- Pertamax Turbo, Dexlite, dan Dex naik tajam mulai 18 April 2026.
- Harga Dexlite dan Pertamina Dex meroket hingga Rp9.400 per liter.
- Kenaikan terjadi hanya 17 hari setelah janji Presiden harga tak naik di April.
Suara.com - Kejutan pahit harus ditelan masyarakat tepat di akhir pekan ini. Tanpa aba-aba panjang, PT Pertamina (Persero) resmi mengerek naik harga sejumlah produk Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh SPBU tanah air, efektif mulai Sabtu (18/4/2026).
Langkah "senyap" ini sontak menjadi sorotan tajam. Pasalnya, janji pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga stabilitas harga energi tampaknya hanya kuat bertahan selama 17 hari sejak pernyataan resmi dikeluarkan di pengujung Maret lalu.
Berdasarkan data resmi dari laman mypertamina.id, kenaikan kali ini menyasar jenis BBM berkualitas tinggi (high-end). Tidak tanggung-tanggung, kenaikan harga di wilayah Jakarta dan sekitarnya terpantau sangat signifikan:
- Pertamax Turbo: Melambung menjadi Rp19.400 per liter (naik Rp6.300 dari harga sebelumnya Rp13.100).
- Dexlite: Melonjak ke angka Rp23.600 per liter (naik Rp9.400 dari harga sebelumnya Rp14.200).
- Pertamina Dex: Kini dibanderol Rp23.900 per liter (naik Rp9.400 dari harga sebelumnya Rp14.500).
Meski demikian, Pertamina masih menahan harga untuk jenis Pertamax (Rp12.300/liter) dan Pertamax Green 95 (Rp12.900/liter). Sementara itu, BBM subsidi sejuta umat seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan belum mengalami perubahan harga.
Keputusan ini terasa kontradiktif dengan pernyataan pemerintah sebelumnya. Pada Selasa (31/3/2026), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dengan tegas menyatakan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan agar harga BBM tidak naik demi menjaga daya beli rakyat di tengah tingginya harga minyak dunia.
"Bapak Presiden selalu mengedepankan kepentingan rakyat... Pertamina menyatakan belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun non subsidi," ujar Prasetyo kala itu.
Namun, realita di lapangan berkata lain. Hanya dalam kurun waktu 17 hari sejak pernyataan tersebut, "benteng" pertahanan harga tersebut akhirnya jebol juga. Kenaikan tajam pada kelompok BBM nonsubsidi ini diduga kuat akibat tekanan harga minyak mentah global yang tak kunjung melandai, yang akhirnya memaksa korporasi melakukan penyesuaian guna menjaga kesehatan neraca keuangan.
Kenaikan ini diprediksi akan memicu efek domino bagi pengguna kendaraan mewah dan sektor logistik yang menggunakan mesin diesel modern. Meski Pertalite masih aman di angka Rp10.000, bayang-bayang inflasi dari sektor transportasi nonsubsidi tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional di kuartal kedua tahun ini.