Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Impor Masih Dominan, Emiten Petrokimia TPIA Bidik Penguatan Pasar Domestik

Achmad Fauzi | Suara.com

Kamis, 26 Februari 2026 | 16:35 WIB
Impor Masih Dominan, Emiten Petrokimia TPIA Bidik Penguatan Pasar Domestik
Pabrik Kimia milik Chandra Asri. [Dokumentasi TPIA].
  • Chandra Asri (TPIA) memperkuat kapasitas produksi guna mendorong substitusi impor petrokimia nasional yang masih bergantung pada impor 50 persen.
  • Perusahaan menargetkan kapasitas terintegrasi melonjak dari 4,2 juta ton (2024) menjadi lebih dari 21 juta ton pada tahun 2027.
  • Proyek strategis Pabrik Chlor Alkali & Ethylene Dichloride ditargetkan mengurangi impor kaustik soda serta menciptakan nilai ekonomi Rp10 triliun.

Suara.com - PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melihat peluang besar di pasar domestik seiring masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor petrokimia. Sekitar 50 persen kebutuhan petrokimia nasional hingga kini masih impor.

Kondisi tersebut menjadi landasan strategis bagi perseroan untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendorong substitusi impor. Di tengah dinamika industri global yang semakin kompleks dan volatilitas harga energi, TPIA memaparkan arah transformasi bisnisnya menjadi perusahaan solusi energi, kimia dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara.

Direktur Sumber Daya Manusia & Corporate Affairs Chandra Asri Group, Suryandi, mengatakan pengembangan ekosistem terintegrasi menjadi fondasi utama strategi pertumbuhan perusahaan.

"Muaranya adalah bagaimana kami bisa membangun sebuah ekosistem yang saling menguatkan di bidang energi, kimia dan infrastruktur, sebagai satu kesatuan yang dapat diandalkan dan siap bersaing di level Asia Tenggara. Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, kami telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara," ujarnya seperti dikutip, Kamis (26/2/2026).

Chandra Asri
Chandra Asri

Secara kapasitas, TPIA memproyeksikan akselerasi signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Dari sekitar 4,2 juta ton pada 2024, kapasitas terintegrasi perseroan diperkirakan melonjak menjadi lebih dari 21 juta ton pada 2027, atau hampir lima kali lipat seiring ekspansi aset dan integrasi regional.

Untuk mendukung penguatan pasar domestik, TPIA juga mengembangkan proyek strategis Pabrik Chlor Alkali & Ethylene Dichloride (CA-EDC). Proyek ini ditujukan untuk memperkuat pasokan bahan kimia nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor, khususnya untuk produk kaustik soda.

Proyek CA-EDC telah mencapai progres konstruksi lebih dari 50 persen dan ditargetkan memproduksi 400 ribu ton per tahun (KTA) kaustik soda serta 500 KTA EDC. Selain mendukung substitusi impor, fasilitas ini juga membuka potensi ekspor ke pasar Asia Tenggara.

Secara ekonomi, proyek tersebut diproyeksikan menciptakan nilai hingga sekitar Rp10 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 3.250 tenaga kerja selama fase konstruksi dan operasional, serta memberikan efek berganda bagi industri pendukung dan UMKM di kawasan sekitar.

Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Group, Edi Riva’i, menambahkan bahwa integrasi aset Indonesia dan Singapura dilakukan untuk memastikan efisiensi rantai nilai dari hulu ke hilir.

"Integrasi ini memungkinkan alur produksi yang lebih efektif dan efisien, sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan berkelanjutan. Di saat yang sama, ekspansi ini juga membuka peluang kerja baru dan mendorong kompetensi talenta nasional," imbuhnya.

Langkah transformasi dan ekspansi tersebut turut mendapat apresiasi dari pelaku pasar. Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta Utama, menilai model bisnis terintegrasi yang dikembangkan TPIA memperluas cakupan perseroan dari sekadar petrokimia menjadi penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur.

