- Serangan AS-Israel terhadap Iran, anggota OPEC keempat penghasil 3 juta barel/hari, mengancam stabilitas ekonomi global.
- Penguasaan Iran atas Selat Hormuz, jalur vital sepertiga ekspor minyak dunia, dapat memicu resesi global jika tertutup.
- Dampak utama dirasakan Asia; penutupan jalur itu berpotensi memicu kenaikan harga minyak drastis melewati $100 per barel.
Suara.com - Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang merupakan anggota penting OPEC, kini menempatkan stabilitas ekonomi dunia dalam risiko besar.
Para pakar energi memperingatkan bahwa gangguan pada pasokan minyak di Timur Tengah dapat menjadi pemicu resesi ekonomi global dalam skenario terburuk.
Iran saat ini memegang peran krusial sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dengan angka produksi mencapai lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari lalu.
Namun, ancaman utama bukan hanya pada produksi domestik Iran, melainkan pada kendali mereka atas Selat Hormuz—jalur air paling vital bagi perdagangan minyak mentah dunia.
Data dari firma konsultan energi Kpler menunjukkan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 14 juta barel minyak mengalir melalui selat ini setiap harinya. Angka tersebut mewakili sepertiga dari total ekspor minyak mentah melalui laut di seluruh dunia.
"Penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu lama adalah jaminan terjadinya resesi global," tegas Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih sekaligus pendiri Rapidan Energy, seperti yang dikutip dari CNBC.
McNally memperingatkan bahwa pasar selama ini meremehkan kemampuan Teheran dalam mengganggu lalu lintas komersial.
Iran memiliki persediaan ranjau laut dan rudal jarak pendek yang signifikan yang dapat membuat Selat Hormuz tidak aman bagi kapal tanker. Jika ini terjadi, harga minyak mentah diprediksi akan meroket melampaui $100 per barel.
Dampak Langsung bagi Kawasan Asia
Krisis ini akan berdampak paling parah bagi negara-negara di Asia. Sekitar tiga perempat dari minyak yang melewati Hormuz dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Bahkan, China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, menggantungkan separuh impor minyak mentahnya dari jalur ini.
Jika jalur ini tertutup, McNally memprediksi akan terjadi aksi penimbunan besar-besaran oleh negara-negara Asia, yang memicu persaingan harga atau "bidding war" paling sengit dalam sejarah komoditas energi.
Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent telah naik 2,45% ke level $72,48 per barel, sementara WTI naik 2,78% menjadi $67,02 per barel.
Namun, saat perdagangan dibuka kembali pada Minggu sore waktu setempat, harga diprediksi akan langsung melonjak sebesar $5 hingga $7 per barel sebagai antisipasi risiko perang.
Upaya Penyelamatan yang Terbatas: