- Inflasi Maret 0,41%, IHK naik ke 110,95 dipicu kenaikan harga pangan dan bensin.
- Daging ayam, ikan segar, dan beras jadi penyumbang inflasi terbesar.
- Komponen volatile food melonjak 1,58%, sumbang andil terbesar 0,27%.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan tekanan inflasi pada periode Maret 2026. Meroketnya harga sejumlah komoditas pangan dan energi menjadi pemicu utama terkereknya Indeks Harga Konsumen (IHK) di bulan ketiga tahun ini.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Maret 2026 tercatat sebesar 0,41%. Angka ini membawa IHK bergerak naik ke level 110,95, dibandingkan posisi Februari yang berada di angka 110,57.
"Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan. Sementara itu, jika ditarik secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat sebesar 0,94 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Lonjakan inflasi ini utamanya disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,07% dengan andil mencapai 0,32%. Ateng merinci, komoditas "meja makan" seperti ikan segar dan daging ayam ras menjadi motor utama dengan andil masing-masing 0,06%.
Menyusul di belakangnya adalah beras dengan andil 0,03%. Sementara telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, hingga daging sapi masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,02% terhadap laju inflasi.
Tak hanya urusan perut, sektor transportasi juga ikut memanas. Kenaikan harga bensin menyumbang inflasi 0,04%, disusul tarif angkutan antarkota sebesar 0,03%.
"Seluruh komponen penyusun inflasi mengalami kenaikan. Komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang utama dengan inflasi 1,58 persen dan andil 0,27 persen," tambah Ateng.
Meski mayoritas harga merangkak naik, BPS mencatat adanya sejumlah komoditas yang mengalami deflasi sehingga mampu menahan laju inflasi lebih dalam. Tarif angkutan udara dan emas perhiasan tercatat memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03%.
Di sisi lain, inflasi inti terpantau masih cukup stabil di angka 0,13% dengan andil 0,08%, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng serta nasi dengan lauk. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi 0,31% akibat penyesuaian harga bensin dan tarif angkutan.