- Inflasi IHK Januari 2026 mengalami deflasi bulanan 0,15%, namun inflasi tahunan tercatat 3,55% (yoy).
- Deflasi terjadi pada *volatile food* (dipicu harga cabai dan bawang) dan *administered prices* (bensin dan tarif angkutan).
- Inflasi inti Januari 2026 naik menjadi 0,37% (mtm), didorong kenaikan harga emas global serta sewa rumah.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai perkembangan inflasi pada Januari 2026 tetap terkendali dan sejalan dengan sasaran yang ditetapkan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengatakan, deflasi tersebut dipengaruhi oleh inflasi inti yang relatif stabil serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.
“Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 3,55 persen (year on year/yoy), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen,” ujar Ramdan dalam keterangannya.
Dari sisi inflasi inti, BI mencatat inflasi inti Januari 2026 sebesar 0,37 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,20 persen.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga emas global di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
“Inflasi inti terutama disumbang oleh komoditas emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor,” jelas Ramdan.
Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 2,45 persen (yoy), meningkat dari 2,38 persen pada bulan sebelumnya.
![Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny di Gedung BI, Jumat (7/11/2025). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/07/33219-direktur-eksekutif-komunikasi-bi-ramdan-denny.jpg)
Sementara itu, kelompok volatile food mengalami deflasi cukup dalam sebesar 1,96 persen (mtm), berbalik arah dari inflasi 2,74 persen pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Turun Lagi, di Pegadaian Jadi Makin Murah!
Deflasi tersebut terutama disebabkan oleh penurunan harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring meningkatnya pasokan pada masa panen.
Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat sebesar 1,14 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,21 persen.
BI memperkirakan inflasi kelompok ini ke depan tetap terkendali dengan dukungan sinergi TPIP-TPID dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Adapun kelompok administered prices pada Januari 2026 mencatat deflasi sebesar 0,32 persen (mtm), setelah sebelumnya mengalami inflasi 0,37 persen.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota seiring penurunan harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.
Namun secara tahunan, inflasi administered prices tercatat cukup tinggi sebesar 9,71 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,93 persen.