- Program Makan Bergizi Gratis di pesantren baru mencapai sepuluh persen akibat kendala pendataan yang belum optimal saat ini.
- Menko Pangan Zulkifli Hasan menargetkan percepatan pendataan pesantren dan madrasah agar cakupan penerima bantuan gizi segera meningkat.
- Pemerintah memprioritaskan santri berasrama serta memastikan program gizi bagi balita dan ibu tetap berjalan tanpa perubahan.
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pesantren baru menjangkau sekitar 10 persen dari jumlah pesantren yang ada di Indonesia. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan sekolah umum yang sudah mendekati 80 persen.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengakui ketimpangan tersebut terjadi terutama karena proses pendataan yang belum optimal.
"Kalau yang sekolah umum sudah hampir 80 persen (terjangkau MBG). Pondok (Pesantren) ini baru 10 persen ya? Baru kira-kira 10 persen. Soal pendataan," ujar Zulhas di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (2/4/2026).
Ia mengatakan, pemerintah akan mempercepat pendataan dan pelaksanaan program di pesantren agar cakupan penerima bisa segera meningkat dalam waktu dekat.
"Oleh karena itu Kemenag (Kementerian Agama) dan BGN (Badan Gizi Nasional) terus-menerus menyelesaikan pendataan," katanya.
Menurut Zulhas, pesantren menjadi salah satu prioritas karena dinilai sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dalam pemenuhan gizi, terutama bagi para santri yang tinggal di asrama.
![Siswa makan bersama saat uji coba pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di MIN 2 Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026). [ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/02/77557-uji-coba-mbg-prasmanan-di-malang-mbg-makan-bergizi-gratis.jpg)
"Karena memang kami concern betul, pondok ini perlu perhatian karena paling memerlukan," ujarnya.
Pemerintah juga telah menyiapkan jalur khusus untuk mempercepat implementasi program MBG di pesantren. Langkah ini diharapkan mampu mengejar ketertinggalan cakupan dibandingkan sekolah umum.
"Nah ini kita akan percepat karena pondok tadi baru 10 persen," ujar Zulhas.
Selain pesantren, pemerintah turut melakukan pembenahan pendataan untuk sekolah berbasis madrasah, baik negeri maupun swasta. Pendataan dinilai menjadi kunci agar program bisa berjalan lebih tepat sasaran.
"Ya ini juga soal pendataan juga kita akan sempurnakan. Termasuk sekolah-sekolah madrasah, ya," ujarnya.
Di sisi lain, Zulhas memastikan program MBG untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui tetap berjalan tanpa perubahan. Kelompok ini dinilai krusial dalam menentukan kualitas generasi mendatang.
"Karena itu akan menentukan masa depan anak-anak kita, pada akhirnya akan menentukan masa depan Indonesia. Itu tidak ada perubahan apa pun," pungkas Zulhas.