesak karena kondisi ekonomi yang memburuk, tentu bertahan adalah opsi yang akan diambil. Bertahan ini bukan hanya mendapatkan pendapatan dan/atau mengurangi pengeluaran. Salah satu cara mengurangi pengeluaran namun tidak mengurangi kepentingan tertentu ya mencari program bansos dan/atau bantuan pendidikan," jelasnya.

Ia mencontohkan Program Indonesia Pintar menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu keluarga mengurangi beban biaya pendidikan. Dana yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sekolah dapat dialihkan untuk kebutuhan pokok lainnya.

"Salah satunya dengan mendaftar beasiswa program PIP. Dengan mendaftar program PIP, pengeluaran untuk pendidikan bisa dialihkan kepada pengeluaran kebutuhan lainnya," kata Huda.

Meski bantuan pendidikan dinilai penting sebagai jaring pengaman sosial, Huda mengingatkan dampak PHK terhadap keluarga jauh lebih luas.

Ilustrasi PHK. [Gerd Altmann/Pixabay]
Ilustrasi PHK. [Gerd Altmann/Pixabay]

Kehilangan pekerjaan tidak hanya mengganggu kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi menghambat pendidikan anak.

"Bagaimanapun juga masyarakat tetap membutuhkan pendidikan. Ketika kepala keluarga terkena PHK, maka keberlanjutan pendidikan anak-anaknya bisa terancam. Bukan hanya soal memenuhi kebutuhan hidup saja yang terancam, soal pendidikan juga bisa terancam," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?

Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 17:30 WIB

Pembiaran Impor Baja China Akan Picu Gelombang PHK di Indonesia

Pembiaran Impor Baja China Akan Picu Gelombang PHK di Indonesia

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 14:50 WIB

Hak Jawab Kemenperin untuk Berita tentang Komentar Menperin soal PHK di Industri Tekstil dan Plastik

Hak Jawab Kemenperin untuk Berita tentang Komentar Menperin soal PHK di Industri Tekstil dan Plastik

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 12:29 WIB

Tutup Pabrik, Krakatau Osaka Steel Apakah Sama dengan Krakatau Steel?

Tutup Pabrik, Krakatau Osaka Steel Apakah Sama dengan Krakatau Steel?

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 10:03 WIB

Setor Rp213 Triliun ke Negara, IHT Kini Tertekan Kebjakan Pemerintah

Setor Rp213 Triliun ke Negara, IHT Kini Tertekan Kebjakan Pemerintah

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:55 WIB

PT Krakatau Osaka Steel Tutup dan PHK Ratusan Buruh, Kemenperin Prihatin

PT Krakatau Osaka Steel Tutup dan PHK Ratusan Buruh, Kemenperin Prihatin

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 16:02 WIB

Terkini

Pegawai Pemkab Gowa Curhat Gaji Telat: Buat Beli Susu Saja Susah!

Pegawai Pemkab Gowa Curhat Gaji Telat: Buat Beli Susu Saja Susah!

Sulsel | Selasa, 08 September 2026 | 15:15 WIB

Apa Kelebihan Pensil Alis Viva? Ini 7 yang Perlu Diketahui Sesuai Klaim

Apa Kelebihan Pensil Alis Viva? Ini 7 yang Perlu Diketahui Sesuai Klaim

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 15:15 WIB

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

News | Selasa, 08 September 2026 | 15:14 WIB

Cara Mengajukan Visa Kerja di Singapura dan Prosedur Terbaru

Cara Mengajukan Visa Kerja di Singapura dan Prosedur Terbaru

Bisnis | Selasa, 08 September 2026 | 15:10 WIB

10 Sepatu Mary Jane dari Adidas hingga ASICS, Stylish dan Praktis Mulai Rp500 Ribuan

10 Sepatu Mary Jane dari Adidas hingga ASICS, Stylish dan Praktis Mulai Rp500 Ribuan

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 15:05 WIB

Risiko Masalah Baterai Menghantui Lonjakan Model Mobil Listrik Baru di China

Risiko Masalah Baterai Menghantui Lonjakan Model Mobil Listrik Baru di China

Otomotif | Selasa, 08 September 2026 | 15:05 WIB

Gunung Anak Krakatau Mulai Tenang: Tak Ada Ancaman Tsunami, Penerbangan Kembali Normal

Gunung Anak Krakatau Mulai Tenang: Tak Ada Ancaman Tsunami, Penerbangan Kembali Normal

News | Selasa, 08 September 2026 | 15:03 WIB

Update Kinerja BBRI Q2 2026: Catat Lonjakan Laba, CAR Aman di 21,5%

Update Kinerja BBRI Q2 2026: Catat Lonjakan Laba, CAR Aman di 21,5%

Bri | Selasa, 08 September 2026 | 15:01 WIB

Mystic Pop-up Bar: Kisah Kedai Misterius yang Mengurai Masalah Manusia

Mystic Pop-up Bar: Kisah Kedai Misterius yang Mengurai Masalah Manusia

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 15:00 WIB

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 14:57 WIB

×