Ancaman PHK Mengintai Jika Aturan Nikotin dan Tar Rokok Diperketat

Achmad Fauzi

Minggu, 15 Maret 2026 | 11:17 WIB
Ancaman PHK Mengintai Jika Aturan Nikotin dan Tar Rokok Diperketat
Ilustrasi PHK .[Shutterstock]
baca 10 detik
  • Wacana pembatasan kadar nikotin dan tar produk tembakau oleh pemerintah ditentang legislatif karena potensi PHK besar.
  • Pembatasan ini diinisiasi dari UU Kesehatan dan PP turunan, dikhawatirkan merusak ekosistem industri tembakau nasional.
  • DPR mendesak peninjauan kebijakan dan dialog melibatkan semua pemangku kepentingan industri hasil tembakau nasional.

Suara.com - Wacana pemerintah memperketat aturan kadar maksimal nikotin dan tar pada produk tembakau menuai penolakan dari kalangan legislatif. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri hasil tembakau (IHT) yang selama ini menyerap jutaan tenaga kerja.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Golkar, Yahya Zaini menilai rencana pembatasan tersebut dapat mengancam keberlangsungan ekosistem industri tembakau nasional, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

"Wacana kebijakan pembatasan kadar nikotin dan tar sangat mengkhawatirkan. Ekosistem strategis ini melibatkan jutaan orang, mulai dari buruh pabrik hingga petani. Pembatasan kadar yang terlalu ketat tanpa mempertimbangkan karakteristik tembakau lokal ini berpotensi mematikan industri dalam negeri yang berkontribusi besar bagi penyerapan tenaga kerja," ujarnya di Jakarta, seperti dikutip Minggu (15/3/2026).

Buruh di gudang tembakau Nuren, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, memilah daun tembakau kering. Usaha pengolahan tembakau bertahan menghadapi pandemi Covid-19. [suara.com/ Angga Haksoro Ardhi]
Buruh di gudang tembakau Nuren, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, memilah daun tembakau kering. Usaha pengolahan tembakau bertahan menghadapi pandemi Covid-19. [suara.com/ Angga Haksoro Ardhi]

Wacana kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan melalui aturan turunan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.

Pemerintah melalui tim penyusun yang dibentuk berdasarkan Permenko PMK Nomor 2 Tahun 2025 tengah mengkaji penentuan batas maksimal kadar tar dan nikotin pada produk tembakau.

Menurut Yahya, kebijakan tersebut justru berpotensi menjadi beban tambahan bagi industri yang saat ini masih berupaya pulih dari berbagai tekanan regulasi, mulai dari kebijakan cukai hingga aturan pengendalian produk tembakau lainnya.

Dia menyatakan penolakan terhadap usulan kebijakan tersebut karena aturan yang membatasi kadar tar dan nikotin, serta kandungan tambahan dalam produk tembakau dapat menghancurkan sektor hulu hingga hilir. Kebijakan ini juga muncul saat kondisi industri sedang berusaha pulih dari tekanan regulasi lainnya, baik aturan cukai maupun berbagai regulasi pengendalian.

Yahya menilai bahwa pembatasan kadar nikotin dan tar produk tembakau hanya menjadi beban tambahan dan kontraproduktif terhadap ekonomi rakyat. Lebih jauh dia juga melihat dampak kebijakan ini akan menciptakan ketidakpastian usaha yang bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan kontribusi industri hasil tembakau terhadap penerimaan negara melalui cukai yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

baca juga

Di sisi lain, Yahya juga menyoroti adanya potensi tumpang tindih regulasi yang dapat membingungkan pelaku usaha. Selama ini, standar terkait kadar nikotin dan tar pada produk tembakau telah diatur melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional.

Menurutnya, perubahan regulasi yang terlalu restriktif juga berpotensi menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat. Industri skala menengah dan kecil, termasuk sektor sigaret kretek tangan (SKT) yang dikenal padat karya, dinilai berisiko paling terdampak.

"Jangan sampai regulasi mematikan industri kretek asli Indonesia yang pelan-pelan dibunuh secara administratif," tegasnya.

Karena itu, Yahya mendesak pemerintah untuk meninjau kembali rencana kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Ia juga mengusulkan agar proses penyusunan aturan dilakukan melalui dialog lintas sektor dengan melibatkan para pemangku kepentingan, mulai dari petani tembakau, pekerja industri, hingga pelaku usaha.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Petani Tembakau Peringatkan Ancaman Pandemi Ekonomi Jilid II

Petani Tembakau Peringatkan Ancaman Pandemi Ekonomi Jilid II

Bisnis | Jum'at, 13 Maret 2026 | 21:13 WIB

Gerakan Kurangi Risiko Rokok Meluas, Sejumlah Pengusaha Vape Mulai Pasang Stiker Edukasi

Gerakan Kurangi Risiko Rokok Meluas, Sejumlah Pengusaha Vape Mulai Pasang Stiker Edukasi

Bisnis | Rabu, 11 Maret 2026 | 09:07 WIB

Petani Tembakau Curhat, Perusahaan Rokok Menyusut dari 5.000 Jadi 1.700

Petani Tembakau Curhat, Perusahaan Rokok Menyusut dari 5.000 Jadi 1.700

Bisnis | Selasa, 10 Maret 2026 | 20:40 WIB

Terkini

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:31 WIB

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:30 WIB

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:23 WIB

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:18 WIB

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:13 WIB

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:05 WIB

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:01 WIB

×