- Konflik AS dan Israel melawan Iran pada Sabtu (28/2) menyebabkan penutupan Selat Hormuz, mengganggu 20% perdagangan minyak dunia.
- Eskalasi geopolitik ini mendorong harga minyak menembus $80 per barel, membuat emas menguat dan memicu sentimen risk-off pasar.
- Investor merespons melalui volatilitas cepat pada kripto; Indodax menyarankan strategi DCA dan manajemen risiko untuk menjaga rasionalitas.
Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada Sabtu (28/2) meluas ke berbagai titik strategis. Situasi ini berdampak langsung pada jalur distribusi energi global dan pergerakan pasar keuangan dunia.
Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, menjadi salah satu dampak paling signifikan dari eskalasi konflik.
Iran juga melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Kondisi tersebut mendorong harga energi naik tajam. Harga minyak dilaporkan menembus US$80 per barel. Kenaikan ini memicu sentimen risk-off di berbagai instrumen investasi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan gangguan pasokan global.
Emas Menguat, Kripto Bergerak Cepat
Di tengah tekanan pasar, harga emas dunia menguat hingga berada di sekitar US$5.100 per troy ons. Peningkatan ini terjadi karena investor mencari aset lindung nilai atau safe haven.
Sementara itu, saham teknologi Amerika Serikat hanya mampu mencatat pemulihan terbatas. Pasar kripto yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam menjadi salah satu indikator tercepat dalam merespons perubahan sentimen.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat turun ke level US$63.100 pada akhir pekan. Namun pada awal pekan, nilainya melonjak hingga US$70.000 sebelum kembali bergerak stabil di kisaran US$68.000.
Total kapitalisasi pasar kripto global saat ini berada di sekitar US$2,33 triliun.
Baca Juga: Kena Jebakan Rusia, Reza Pahlavi Rela Negaranya Dibom dan Sebut "Perang Salib"
Tingginya Volatilitas Jadi Sorotan
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai fluktuasi tajam tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu geopolitik dan risiko makroekonomi.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya.
Menurut Antony, pada fase awal gejolak, investor biasanya memilih bersikap defensif atau risk-off demi menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian terus berlanjut, sebagian pelaku pasar akan mempertimbangkan instrumen yang lebih stabil.
Ia menekankan pentingnya menghindari keputusan berbasis FOMO, serta menerapkan diversifikasi dan manajemen risiko secara disiplin.
“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.