Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.640.000
Beli Rp2.500.000
IHSG 5.883,881
LQ45 578,169
Srikehati 285,186
JII 345,557
USD/IDR 17.950

Harga Tiket Pesawat Meroket Meski Pemerintah Bilang Ada Diskon Nataru, Apa yang Terjadi?

Achmad Fauzi

Jum'at, 12 Desember 2025 | 11:02 WIB
Harga Tiket Pesawat Meroket Meski Pemerintah Bilang Ada Diskon Nataru, Apa yang Terjadi?
Harga tiket pesawat Nataru meroket meski pemeirntah bilang ada diskon hingga 14 persen. [Suara.com/Rochmat]
baca 10 detik
  • Pemerintah memberikan diskon tiket pesawat 13-14 persen periode Nataru 2026 melalui SKB dengan lima komponen biaya diturunkan.
  • Masyarakat mengeluhkan harga tiket pesawat tetap tinggi karena maskapai memaksimalkan Tarif Batas Atas (TBA) yang berlaku.
  • Kebijakan diskon ini berdampak pada penurunan pendapatan operator bandara dan maskapai selama periode libur tersebut.

Suara.com - Pemerintah kembali memberikan sejumlah relaksasi bagi masyarakat yang ingin berlibur ataupun mudik pada masa Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Salah satunya, diskon tiket pesawat sebesar 13-14 persen.

Pemberian diskon tiket pesawat ini untuk meringankan masyarakat yang ingin berlibur maupun mudik di masa Nataru, terlebih kondisi daya beli memang tengah turun.

Angka diskon 13-14 persen bukan asal-asalan sebut oleh pemerintah. Angka tersebut didapat setelah pengurangan komponen biaya yang dibebankan kepada maskapai.

Harapannya, pengurangan beban komponen biaya operasional itu membuat penerbangan menjadi efisien yang imbasnya maskapai akan menurunkan harga tiket pesawatnya pada momen Nataru tersebut.

Kebijakan diskon ini juga tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor. 10/DI-BP/X/2025 tentang Penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara Sektor Transportasi dalam Pemberian Diskon Tarif Transportasi untuk Stimulus Ekonomi Periode Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Setidaknya ada 5 komponen biaya yang diturunkan terhadap maskapai. Pertama, pemerintah membebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam setiap pembelian tiket.

Pembebasan itu sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71 Tahun 2025 tentang PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk jasa angkutan udara.

Kedua, maskapai juga akan mendapatkan diskon 10 persen pembelian bahan bakar avtur dari Pertamina. Diskon ini berlaku untuk 37 bandara strategis yang dikelola oleh Angkasa Pura.

Ketiga, penurunan biaya Pelayan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau airport tax sebesar 50 persen untuk 37 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura.

baca juga

Keempat, diskon 50 persen biaya Tarif Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U) kepada maskapai. Dan, kelima, pemangkasan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge.

Kebijakan ini mulai berlaku ntuk pembelian 22 Oktober sampai 10 Januari. Dan juga untuk penerbangannya pada tanggal 22 (Desember) sampai dengan 10 Januari dengan target penumpang sebesar 35,9 juta.

Pemerintah memberikan 5 insentif untuk maskapai penerbangan agar harga tiket pesawat Nataru lebih murah. [Suara.com/Aldi]
Pemerintah memberikan 5 insentif untuk maskapai penerbangan agar harga tiket pesawat Nataru lebih murah. [Suara.com/Aldi]

Harga Tiket Masih Tinggi

Namun, masyakarat melihat kebijakan tersebut masih semu. Nyatanya harga tiket pesawat masih tinggi untuk penerbangan di momen Nataru. Hal ini pun diungkapkan masyarakat ke media sosial yang mengeluh dengan meroketnya harga tiket pesawat tersebut.

Seperti dipantau Suara.com di media sosial X, banyak akun yang melontarkan bancakan, karena kebijakan pemerintah itu tidak sesuai dengan kenyatan di lapangan. Misalnya, akun @sx*** yang justru menyebut harga tiket pesawat semakin lama semakin naik.

"Temen-temen daerah sini terpantau sibuk mantau tiket pesawat yang makin hari makin naik," tulisnya.

Tak hanya satu, banyak akun juga melayangkan keluhan yang sama, terkait kenaikan harga yang justru melonjak.

"Buset dah ni nape harga tiket pesawat makin enggak ngotak," cuit akun @***eens.

Alasan Harga Tiket Naik

Kementerian Perhubungan mengakui harga tiket pesawat masih mahal, meski sudah diberikan diskon 13-14 persen. Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Achmad Setiyo Prabowo, menjelaskan dalam aturan tiket pesawat terdapat aturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB).

