- Rupiah pulih pada Rabu, 21 Januari 2026, ditutup Rp16.936 per USD, menguat 0,13 persen dari hari sebelumnya.
- Penguatan rupiah didorong oleh keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan pada level 4,75 persen.
- Penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena investor masih mencermati faktor defisit anggaran mendekati tiga persen.
Suara.com - Nilai tukar akhirnya menunjukkan pemulihan pada penutupan Rabu, 21 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp16.936 per dolar AS atau USD.
Alhasil, rupiah menguat 0,13 persen dibanding penutupan pada Selasa yang berada di level Rp 16.956 per USD.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.963 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang Asia sebagian menguat.
![Karyawan mengecek tumpukan uang tunai di cash pooling Plaza Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (1/8/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/01/87114-uang-rupiah-gudang-uang-ilustrasi-uang-aktivitas-bank-cash-pooling.jpg)
Salah satunya, won Korea mencatat kenaikan terbesar yakni 0,60 persen, disusul peso Filipina yang menguat 0,31 persen, yen Jepang menguat 0,13 persen.
Diikuti dolar Singapura menguat 0,05 persen, dolar Hong Kong menguat 0,03 persen dan ringgit Malaysia yang menguat 0,03 persen.
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS sore ini. Rupee India melemah 0,81 persen, dolar Taiwan melemah 0,09 persen, baht Thailand melemah 0,06 persen. Lalu ada yen Jepang dan yuan China melemah 0,05 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,57, turun dari sehari sebelumnya yang da di 98,64.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah berkat keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di 4,75 persen
Baca Juga: Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
"Rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS setelah dalam RDGBI, pernyataan BI dipandang dovish, BI masih perlu mencermati peluang untuk memangkas suku bunga dan peluang ini ditafsir sebagai tekanan pada rupiah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan akan terbatas. Sebab, defisit anggaran yang hampir mencapai 3 persen membuat investor ragu.
"Sulit dipertahankan, secara rupiah masih terbebani faktor lain yaitu defisit anggaran dan independensi BI," pungkasnya.