"Selain itu, dengan transformasi juga, TPIA jadi semakin gencar melakukan akuisisi strategis, seperti Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, lalu juga jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura, dan banyak lagi yang lain. Ini tentu sangat positif dari sudut pandang pelaku pasar," ucap Nafan.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan seperti fluktuasi harga minyak mentah, tekanan harga akibat oversupply industri petrokimia dari China, hingga valuasi saham yang tergolong premium.

"Satu lagi, saham TPIA seringkali diperdagangkan dengan rasio price earning (PER) dan PBV (price to book value) yang jauh di atas rata-rata industrinya, sehingga termasuk dalam kategori valuasi premium. Ini membuat harga saham jadi rentan terkoreksi, jika pertumbuhan yang diharapkan pasar rupanya tidak tercapai dengan tepat waktu," pungkas Nafan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Libatkan Himbara, Petrokimia Gresik Pacu Digitalisasi Supply Chain Financing

Libatkan Himbara, Petrokimia Gresik Pacu Digitalisasi Supply Chain Financing

Bisnis | Kamis, 12 Februari 2026 | 13:03 WIB

Profil PT Vopak Indonesia, Perusahaan Penyebab Asap Diduga Gas Kimia di Cilegon

Profil PT Vopak Indonesia, Perusahaan Penyebab Asap Diduga Gas Kimia di Cilegon

Bisnis | Minggu, 01 Februari 2026 | 19:06 WIB

Gegara MSCI, Kekayaan Taipan RI Ludes Rp 367 Triliun, Prajogo Pangestu Paling Banyak

Gegara MSCI, Kekayaan Taipan RI Ludes Rp 367 Triliun, Prajogo Pangestu Paling Banyak

Bisnis | Kamis, 29 Januari 2026 | 15:52 WIB

Terkini

Fundamental Ekonomi Kuat di tengah Ketidakpastian, Indonesia Kian Dilirik Investor Global

Fundamental Ekonomi Kuat di tengah Ketidakpastian, Indonesia Kian Dilirik Investor Global

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:38 WIB

Harga Nikel Langsung Terkerek Aturan Baru ESDM, Tapi Tekan Industri Smelter

Harga Nikel Langsung Terkerek Aturan Baru ESDM, Tapi Tekan Industri Smelter

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:31 WIB

Program 3 Juta Rumah Libatkan 185 Industri dan Serap Tenaga Kerja

Program 3 Juta Rumah Libatkan 185 Industri dan Serap Tenaga Kerja

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:30 WIB

Program Gentengisasi Digeber, 40 Ribu Rumah di Jabar Dapat Bantuan

Program Gentengisasi Digeber, 40 Ribu Rumah di Jabar Dapat Bantuan

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:27 WIB

Anggaran Subsidi Energi Terus Bengkak, Insentif EV Perlu Diberlakukan Lagi?

Anggaran Subsidi Energi Terus Bengkak, Insentif EV Perlu Diberlakukan Lagi?

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:21 WIB

Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik

Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:12 WIB

Di saat Harga Avtur Melambung, Maskapai Vietnam Justru Agresif Tambah Frekuensi Penerbangan

Di saat Harga Avtur Melambung, Maskapai Vietnam Justru Agresif Tambah Frekuensi Penerbangan

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 18:45 WIB

Pemerintah Umumkan Respons Pembelaan Investigasi Dagang AS Hari Ini

Pemerintah Umumkan Respons Pembelaan Investigasi Dagang AS Hari Ini

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 18:39 WIB

Airlangga Akui AS Penyumbang Surplus Perdagangan dan Destinasi Ekspor Terbesar RI

Airlangga Akui AS Penyumbang Surplus Perdagangan dan Destinasi Ekspor Terbesar RI

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 18:26 WIB

Airlangga Ungkap Alasan Cicilan Kopdes Merah Putih Dibayar dari APBN

Airlangga Ungkap Alasan Cicilan Kopdes Merah Putih Dibayar dari APBN

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 18:14 WIB