- Opsi Kemenkeu ambil alih KCIC untuk tuntaskan masalah beban keuangan Kereta Cepat Whoosh.
- Target keputusan final restrukturisasi KCIC selesai dalam waktu satu hingga dua bulan.
- Pemerintah fokus kembalikan peran BUMN seperti WIKA ke inti bisnis sebagai kontraktor.
Suara.com - Teka-teki mengenai penyelesaian beban keuangan proyek Kereta Cepat Whoosh mulai menemui titik terang. Pemerintah kini tengah mengkaji opsi radikal dengan menarik PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) langsung ke bawah kendali Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pimpinan Purbaya Yudhi Sadewa.
Langkah ini mencuat sebagai upaya untuk membersihkan neraca keuangan sejumlah BUMN yang selama ini "terengah-engah" menanggung beban proyek tersebut. COO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengonfirmasi bahwa skema pengambilalihan oleh Kemenkeu masuk dalam meja pembahasan.
"Iya, kemungkinan (diambil alih Kemenkeu). Ini sedang kita bahas, insyaallah mudah-mudahan sebentar lagi selesai," ujar Dony saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (7/4).
Dony menekankan bahwa pemerintah ingin mengembalikan fungsi BUMN sesuai dengan core business atau keahlian masing-masing. Selama ini, konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI)—yang terdiri dari PT KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PTPN—memegang 60% saham KCIC.
WIKA, misalnya, akan diarahkan untuk kembali fokus sebagai kontraktor murni tanpa harus dibebani kepemilikan saham di operator transportasi. "Kita kembalikan lagi ke porsinya. Misalnya WIKA, memang bukan bidangnya di situ (operator), kita akan fokuskan ke kontraktor," tegas Dony.
Pemerintah menargetkan keputusan final mengenai nasib struktur kepemilikan KCIC ini akan tuntas dalam satu hingga dua bulan ke depan. Jika opsi Kemenkeu yang dipilih, maka beban utang dan pendanaan proyek ini kemungkinan besar akan terkonsolidasi langsung dalam anggaran negara (APBN), alih-alih membebani rapor merah emiten konstruksi pelat merah.
Sebagai informasi, saat ini konsorsium China masih memegang 40% kepemilikan di KCIC. Belum dijelaskan lebih rinci bagaimana posisi mitra strategis asal Negeri Tirai Bambu tersebut jika restrukturisasi ini dieksekusi.