Nah dalam momen ini, Setiyo menyebut, rata-rata maskapai justru memaksimalkan tiket pesawat di TBA. Sehingga, meskipun sudah mendapat diskon tapi tidak terasa, karena memaksimal harga paling tinggi.

Padahal, harapan masyarakat maskapai bisa mengenakan tiket pesawat di TBB, sehingga efek diskonnya bisa dirasakan nyata oleh masyarakat.

"Sebagai pengusaha, karena mainnya adan TBA dan TBB, berarti diskonnya 13 sampai 15 persen itu kan dihitungnya di TBA," ujarnya.

"Kalau sebagai masyarakat, ya penginnya 13-14 persen itu di area bawahnya. Jadi, ini ya masyarakat bilang, yang katanya ada stimulus, katanya diskon, ternyata enggak terasa diskonnya. Karena diskonnya mungkin di beberapa area bawahnya di TBA," sambung Setiyo.

Namun, Kemenhub berjanji melototi pergerakan harga tiket pesawat pada momen Nataru. Bahkan, masyarakat bisa melaporkan ke Kemenhub lewat kanal resmi jika memang melihat harga tiket pesawat tidak wajar.

Kebijakan Gerus Pendapatan

Kebijakan memang dilihat sebagai populis saja, karena terdapat korban dari pelaksanaanya. Pihak-pihak yang terdampak tentunya para operator bandara maupun maskapai penerbangan.

Sebab, pada masa Nataru, sebenarnya ajang memungut pundi-pundi cuan bagi para operator. Sebenarnya momen Nataru paling yang ditunggu-tunggu setelah masa Lebaran. Namun, dengan adanya diskon tiket pesawat ini para operator rela untuk mengurangi sebagian kuenya pada masa peak season sepeti ini.

Hal ini diakui oleh, PGS Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, di mana memang ada dampak terhadap pendapatan dari kebijakan tersebut.

Apalagi, InJourney Airport memberikan dua diskon yaitu airport tax dan layanan kebandarudaraan yang masing-masing 50 persen. Akan tetapi, Arie tak mau merinci berapa jumlah pendapatan yang berkurang.

"Tapi kalau bicara dampak, tentunya ada. Tapi buat kita, itu bagian dari kontribusi kita kepada pemerintah ekonomi yang nasional dan juga membantu aspek kemudahan untuk para pemerintah. Jadi kalau ditanya berapa, mungkin saya belum bisa menjawab. Karena kan belum terealisasi. Tapi prediksi ada.," kata dia.

Meski begitu, Arie menyebut, perusahaan tak ambil pusing dari dampak tersebut. Sebab, pemerintah memberikan jalan lain untuk menebus kerugian dampak tersebut.

Selain itu, dampak ini juga memang pasti terjadi, karena setiap tahun pemerintah mengelontorkan kebijakan diskon tarif tiket pesawat. Sehingga, InJourney Airports mencari celah lain untuk menutupi kerugian di akhir tahun.

"Jadi makanya kita lebih kepada, oh yaudah itu lebih kebijakan perusahaan pemerintah, tapi itu sudah tidak menjadi tolak ukur. Jadi kita harus mencari yang lain," ucapnya.

Solusi untuk Pemerintah

Pengamat industri penerbangan, Alvin Lie, menilai sebenarnya kebijakan diskon tiket pesawat tidak terlalu signifikan terhadap peningkatan jumlah penumpang. Dalam survei Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) dengan adanya diskon tersebut penumpang pesawat hanya naik 10 persen.

Selain itu, biaya diskon tiket pesawat ini tidak dibarengi oleh diskon-diskon yang lainya seperti hotel. Sehingga, Alvin melihat, diskon tiket pesawat tidak mengurangi kantong pengeluaran masyarakat di nataru.

"Nah selama masa puncak itu, masa Lebaran dan Tahun Baru, tarif hotel itu naiknya luar biasa. Tapi tidak ada sentuhan pemerintah sama sekali di sana. Kemudian juga biaya makan, ini juga tidak murah," imbuhnya.

"Jadi walaupun harga tiket ini diturunkan 13-14 persen, dengan kondisi yang ada di indonesia ini. Jadi bukan hanya sekali tapi sedikitnya dua kali, terbukti bahwa menurunkan harga tiket tidak mendatangkan penumpang baru dan tidak menaikkan jumlah penumpang secara signifikan," sambungnya.

Menurut Alvin, sebenarnya untuk memberikan nafas bagi maskapai dan meningkatkan minat penumpang, pemerintah bisa memberikan tarif yang adil. Salah satunya, dengan meninjau kembali tarif batas atas.

