Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 28 Januari 2026 | 12:09 WIB
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]
  • MSCI menyatakan adanya kekhawatiran serius terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
  • MSCI melakukan pembekuan sementara penilaian free float bagi saham-saham di Indonesia.
  • BEI menyatakan bahwa mereka memandang kritik dan masukan yang disampaikan oleh MSCI bukan sebagai hambatan.

Suara.com - Pasar modal Indonesia tengah berada di bawah sorotan global setelah MSCI Inc. (MSCI), penyedia indeks saham internasional terkemuka, menyatakan adanya kekhawatiran serius terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kondisi ini membuat MSCI melakukan pembekuan sementara penilaian free float bagi saham-saham di Indonesia. Free float adalah jumlah saham yang benar-benar beredar di publik dan tersedia untuk diperdagangkan, tidak termasuk kepemilikan oleh pengendali atau pemerintah

Menanggapi hal tersebut, otoritas pasar modal Indonesia bergerak cepat untuk memastikan kepercayaan investor global tetap terjaga.

Dalam pernyataan resminya hari ini, Rabu (28/1/2026), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), menegaskan komitmen penuh untuk menindaklanjuti masukan dari MSCI. Langkah ini juga mendapat dukungan penuh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pihak otoritas menyatakan bahwa mereka memandang kritik dan masukan yang disampaikan oleh MSCI bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Mengingat peran strategis bobot MSCI sebagai referensi utama bagi manajer investasi dan investor institusional global, BEI menyadari bahwa pemenuhan standar internasional adalah hal mutlak.

"Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor. Sejalan dengan hal tersebut, kami berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI," tulis Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad, Rabu (28/1/2026).

Salah satu poin utama yang menjadi sorotan MSCI adalah isu transparansi kepemilikan, khususnya terkait dengan data saham yang benar-benar beredar di publik (free-float). Menjawab tantangan tersebut, BEI mengungkapkan bahwa langkah konkret telah mulai diimplementasikan sejak awal tahun ini.

Sebagai bentuk transparansi, BEI telah memublikasikan data free-float secara komprehensif melalui situs resmi bursa sejak 2 Januari 2026. Data ini tidak hanya bersifat sekali jalan, melainkan akan diperbarui secara rutin setiap bulannya guna memberikan informasi yang lebih akurat, andal, dan sesuai dengan ekspektasi pemangku kepentingan global.

Penyediaan data yang presisi diharapkan dapat mengeliminasi keraguan investor mengenai likuiditas nyata dari emiten-emiten yang tercatat di bursa, sehingga meminimalisir risiko manipulasi atau ketidakjelasan kepemilikan.

Ke depannya, BEI, KSEI, dan KPEI di bawah pengawasan OJK akan terus mengintensifkan koordinasi dengan MSCI. Fokus utama dari koordinasi ini adalah memastikan adanya keselarasan pemahaman terkait metodologi serta implementasi peningkatan transparansi informasi di pasar modal nasional.

Asal tahu saja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terjun bebas hingga 7,63% ke level 8.295 hingga sesi I hari ini.

Penurunan sebesar 684,8 poin dalam setengah hari perdagangan merupakan salah satu koreksi terdalam dalam sejarah bursa domestik, memicu kekhawatiran meluas di kalangan investor ritel maupun institusi.

Data perdagangan menunjukkan IHSG dibuka di level 8.393 dan sempat mencoba menguat ke posisi tertinggi 8.596. Namun, tekanan jual masif tak terbendung hingga indeks sempat menyentuh level terendah harian di 8.286. Pelemahan ini terjadi usai MSCI penyedia indeks global memutuskan untuk melakukan pembekuan sementara (freeze) terhadap penilaian free float bagi saham-saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Keputusan MSCI ini bukan tanpa alasan. Mereka menyoroti dua isu krusial yang selama ini menjadi perhatian investor institusi dunia yakni soal adanya keraguan mengenai siapa pengendali sebenarnya di balik sejumlah saham dengan kapitalisasi besar dan kekhawatiran bahwa jumlah saham yang benar-benar beredar di publik (free float) tidak mencerminkan kondisi riil, sehingga menyulitkan investor besar untuk masuk atau keluar dari posisi mereka tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siapa MSCI dan Mengapa Keputusannya Membuat IHSG Ambruk Hampir 8 Persen Hari Ini

Siapa MSCI dan Mengapa Keputusannya Membuat IHSG Ambruk Hampir 8 Persen Hari Ini

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 11:53 WIB

IHSG Ambruk Hampir 8 Persen

IHSG Ambruk Hampir 8 Persen

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 11:33 WIB

Saham BBCA Ambyar, Cetak Rekor Terburuk Sejak Era Pandemi COVID-19

Saham BBCA Ambyar, Cetak Rekor Terburuk Sejak Era Pandemi COVID-19

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15 WIB

Terkini

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB