- Yogyakarta punya ekosistem kreatif lengkap dengan pusat desain, balai industri, kampus, dan bahan baku lokal.
- Ekspor DIY 2025 naik 2,14% mencapai 558,72 juta USD, dengan kerajinan, tekstil, dan kulit diminati pasar global.
- Tantangan utama pemasaran dan logistik, sehingga pemerintah dorong digitalisasi dan partisipasi pameran internasional.
Suara.com - Yogyakarta semakin meneguhkan diri sebagai pusat industri kreatif nasional lewat gelaran Temu Bisnis dan Business Matching IKM Kerajinan pada Selasa (10/3/2026) di Hotal Grand Rohan, Bantul.
Acara ini mempertemukan Kementerian Perindustrian, pelaku usaha, serta perwakilan daerah untuk memperkuat sektor kerajinan sekaligus membuka peluang pasar global.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menilai ekosistem kreatif di DIY sudah lengkap.
Kehadiran Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), balai kerajinan dan batik, balai kulit karet plastik, hingga Politeknik ATK menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri kreatif.
Ditambah potensi bahan baku lokal seperti keramik Bantul, bambu, kulit, dan batik, Jogja disebut memiliki modal besar untuk bersaing.
Meski begitu, tantangan utama masih ada di pemasaran dan biaya logistik. Reni menekankan pentingnya strategi digitalisasi agar produk kerajinan bisa menembus pasar nasional bahkan internasional.
"Pengrajin harus siap bersaing dan menyesuaikan desain sesuai kebutuhan pembeli, termasuk permintaan custom dari hotel atau proyek di luar Jawa," ujar Reni.
Ekspor DIY Tumbuh Positif
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM DIY, Yuna Pancawati, mencatat nilai ekspor DIY sepanjang 2025 mencapai 558,72 juta USD, naik 2,14 persen dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kemenperin Bantah Isu PHK Mie Sedaap, Sebut Hanya Pekerja Outsourcing
Produk utama berasal dari sektor industri pengolahan, khususnya tekstil, kulit, dan kerajinan.
Pasar ekspor terbesar DIY adalah Amerika Serikat (43,68%), Uni Eropa (24,14% dengan Jerman sebagai tujuan utama), Jepang (7,31%), serta ASEAN (2,11% dengan Thailand sebagai pasar utama).
Produk kerajinan Indonesia juga mencatat kenaikan ekspor 15 persen dibanding 2024, dengan permintaan tinggi untuk keranjang dekoratif, storage, hingga peralatan kecil seperti sendok kayu yang populer di Jepang dan Korea.
Dorongan Pameran Internasional
Untuk memperluas pasar, Kemenperin mendorong IKM aktif mengikuti pameran internasional. Buyer luar negeri disebut menilai konsistensi, sehingga keikutsertaan berulang menjadi kunci membangun kepercayaan.
"Sinergi ini bukan hanya memperkuat sektor industri, tetapi juga membangun citra daerah dan memberi dampak sosial positif bagi masyarakat," kata Yuna.