- Saham BBCA terkoreksi tajam pada Rabu, 4 Maret 2026, ditutup melemah 1,77% di level Rp 6.950 akibat tekanan jual masif.
- Penurunan signifikan BBCA dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang mendorong aksi jual bersih investor asing senilai Rp 183 miliar.
- Koreksi BBCA menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,32% ke 7.596,57, meskipun analis masih mempertahankan rekomendasi BELI.
Suara.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau mengalami koreksi yang sangat tajam pada sesi perdagangan Rabu, 4 Maret 2026.
Tak tanggung-tanggung, emiten perbankan blue chip ini dipaksa menyerah dan terperosok ke bawah level psikologis Rp 7.000.
Tekanan jual sudah terasa sejak sesi 1. Kinerja saham BBCA menunjukkan grafik yang memprihatinkan sepanjang sesi pertama berlangsung. Hingga penutupan sesi, nilai saham bank milik Grup Djarum ini ditutup melemah 1,77% ke posisi Rp 6.950.
Berdasarkan pantauan data perdagangan hingga pukul 15.25 WIB, harga BBCA terus merosot lebih dalam hingga menyentuh angka Rp 6.850.
Sejak awal perdagangan, saham BBCA memang sudah menunjukkan tanda-tanda berada di titik kritis. Level terendah harian sempat menyentuh Rp 6.900 sebelum akhirnya jatuh lebih dalam di sore hari.
Transaksi tercatat sangat masif dengan nilai mencapai Rp 647,1 miliar dan volume perdagangan menembus 92,63 juta lembar saham.
Tingginya volume di tengah penurunan harga ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan jual dari para pelaku pasar, terutama pemodal besar, sedang berada pada puncaknya.
Sinyal Bearish Semakin Kuat
Secara teknis, rontoknya harga saham BBCA memberikan indikasi buruk bagi para pemburu cuan jangka pendek. Saat ini, posisi harga BBCA telah menembus ke bawah garis Moving Average (MA) 9 dan MA 50.
Dalam dunia analisis teknikal, kondisi ini merupakan konfirmasi bahwa momentum pelemahan sedang berlangsung dengan sangat dominan.
Selain itu, grafik harian menunjukkan pola tren penurunan yang sangat klasik, yakni pembentukan lower high (puncak yang lebih rendah) dan lower low (lembah yang lebih rendah).
Kini, perhatian para analis tertuju pada area support terdekat yang berada di rentang Rp 6.800 hingga Rp 7.000. Area ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi BBCA.
Apabila tekanan jual terus berlanjut dan level ini gagal dipertahankan, maka skenario terburuknya adalah harga akan meluncur bebas menuju level Rp 6.300. Angka tersebut merupakan titik terendah baru yang sangat dihindari oleh para pemegang saham jangka panjang.
Ambruknya saham BBCA tidak lepas dari guncangan hebat di pasar global. Ketidakpastian geopolitik yang kian memanas—terutama dampak dari konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran—telah memicu fase risk-off di seluruh bursa dunia.
Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang (emerging markets) untuk dipindahkan ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven).
Data perdagangan menunjukkan bahwa investor asing terus melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) pada saham-saham unggulan (Lq45), di mana BBCA menjadi target utama.
Dalam kurun waktu dua hari saja (2-3 Maret 2026), total aksi jual asing terhadap BBCA telah mencapai Rp 183 miliar. Jika diakumulasikan sepanjang tahun berjalan, arus modal keluar (capital outflow) asing dari saham ini sudah sangat fantastis, yakni mencapai Rp 16,97 triliun.
Efek domino dari jatuhnya saham dengan bobot terbesar seperti BBCA langsung terasa pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan sesi I siang ini, IHSG terpantau anjlok signifikan sebesar 343,20 poin atau merosot 4,32% ke level 7.596,57.
Penurunan ini melengkapi rangkaian koreksi beruntun setelah pada hari-hari sebelumnya IHSG juga telah melemah masing-masing sebesar 0,96% dan 2,65%.
Kondisi bursa secara keseluruhan terlihat sangat merah padam. Sebanyak 748 saham tercatat mengalami penurunan, dan hanya 68 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 142 saham lainnya stagnan.
Total transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 18,06 triliun, yang melibatkan pertukaran 33,08 miliar lembar saham melalui lebih dari 2 juta kali transaksi. Angka transaksi yang tinggi ini menunjukkan adanya kepanikan (panic selling) di kalangan pelaku pasar.
Meskipun harga saat ini sedang terjerembab, tidak semua pihak melihat kondisi ini sebagai akhir dari segalanya. KB Valbury Sekuritas, dalam laporan kemarin, justru mempertahankan rekomendasi BELI untuk saham BBCA.
Dengan menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM), mereka menetapkan target harga jangka panjang di level Rp 11.080.
Alasannya cukup fundamental. Target harga tersebut mencerminkan proyeksi Price to Book Value (P/B) tahun 2026 sebesar 4,1 kali. Jika dibandingkan dengan harga saat ini yang diperdagangkan pada P/B sebesar 2,7 kali, maka valuasi BBCA dinilai sudah sangat murah dan menarik secara historis.