Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.825.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 6.858,899
LQ45 669,842
Srikehati 328,644
JII 449,514
USD/IDR 17.509

Ekonom UI Ramalkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Capai 5,54 Persen

Liberty Jemadu | Suara.com

Senin, 13 April 2026 | 17:54 WIB
Ekonom UI Ramalkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Capai 5,54 Persen
Ekonom UI Fithra Faisal Hastiadi mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut diproyeksikan mencapai 5,54 persen. [Antara]
  • Ekonom Universitas Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,54 persen pada kuartal I 2026 di tengah dinamika geopolitik global.
  • Pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh program strategis pemerintah seperti Danantara dan proyek strategis nasional sepanjang tahun 2026.
  • Pemerintah perlu mewaspadai penurunan daya beli masyarakat yang tercermin dari melemahnya penjualan ritel serta penurunan tabungan kelompok rentan.

Suara.com - Perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 diperkirakan tetap menunjukkan ketahanan di tengah konflik di Timur Tengah yang belum juga kunjung mereda. Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi dalam kajiannya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut diproyeksikan mencapai 5,54 persen.

Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan median konsensus Bloomberg yang berada di level 5,25 persen, serta hanya terpaut tipis dari target pemerintah sebesar 5,55 persen.

Menurut Fithra, selisih tersebut tidak lepas dari pendekatan analisis yang memperhitungkan efek basis rendah pada kuartal I-2025 yang tercatat hanya tumbuh 4,87 persen.

“Proyeksi kami berada sedikit di atas konsensus karena kami secara eksplisit memasukkan efek basis rendah tahun lalu,” ujar Fithra, Senin (13/4).

Secara keseluruhan, menurut Fithra, kinerja ekonomi di awal tahun ini dinilai masih solid. Bahkan untuk sepanjang 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di level 5,37 persen.

Angka ini mencerminkan keseimbangan antara dorongan dari program strategis pemerintah seperti Danantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan tekanan moderat dari dinamika geopolitik global.

Dalam skenario yang lebih berat sekalipun, ditegaskan Fithra, misalnya jika tensi geopolitik meningkat tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diperkirakan mampu bertahan di atas 5 persen, yakni sekitar 5,18 persen.

Fithra juga menilai proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti World Bank dan OECD yang lebih rendah, masing-masing di kisaran 4,7 persen dan 4,8 persen, belum sepenuhnya mencerminkan potensi akselerasi dari implementasi program pemerintah yang diperkirakan akan semakin terasa pada paruh kedua tahun ini.

“Percepatan implementasi Danantara akan menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya tercermin dalam proyeksi lembaga internasional,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian kuartal I-2026 tidak boleh serta-merta dianggap sebagai tanda percepatan struktural ekonomi. Jika efek basis rendah dikeluarkan, pertumbuhan riil Indonesia dinilai berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.

Sinyal yang Perlu Diwaspadai

Di balik angka pertumbuhan yang relatif kuat, terdapat sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Kajian tersebut mencatat adanya tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat.

Beberapa di antaranya adalah penurunan penjualan mobil pada Maret yang terkontraksi hingga 13,8 persen secara tahunan, serta pertumbuhan kumulatif kuartal I yang hanya mencapai 1,7 persen.

Selain itu, indeks penjualan ritel modern (MSI) juga melambat menjadi 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 7,5 persen.

Tidak hanya itu, tingkat tabungan kelompok berpendapatan rendah juga terus menurun dalam tiga tahun terakhir, diiringi turunnya kepercayaan konsumen selama tiga bulan berturut-turut. Pelemahan juga terlihat pada beberapa sub-komponen PMI.

“Semua indikator ini mengarah pada melemahnya daya beli riil, yang berpotensi tertutupi oleh angka PDB secara keseluruhan,” kata Fithra.

Ia menekankan bahwa memasuki kuartal II-2026 akan menjadi fase krusial, terutama dengan adanya risiko normalisasi pasca-Lebaran.

Dalam skenario dasar, program pemerintah masih diharapkan mampu menahan tekanan eksternal, namun tren penurunan tabungan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi risiko utama yang perlu dimonitor ketat.

“Transisi ke kuartal II akan menjadi titik penentu. Risiko terhadap daya beli harus diwaspadai, terutama dari kelompok rentan,” ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Berpotensi Lampaui Proyeksi Bank Dunia, Ini Sektornya

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Berpotensi Lampaui Proyeksi Bank Dunia, Ini Sektornya

Bisnis | Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

Bank Dunia: Danantara Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2027

Bank Dunia: Danantara Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2027

Bisnis | Jum'at, 10 April 2026 | 20:13 WIB

Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan Pertama Tinggi Bukan Karena Lebaran

Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan Pertama Tinggi Bukan Karena Lebaran

Bisnis | Jum'at, 10 April 2026 | 20:05 WIB

Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia

Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 19:34 WIB

Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf

Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 14:10 WIB

Terkini

Rupiah Makin Anjlok Parah saat Mata Uang Asia Lain Menguat, Kenapa?

Rupiah Makin Anjlok Parah saat Mata Uang Asia Lain Menguat, Kenapa?

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:26 WIB

Petrokimia Gresik Siapkan 219 Ribu Ton Pupuk Subsidi Jelang Musim Tanam

Petrokimia Gresik Siapkan 219 Ribu Ton Pupuk Subsidi Jelang Musim Tanam

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:21 WIB

Harga Barang Elektronik Naik Tajam, Penjualan Pedagang Turun 50 Persen

Harga Barang Elektronik Naik Tajam, Penjualan Pedagang Turun 50 Persen

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:19 WIB

Pelemahan Rupiah Bikin Emas Meroket, Harga Antam Hingga UBS Kompak Meroket!

Pelemahan Rupiah Bikin Emas Meroket, Harga Antam Hingga UBS Kompak Meroket!

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:17 WIB

Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen

Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:01 WIB

Harga Sembako Naik Hari Ini : Cabai Rp88 Ribu, Beras Premium Rp21 Ribu per Kg

Harga Sembako Naik Hari Ini : Cabai Rp88 Ribu, Beras Premium Rp21 Ribu per Kg

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:30 WIB

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:15 WIB

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05 WIB

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43 WIB

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:40 WIB