Ia memandang, kebijakan tari batas ini sudah uzur dan sudah tidak relevan untuk diberlakukan. Karena, perhitungannya menggunakan kurs dan harga avtur pada tahun 2019 lalu.

"Pada saat tarif batas atas itu ditetapkan, harga avtur itu Rp 9.500 per liter. Sekarang Rp 13.000-an. Kemudian pada saat itu, nilai tukar rupiah Rp 12.500 per dolar. sekarang Rp 16.700. Sehingga, dengan demikian biaya-biaya ini sudah naik banyak tapi tidak disesuaikan dengan kondisi, tarif batas atas tidak disesuaikan dengan kondisi nyata," katanya.

"Itu yang perlu sekali diperbaiki agar tiket kita ini bisa fleksibel kembali seperti dulu. Ketika ramai memang naik, tapi ketika sepi bisa turun lagi karena maskapai bisa melakukan subsidi silang," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penjualan Eceran Diprediksi Melejit di November 2025, Apa Pemicunya?

Penjualan Eceran Diprediksi Melejit di November 2025, Apa Pemicunya?

Bisnis | Rabu, 10 Desember 2025 | 16:05 WIB

26 Jalan Tol Kena Diskon Nataru, Trans Jawa Potong Harga sampai 20 Persen! Sudah Cek Daftarnya?

26 Jalan Tol Kena Diskon Nataru, Trans Jawa Potong Harga sampai 20 Persen! Sudah Cek Daftarnya?

Otomotif | Rabu, 10 Desember 2025 | 15:39 WIB

32 Jadwal Kereta Api Gratis untuk Angkut Motor Mudik Nataru 2026, Masih Sisa Kuota?

32 Jadwal Kereta Api Gratis untuk Angkut Motor Mudik Nataru 2026, Masih Sisa Kuota?

Lifestyle | Rabu, 10 Desember 2025 | 14:07 WIB

Menhub Siapkan Diskon Tiket Pesawat dan Tol serta Mudik Gratis untuk Nataru, Ini Rinciannya

Menhub Siapkan Diskon Tiket Pesawat dan Tol serta Mudik Gratis untuk Nataru, Ini Rinciannya

News | Senin, 08 Desember 2025 | 16:40 WIB

Diskon Tiket Pesawat Nataru 2025 Mulai Kapan? Cek Jadwal dan Besarannya

Diskon Tiket Pesawat Nataru 2025 Mulai Kapan? Cek Jadwal dan Besarannya

Lifestyle | Jum'at, 28 November 2025 | 18:53 WIB

Terkini

HSBC Indonesia Nilai Akses Pembiayaan Modal Kerja Penting Buat UMKM

HSBC Indonesia Nilai Akses Pembiayaan Modal Kerja Penting Buat UMKM

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:36 WIB

Cara UMKM Agar Tidak Kena Potong Pajak e-Commerce saat Jualan Online

Cara UMKM Agar Tidak Kena Potong Pajak e-Commerce saat Jualan Online

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:28 WIB

Terbitkan Panda Bond, Purbaya: Bunga Utang China Lebih Murah Dibanding Amerika

Terbitkan Panda Bond, Purbaya: Bunga Utang China Lebih Murah Dibanding Amerika

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:27 WIB

Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail

Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:22 WIB

Purbaya Heran Lembaga Asing Terus Sorot Ekonomi RI, Bandingkan Nasib dengan AS-Eropa

Purbaya Heran Lembaga Asing Terus Sorot Ekonomi RI, Bandingkan Nasib dengan AS-Eropa

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:08 WIB

Aturan Pajak Marketplace Resmi Berlaku, Cek Daftar Omzet yang Bebas Potongan

Aturan Pajak Marketplace Resmi Berlaku, Cek Daftar Omzet yang Bebas Potongan

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:49 WIB

Purbaya Yakin Harga Pertamax Segera Turun, Kapan?

Purbaya Yakin Harga Pertamax Segera Turun, Kapan?

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:49 WIB

Mantan Jenderal Kuasai BUMN Tambang! Antam, Timah dan Bukit Asam Kini Dipimpin Lulusan Akmil

Mantan Jenderal Kuasai BUMN Tambang! Antam, Timah dan Bukit Asam Kini Dipimpin Lulusan Akmil

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:35 WIB

Dompet Lebih Aman! Harga Cabai, Ayam, dan Telur Turun Serentak Hari Ini

Dompet Lebih Aman! Harga Cabai, Ayam, dan Telur Turun Serentak Hari Ini

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:33 WIB

Rupiah Masih Loyo Pagi Ini, Berpeluang Sentuh Rp18.000

Rupiah Masih Loyo Pagi Ini, Berpeluang Sentuh Rp18.000

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 09:48 WIB