- Blokade Selat Hormuz oleh Iran sejak Februari 2026 mengganggu 20 persen pasokan energi dunia serta menahan 2.000 kapal.
- Pemulihan rantai pasok global pasca-konflik diprediksi memakan waktu berbulan-bulan akibat penumpukan barang dan kerusakan infrastruktur pelabuhan utama.
- Pelaku industri logistik kini beralih ke rute alternatif guna memitigasi risiko keamanan dan ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.
Ketua konglomerat logistik Safesea yang berbasis di AS, SV Anchan, menyoroti kemunculan ancaman asimetris seperti serangan pesawat nirawak yang telah mengubah lanskap risiko secara fundamental.
Hingga saat ini, IMO mengonfirmasi sedikitnya 18 serangan terhadap kapal di kawasan Teluk sejak perang pecah.
"Dari sudut pandang industri, masalahnya melampaui sekadar akses. Pemilik kapal, penyewa, dan perusahaan asuransi akan menuntut konsistensi serta jaminan keamanan yang kredibel sebelum kembali beroperasi dalam skala besar," tegas Anchan.
Situasi yang tidak menentu ini diprediksi akan mendorong perusahaan-perusahaan global untuk mendiversifikasi rute perdagangan mereka secara permanen.
Analis utama dari Economist Intelligence Unit, Nick Marro, melihat fenomena ini mirip dengan diversifikasi rantai pasok pasca-pandemi COVID-19.
"Mengingat ketidakpastian geopolitik saat ini, diversifikasi rute kemungkinan akan menjadi fitur permanen dalam manajemen risiko, bukan sekadar respons sementara terhadap perang Iran," pungkas Marro.
Para ahli meyakini volume perdagangan melalui Selat Hormuz di masa depan berpotensi menurun karena pelaku industri mulai menjauhi konsentrasi perdagangan di wilayah yang sangat volatil tersebut.