- IHSG melemah 0,53 persen ke level 7.053 pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, dipicu tensi geopolitik Timur Tengah.
- Kekhawatiran pasokan energi meningkat akibat serangan kapal tanker serta ancaman jalur distribusi di Laut Merah.
- Investor menahan diri menanti rilis data inflasi domestik dan kebijakan pemerintah terkait mitigasi dampak gejolak global.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), berakhir melemah di perdagangan sesi I, Selasa, 31 Maret 2026. Tensi geopolitik masih menjadi penyebab pelemahan indeks.
Mengutip riset Pilarmas Investindo Sekuritas, IHSG turun 37 poin atau 0,53 persen ke level 7.053 pada paruh pertama perdagangan.
Pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa Asia yang mayoritas berada di zona merah. Pasar merespons pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali, namun tetap mewaspadai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, dinamika perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Presiden AS Donald Trump dilaporkan membuka peluang untuk mengakhiri kampanye militer di Iran, meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup.
Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global. Serangan terhadap kapal tanker minyak Kuwait di pelabuhan Dubai serta ancaman kelompok Houthi di Laut Merah meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi dunia.
![Pekerja beraktivitas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/05/30/85703-bursa-efek-ihsg-idx.jpg)
"Tekanan ini mengancam untuk semakin memperketat aliran energi dari Timur Tengah, dengan dua dari arteri perdagangan paling vital di dunia berada dalam tekanan," tulis riset tersebut.
Dari kawasan Asia, data ekonomi China menunjukkan sinyal ekspansi. Indeks manufaktur tercatat naik ke level 50,4 pada Maret 2026 dari sebelumnya 49,0, sementara indeks non-manufaktur meningkat menjadi 50,1 dari 49,5. Data ini mencerminkan ketahanan ekonomi China di tengah ketidakpastian global.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi Maret dan neraca perdagangan Februari. Kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan akan mendorong inflasi serta memperbesar impor migas, yang berpotensi menekan neraca perdagangan Indonesia.
Selain itu, pasar juga menantikan langkah pemerintah dalam meredam dampak gejolak global. Pemerintah dikabarkan akan merilis paket kebijakan, mulai dari penerapan work from home (WFH) terbatas, penyesuaian anggaran, hingga implementasi program B-50 sebagai upaya mitigasi risiko.
Pilarmas Investindo Sekuritas juga memberikan rekomendasi pada saham TAPG dengan rating beli (BUY), dengan level support di 1.785 dan resistance di 1.990.
Di tengah kondisi pasar yang volatil, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global dan data domestik yang berpotensi memengaruhi arah IHSG hingga penutupan perdagangan.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan sesi I, sebanyak 14,55 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,46 triliun, serta frekuensi sebanyak 999.700 kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 282 saham bergerak naik, sedangkan 403 saham mengalami penurunan, dan 273 saham tidak mengalami pergerakan.
Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain POLA, SWID, DFAM, SURI, dan MOLI.